Log in

Lomba Menulis IATEK IMATEK 2019

  • Nama    :   Siska Erliana Br S. Meliala
    NIM       :   03031281722035
    Kelas     :   A    -     Inderalaya

    DAMPAK NEGATIF DARI PENGGUNAAN MINYAK BUMI

    dampak terhadap lingkungan

                Pencemaran udara di kota - kota besar telah menyebabkan turunnya kualitas udara sehingga mengganggu kenyamanan lingkungan bahkan telah menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Menurunnya kualitas udara tersebut terutama disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil yang tidak terkendali dan tidak efisien pada sarana transportasi dan industri yang umumnya terpusat di kota-kota besar, disamping kegiatan rumah tangga dan kebakaran hutan. Hasil penelitian dibeberapa kota besar (Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya) menunjukan bahwa kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran udara.

                Hasil penelitian di Jakarta menunjukan bahwa kendaraan bermotor memberikan kontribusi pencemaran CO sebesar 98,80%, NOx sebesar 73,40% dan HC sebesar 88,90% (Bapedal,1992).Secara umum, kegiatan eksploitasi dan pemakaian sumber energi dari alam untuk memenuhi kebutuhan manusia akan selalu menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (misalnya udara dan iklim, air dan tanah). Berikut ini disajikan beberapa dampak negatif penggunaan energi fosil terhadap manusia dan lingkungan:

    1. Pemanasan Global

    Penggunaan minyak bumi untuk bahan bakar kendaraan ataupun dalam perindustrian yang mengeluarkan karbon dioksida dapat menyebabkan terjadinya pencemaran udara. Selain hal tersebut, karbon dioksida yang dihasilkan juga dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global yang nantinya juga akan mempengaruhi lapisan ozon. Pemanasan global dari tahun ke tahun semakin parah, hal ini dibuktikan dengan semakin meningkatnya masyarakat dalam menggunakan kendaraan bermotor. 

    1. Pencemaran Air

    Proses pembentukan minyak bumi sering terjadi di daerah sekitar pantai. Sedangkan pendistribusiannya dilakukan dengan ditampung dengan kapal khusus untuk menampung minyak bumi. Akan tetapi ada beberapa kejadian yang menyebabkan kapal yang menampung minyak bumi tersebut mengalami kebocoran bahkan sampai terjadi ledakan yang tidak terduga, hal ini tentunya akan menