Log in

Lomba Menulis IATEK IMATEK 2019

  • Indonesia merupa negara yang memiliki banyak sumber daya alam, banyak potensi energi terbarukan yang tersebar di seluruh wilayahnya. Berdasarkan data dari RUPTL PLN 2016-2026, besar potensi energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan menjadi listrik melebihi besar kapasitas pembangkit listrik di Indonesia saat ini. Potensi besar tersebut terdiri dari energi matahari, energi angin, energi laut, energi biomassa, energi panas bumi, dan energi aliran air. Jadi, apabila Indonesia dapat memaksimalkan potensi ini, tidak hanya kebutuhan listrik di Indonesia, tetapi bisa juga di ekspor ke negara-negara lainnya. Tentu untuk mencapai titik tersebut diperlukan infrastruktur transmisi energi listring yang cukup, minimal untuk menghubungkan ke seluruh pulau-pulau besar di Indonesia. Dengan begitu, tiap-tiap daerah di Indonesia dapat terlibat dalam mengembangkan potensi energi terbarukan yang dimiliki sumber daya alam tiap wilayahnya masing-masing.

    Namun nyatanya, berdasarkan data dari Outlook Energi Indonesia 2018 dari BPPT, saat ini energi terbarukan yang telah dimanfaatkan kurang dari 15% dari potensi yang ada. Energi terbarukan yang banyak dipakai di Indonesia adalah energi aliran air dengan kapasitas pembangkit lebih dari 4 gigawatt dilanjutkan dengan pembangkit listrik energi panas bumi dan energi matahari. Pembangkit listrik energi terbarukan tersebut pun sekitar 20%-nya merupakan pembangkit listrik off-grid atau pembangkit listrik yang tidak terhubung dengan jaringan listrik nasional. Sementara itu pembangkit listrik tenaga fosil masih sangat banyak digunakan dan mendominasi bauran energi nasional dengan pembangkit listrik tenaga gas dan batubara mengambil bauran paling tinggi dibandingkan sumber energi lainnya. Hal ini terjadi karena batubara dan gas digunakan untuk menyalakan pembangkit listrik besar yang harus andal dalam memenuhi tugasnya dalam menopang beban listrik seluruh rakyat Inodnesia pada jaringan listrik nasional. Selain itu sumber daya tersebut masih banyak tersedia di Indonesia dengan harga yang relatif murah.

    Energi terbarukan tidak akan bisa menggantikan bahan bakar fosil untuk menjadi pembangkit listrik utama di Indonesia, setidaknya sampai ditemukannya penemuan baru yang akan meningkatkan kinerja dari pembangkit pembangkit energi terbarukan. Selain karena masih banyak tersedianya sumber daya alam untuk menjalankan pembangkit listrik tenaga fosil, hal ini juga disebabkan oleh karakteristik dari listrik hasil pembangkit tenaga energi terbarukan yang besarnya tidak bisa selalu tetap. Faktor ketidakpastian alam akan sangat dan selalu mempengaruhi besar listrik yang dihasilkan, seperti misalnya pembangkit listrik tenaga matahari yang besar listriknya sangat dipengaruhi oleh cahaya matahari, pembangkit listrik tenaga air yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air yang dialami saat itu, dan masih banyak lagi. Tetapi, tentu ada pembangkit listrik energi terbarukan yang cukup stabil, yakni seperti pembangkit listrik tenaga panas bumi, karena prinsip kerjanya mirip dengan pembangkit listrik tenaga uap.

    Penggunaan listrik oleh masyarakat tidak selalu sama dalam sehari. Ada jam-jam tertentu dimana konsumsi listrik masyarakat akan tinggi dan jam tertentu dimana konsumsi listrik masyarakat akan rendah. Pada titik konsumsi listrik masyarakat terendah, pembangkit yang digunakan adalah pembangkit berkapasitas besar yang memiliki keandalan yang tinggi sehingga energi listrik yang dihasilkan stabil. Sedangkan pada titik konsumsi listrik masyarakat tertinggi digunakan pembangkit listrik dengan skala yang lebih kecil, hal tersebut agar dapat digunakan lebih fleksibel. Pembangkit listrik terbarukan tidak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik titik konsumsi listrik masyarakat terendah, karena sifatnya yang tidak stabil dan dapat dipengaruhi oleh lingkungannya. Oleh karena itu, dengan teknologi yang tersedia saat ini, penerapan pembangkit listrik energi terbarukan tidak boleh melebihi 5-10% kapasitas pembangkit konsumsi listrik masyarakat terendah agar jaringan listrik di wilayah tersebut tetap stabil.

    Meningkatkan keandalan dan kestabilan sistem pembangkit energi terbarukan selalu menjadi tantangan bagi para peneliti di institusi dan industri yang bergerak di bidang energi. Di Indonesia sendiri banyak penelitian dengan topik yang menunjang pembangkit energi terbarukan. Banyak faktor yang dapat memengaruhi mulaidari teknologi hingga kesadaran masyarkat. Kesadaran, kepemahaman, dan rasa kepemilikan dari masyarakat harus menjadi aspek penting dalam menimbang kesiapan suatu daerah untuk menerima teknologi energi baru dan terbarukan sebagai salah satu solusi meningkatkan kesejahtaraan hidup mereka. Karena pada akhirnya tujuan dari pembangkit ini bukan sekedar disebarkan ke seluruh daerah, melainkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

    Jadi apabila ditanyakan apakah bangsa ini siap menerapkan energi baru terbarukan, maka jawabannya adalah siap. Namun saat ini penerapannya tidak untuk menggantikan pembangkit listrik skala besar (pembangkit pembangkit fosil). Sebelum bisa meningkatkan lebih jauh bauran energi terbarukan, dibutuhkan infrastruktur transmisi listrik yang lebih bagus dari saat ini ke seluruh wilayah di Indonesia, minimal ke pulau-pulau besar di Indonesia. Sedangkan untuk usaha meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia, kesiapan penerapan energi baru dan terbarukan di berbagai daerah di Indonesia sudah lebih dari cukup.

  • PEMBUATAN BIODIESEL DARI KEMIRI SUNAN

     

               Indonesia merupakan negara yang kaya, baik dari segi budaya, bahasa, suku yang beragam, dan tidak luput juga dari sumber daya alam yang berlimpah. Kekayaan alam yang dimiliki negeri ini salah satunya yaitu hasil pertambangan terutama minyak bumi. Tidak dapat dipungkiri bahwa minyak yang dihasilkan dari sisa-sisa fosil yang tertimbun selama bertahun-tahun ini memberikan manfaat yang sangat besar untuk kehidupan kita sehari-hari.  Minyak bumi berperan penting sebagai sumber energi untuk menggerakkan berbagai jenis mesin, bahan baku pembuatan senyawa kimia, dan bahkan minyak bumi dapat menggerakan perekonomian suatu negara. Mengikuti perkembangan zaman, teknologi-teknologi yang semakin canggih dan kebutuhan orang-orang yang kian melonjak membuat minyak bumi harus terus didapatkan dan diproduksi dalam skala besar.

                Akan tetapi, keuntungan besar yang didapatkan tentunya memiliki resiko yang besar pula. Eksploitasi minyak bumi secara berlebih menyebabkan banyak kerusakan di permukaan bumi. Hasil pembakaran minyak bumi menjadi salah satu penyebab terbesar adanya peningkatan gas Karbon Dioksida di Atmosfir yang mengakibatkan pemanasan global. Gas Hidrogen Sulfida(H2S) yang terkandung dalam minyak bumi juga dapat menyebabkan kematian pada orang yang menghirup gas tersebut secara berkala. Mengingat sifat minyak bumi termasuk dalam kategori sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, industri-industri pertambangan harus memproduksi minyak bumi dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan pasar yang kian menanjak.

                Persediaan bahan bakar minyak di Indonesia sendiri diperkirakan sekitar 22 tahun lagi sumber bahan bakar minyak (BBM) akan habis, kecuali ada sumur baru. Oleh karena itu, sudah saatnya paradigma kebijakan energi harus diubah dari dominasi BBM ke bahan bakar nabari (BBN). Bahan bakar alternatif yang bias digunakan yaitu biodiesel.

                Di beberapa daerah di Indonesia sudah mengalami kesulitan dalam bahan bakar minyak, yaitu Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Sorong, dan Merauke. Masalah ini yang menjadi alasan utama untuk kita mencari sumber energi alternatif.

    Biodiesel secara umum adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari bahan terbarukan atau secara khusus merupakan bahan bakar mesin diesel yang terdiri atas ester alkil dari asam-asam lemak. Biodiesel dapat dibuat dari minyak nabati, minyak hewani atau dari minyak goreng bekas/daur ulang. Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar mesin diesel yang ramah lingkungan dan dapat diperbarui (renewable). Biodiesel tersusun dari berbagai macam ester asam lemak yang dapat diproduksi dari minyak tumbuhan maupun lemak hewan. Minyak tumbuhan yang sering digunakan antara lain minyak sawit (palm oil), minyak kelapa, minyak jarak pagar dan minyak biji kapok randu, sedangkan lemak hewani seperti lemak babi, lemak ayam, lemak sapi, dan juga lemak yang berasal dari ikan (Wibisono, 2007; Sathivel, 2005).

                Buah kemiri sunan (BKS) terdiri atas sabut atau husk, kulit biji atau cangkang dan inti biji atau kernel, biji atau kernel inilah yang mengandung minyak kasar yang cukup tinggi (>50 %). Inti dari buah kemiri sunan mampu menghasilkan minyak sebesar 56% (Vassen dan Umali, 2001 dalam Anomin, 2009). Untuk mendapatkan minyak kasar kemiri sunan (MKKS), kernel biji harus diperah terlebih dahulu, setelah itu baru diekstraksi. Hasil ekstraksi ini berupa minyak cairan bening berwarna kuning dan bungkil ekstraksi. Beberapa permasalahan dalam memproduksi MKKS ini diantaranya adalah : (1) Mutu atau kualitas biji sangat menentukan rendemen minyak yang diperoleh, sehingga diperlukan penanganan pasca panen yang sesuai, (2) Belum tersedia alat pengupas cangkang, sehingga pengupasan masih dilakukan secara manual dengan potensi yang sangat rendah dan membahayakan bagi pekerja karena biji beracun sehingga diperlukan penanganan biji secara khusus, (3) Belum tersedianya alat pengepres yang memadai, penggunaan alat pengepres jarak pagar belum mampu memerah minyak secara maksimal. Hasil penelitian pendahuluan terhadap warna kernel kemiri sunan yang dipres dengan alat press mini Balittri-2 diperoleh bahwa rendemen MKKS yang dihasilkan berbeda, yaitu : (1) biji dengan warna kernel coklat kehitaman menghasilkan minyak kasar dengan redemen 24,72 % dengan warna minyak coklat kehitaman, (2) kernel berwarna coklat diperoleh sebanyak 37,22 % dengan warna minyak coklat, (3) kernel berwarna coklat keputihan menghasilkan minyak kasar 46,73 % dengan warna minyak coklat kekuningan, (4) kernel berwarna putih menghasilkan minyak kasar sebanyak 52,17 % dengan warna minyak kuning jernih, dan (5) biji tanpa dikupas (dipres dengan cangkangnya) diperoleh rendemen minyak sebanyak 29,81 % dengan warna minyak kasar coklat kekuningan. Dengan hasil yang demikian, biji yang menghasilkan kernel berwarna putihlah yang harus diperoleh untuk menghasilkan rendemen MKKS paling tinggi.

                Pembuatan Biodisel Minyak kasar kemiri sunan dari hasil pengepresan, sebelum diproses menjadi biodiesel disaring terlebih dahulu sehingga diperoleh MKKS yang berwarna kuning jernih. Minyak kemiri sunan yang sudah jernih selanjutnya dianalisis di laboratorium untuk mengetahui nilai asam lemak bebasnya ALB. Untuk minyak dengan nilai ALB >3,0 di proses dengan pengolahan metoda I (transesterifikasi dua tahap), sedang yang nilai ALB-nya < 3,0 dengan pengolahan metoda II (transesterifikasi satu tahap).

                Dengan banyaknya tanaman yang bisa dijadikan bahan bakar nabati seperti tanaman kemiri sunan, hal ini dapat mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sehingga jumlah konsumsi terhadap bahan bakar minyak akan menurun. Dan tanah pertiwi yang kita pijak tidak lagi disakiti secara terus menerus, dan diharapkan perkembangan biodiesel ini akan terus meningkat sehingga bukan lagi sebagai energi alternatif tetapi energi utama.

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/?p=9693

    file:///C:/Users/acer/Downloads/PROSES_PEMBUATAN_BIODISEL_DARI_MINYAK_KA.pdf

    https://gapki.id/news/3250/perkembangan-biodiesel-di-indonesia-dan-terbesar-di-asia

    http://www.pengertianku.net/2015/07/pengertian-biogas-dan-biodiesel-dilengkapi-manfaatnya.html

  • Penambangan Batu bara seperti dua sisi uang logam

               Sumber energi yang banyak digunakan untuk memasak,kendaraan bermotor dan industri berasal dari minyak bumi ,gas alam,dan batubara .Ketiga jenis bahan bakar tersebut berasal dari pelapukan sisa –sisa organisme sehingga disebut bahan bakar fosil .Minyak bumi dan gas alam berasal dari jasad renik,tumbuhan dan hewan yang mati

                 Yang sedang menjadi perbincangan baru-baru ini yaitu energi batu bara yang mana mempunyai dampak yang merugikan bagi penduduk yang berada disekitar kawasan penambangan  dan disisi lain menguntungkan bagi pengusaha,karena kegiatan penambangan bisa membuat devisa negara bertambah. Dimasa yang akan datang batubara menjadi salah satu sumber energi alternatif potensial untuk menggantikan potensi minyak dan gas bumi yang semakin menipis

                Batubara yang kita kenal merupakan sumber energi yang terpenting untuk pembangkitan listrik dan berfungsi sebagai bahan bakar pokok untuk produksi baja dan semen ,dan juga merupakan sumber energi yang sangat besar

               Indonesia memiliki cadangan batubara yang besar dan menduduki posisi ke -4 di dunia sebagai negara pengekspor batubara.Cadangan batubara terbesar di indonesia terdapat dipulau kalimantan  dan pulau sumatera .Sedangkan dalam jumlah kecil batubara terdapat di jawa barat,jawa tengah,papua dan sulawesi

                  Cara mendapatkan batubara ialah dengan penambangan ,sebelum melakukan penambangan  ,tahap yang dilakukan yaitu kegiatan eksplorasi ,proses tersebut biasanya mencangkup pembuatan peta geologi  dari daerah yang bersangkutan ,kemudian melakukan survei geokimia dan geofisika,yang dilanjutkan dengan pengeboran eksplorasi ,proses tersebut memungkinkan diperolehnya gambaran yang tepat dari daerah yang akan dikembangkan  daerah tersebut hanya akan menjadi suatu tambang jika daerah  tersebut memiliki cadangan batubara yang cukup banyak dan mutu yang memadai sehingga batubara dapat diambil secara ekonomis ,setelah mendapatkan kepastian hal tersebut ,maka dimulailah kegiatan penambangan

                Pengembangan pengusahaan pertambangan batubara secara ekonomis telah mendatangkan hasil yang cukup besar,baik sebagai pemenuhan kebutuhan dalam negeri maupun sebagai sumber devisa,bersamaan dengan itu ,eksploitasi besar-besaran terhadap batubara secara ekologis sangat memprihatikan karena menimbulkan dampak yang mengancam kelestarian fungsi lingkungan hidup

                Kegiatan penambangan batubara dianggap seperti uang logam yang memiliki dua sisi yang saling berlawanan ,yaitu sebagai sumber kemakmuran sekaligus perusak lingkungan yang sangat potensial.Sebagai sumber kemakmuran ,sektor ini mendukung pendapatan negara selama bertahun –tahun .Sebagai perusak lingkungan ,pertambangan batubara terbuka dapat mengubah secara total baik iklim dan menipisnya lapisan tanah akibat galian ,serta hilangnya vegetasi secara tidak langsung menghilangkan fungsi hutan,selain itu penambangan batubara juga bisa mengakibatkan perubahan sosial ekonomi masyarakat disekitar kawasan penambangan

          

        Dampak penambangan batu bara telah dirasakan  salah satunya ,oleh penduduk di pulau kalimantan,dimana dulunya daerah  tersebut adalah daerah dengan gunung yang subur dan hasil pertanian yang melimpah ,kini setelah dibangun PLTU ,situasinya sangat berbeda ,masyarakat kesulitan dengan air bersih ,untuk mendapatkan air bersih pun harus jalan kaki sekitar 1,5 km untuk mendapatkannya,selain itu telah banyak korban jiwa akibat lubang galian  batubara yang tidak di reklamasi sehingga menyebabkan korban jiwa yang berjatuhan ,selain itu penambangan batubara berakibat dampak terhadap pencemaran lingkungan sekitar

              Upaya pencegahan dan penanggulangan terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pertambangan batubara perlu dilakukan tindakan-tindakan tertentu  sehingga akan dapat mengurangi pencemaran akibat aktivitas pertambangan batubara dan memperbaiki kerusakan lingkungan yang telah terjadi di sekitar pertambangan

              Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan ,Pemerintah mempunyai peran penting dalam mengatasi masalah yang terjadi pada penambangan batubara disekitar kawasan daerah batubara  ,tindakan-tindakan yang dapat dilakukan pemerintah yaitu antara lain .1) dengan metode pendekatan teknologi , dengan orientasi teknologi preventif yaitu pengembangan sarana jalan/jalur khusus untuk pengangkutan batubara sehingga akan mengurangi keruwetan masalah transportasi .Pejalan kaki akan terhindar  dari ruang udara yang kotor ,dengan menggunakan maser debu agar meminimalkan resiko terpapar /terekspose oleh debu batubara,2) pendekatan lingkungan  yang ditunjukan bagi penataan lingkungan sehingga akan terhindar dari kerugian yang ditimbulkan akibat kerusakan lingkungan ,upaya reklamasi dan penghijauan kembali bekas penambangan batu bara dapat mencegah perkembangbiakan nyamuk malaria ,dikhawatirkan bekas lubang/kawah batu bara dapat menjadi perindukan nyamuk,3)pendekatan administratif  yang mengikat semua pihak dalam kegiatan pengusahaan penambangan batubara tersebut untuk mematuhi ketentuan –ketentuan yang berlaku.,4)pendekatan edukatif ,kepada masyarakat yang dilakukan serta dikembangkan untuk membina dan memberikan penyuluhan /penerangan perilaku  dan membangkitkan kesadaran untuk ikut memelihara kelestarian lingkungan

             Dengan metode dan tindakan –tindakan tersebut diharapkan agar dapat meminimalisir pencemaran lingkungan yang terjadi dikawasan daerah penambangan batubara,dan juga diharapkan agar tidak membuat kerugian terhadap penduduk yang tinggal dikawasan batubaraGet The Job

  • Pencegahan Konversi Bumi Menjadi Venus

    Bahan bakar transportasi, obat – obatan, kosmetik, karet, dan berbagai macam kebutuhan manusia sehari – hari memiliki satu tumpuan yang sama yakni minyak bumi. Campuran berbagai macam hidrokarbon dan pengotornya yang terbentuk dari berjuta – juta tahun yang lalu ini merupakan salah satu peninggalan yang paling krusial dalam kemajuan peradaban manusia. Fokus penggunaan dari minyak bumi adalah sebagai sumber energi, sebenarnya terdapat sumber energi lain yang digunakan seperti batubara dan kayu namun minyak bumi dengan cepat dapat mengalahkan popularitas dari sumber energi lain karena penggunaan minyak bumi memiliki fleksibelitas yang jauh lebih tinggi, berikut tabel data penggunaanya : 

     


    1Includes fuel ethanol in gasoline and biodiesel in distillate fuels.
    2Others includes other liquids not included in the table.
    Note: Sum of individual products may not equal total because of independent rounding.
    Source: U.S. Energy Information Administration, Petroleum and Other Liquids—Product Supplied, as of August 31, 2018

     

    Tabel ini hanya merupakan data untuk satu negara saja, bisakah dibayangkan seberapa penggunaan untutk seluruh dunia ? tentunya sangat amat banyak , maka dari sini secara langsung dapat dilihat bahwa penggunaan minyak bumi ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, layaknya hidup tidak semua bisa berjalan dengan lancar maka penggunaan secara massal ini  selain sangat membantu manusia dalam kehidupan sehari – hari , akan memberikan dampak negatif pada kehidupan manusia. Seperti yang diketahui dampak negatif utama yang muncul adalah lepasnya emisi – emisi gas rumah kaca (Greenhouse Gases/GHG) seperti CO2 dan CH4. Berikut data – data yang menunjukkan jumlah dari emisi GHG (https://ourworldindata.org/co2-and-other-greenhouse-gas-emissions) :

     

     
     
     
     
     
     
    Dapat dilihat dari grafik tersebut bahwa GHG yang paling banyak diproduksi adalah CO2. GHG secara sederhana adalah gas yang dapat menyerap dan meradiasikan panas, sebenarnya GHG ini turut berperan dalam menjaga kestabilan suhu bumi, tanpa GHG suhu bumi akan lebih dingin daripada kondisi sekarang. Namun terlalu banyaknya diproduksi GHG, memunculkan masalah global dunia yang populer yakni Pemanasan Global (Global Warming). Fenomena pemanasan global adalah terjadi kenaikan suhu rata – rata bumi yang diakibatkan adanya kandungan GHG pada atmosfer bumi sehingga panas akan terperangkap di atmosfer. Dari grafik juga dapat dilihat sumber – sumber CO2 dimana sebagian besar pada sektor – sektor CO2 muncul karena penggunaan bahan bakar fossil khususnya minyak bumi. Pemansan global kadang dianggap remeh oleh orang – orang awam. Sebagai perbandingan untuk mengetahui efek dari GHG di atmosfer, planet lain yang dapat dilihat adalah Venus. Venus memiliki ukuran yang kurang lebih sama dengan bumi, bahkan strukturnya hampir sama dengan bumi maka orang awam tentunya berpikir bahwa venus akan kurang lebih sama seperti bumi. Salah satu perbedaan yang paling mencolok dari Venus dan Bumi adalah kandungan gas pada atmosfernya. Seperti yang kita ketahui atmosfer bumi sebagian besar diisi oleh N2 dan O2 namun pada Venus atmosfernya mengandung sebagian besar CO2 dan sedikit N2, karena ini suhu pada Venus jauh lebih tinggi daripada bumi dan bahkan lebih panas daripada Merkurius yang merupakan planet terdekat dengan matahari, bahkan logam yang ada pada bumi akan menjadi lelehan di Venus.

    (Sumber https://serc.carleton.edu/eslabs/carbon/3a.html)

     

    Tentunya dengan suhu setinggi itu makhluk hidup di bumi tidak akan bisa hidup, maka harus dilakukan pencegahan untuk menghentikan “konversi” Bumi menjadi Venus. Solusi yang paling sering ditawarkan dalam pengurangan emisi ini adalah menghentikan penggunaan bahan bakar fossil terutama minyak bumi, namun secara praktisnya tidak mungkin untuk langsung mengubah sumber daya energi utama dunia dengan mudah karena dari data kegunaan minyak bumi tadi sudah terlihat betapa eratnya ikatan minyak bumi dengan kehidupan manusia,  selain itu juga belum ditemukannya teknologi dan sumber daya lain yang dapat menggantikan minyak bumi secara efektif. Hal realistis yang bisa dilakukan disini adalah harus dimulai penggunaan sumber daya alam lain seperti biomassa yang lebih ramah lingkungan, dapat juga dilakukan blending antara sumber daya baru ini dengan minyak bumi untuk meminimalisir penggunaan minyak bumi. Tetapi tentunya menggunakan sumber daya yang berbeda akan menghasilkan produk dengan kualitas berbeda juga.

    Solusi kedua untuk menangani masalah ini adalah melalui implementasi teknologi CCS (Carbon Capture and Storage). Konsep dari teknologi CCS ini adalah menyimpan CO2 sama seperti siklus alam karbon dimana karbon secara alami akan tersimpan di bawah tanah. Teknologi CCS ini adalah teknologi untuk “menangkap” emisi CO2 sebanyak  yang dihasilkan dari penggunaan bahan bakar fosil di industri untuk mencegah emisi tersebar ke atmosfer. Secara sederhana teknologi CCS ini memiliki tiga tahap utama. Tahap pertama Capture dilakukan pemisahan antara CO2 dan produk yang akan dipakai dengan metode seperti pre-combustion capture, post-combustion capture, dan oxyfuel combustion. Tahap kedua Transport adalah dilakukan pengangkutan CO2 tersebut bisa melalui pipa maupun kapal untuk menuju tahap ketiga Storing dimana dilakukan penyimpanan CO2 dalam bentuk cair dibawah laut pada daerah yang sudah terpilih yang berada di bawah permukaan bumi. Tahap Storing harus dilakukan dengan tepat karena bocornya storage CO2 dalam tanah maupun pemilihan tempat storage yang tidak tepat dapat menyebabkan tercemarnya lingkungan sekitarnya oleh CO2 yang dapat menimbulkan masalah – masalah baru. Pengimplementasian dari CCS dapat juga dipakai untuk Enhanced Oil Recovery (EOR), Enhanced Gas Recovery (EGR) dan Enhanced Coalbed Methane Recovery (ECBM). Pada EGR, CO2 tentunya “lebih berat” daripada gas alam sehingga akan lebih mudah mengekstraksi gas alam, pada ECBM CO2 lebih mudah teradsorpsi pada batubara sehingga gas alam (CH4) akan lebih mudah untuk keluar, sedangkan pada EOR CO2 dapat diinjeksikan dengan atau tanpa air untuk meningkatkan produksi minyak, sehingga produksi minyak bumi akan meningkat.

    CCS yang telah dibahas ini diimplementasikan untuk CO2 industrial namun seperti yang kita lihat dari grafik tadi salah satu sektor yang menyumbangkan CO2 adalah transportasi, yakni melalui gas buang hasil pembakaran bahan bakarnya, maka dari itu CO2 dari gas buang ini harus dicegah untuk tersebar ke atmosfer, maka dengan konsep yang sama dapatlah diciptakan teknologi CCS baru yang digunakan untuk menampung CO2 hasil pembakaran pada storage baru yang dapat diinstal pada kendaraan, tentunya jika terlalu banyak CO2 yang ditampung kendaraan akan menjadi lebih berat maka harus ada station gas CO2 , sehingga CO2 dari kendaraan dapat ditransport dan dilanjutkan ke tahap transportation dan storing. Mungkin hal ini terlihat tidak mungkin karena jika dipikirkan akan memerlukan banyak biaya untuk memodifikasi kendaraan untuk dapat memiliki sebuah storage dan teknologi untuk menampung CO2 dan pendirian station – station yang harus ada tiap beberapa km pada kota serta biaya untuk peralatan dan pegawai dan lain - lain, namun pengimplementasian teknologi CCS merupakan biaya yang kecil jika dibandingkan dengan hancurnya planet tempat tinggal kita.

  • PENGARUH STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR UMUM (SPBU) TERHADAP KESEHATAN DISEKITARNYA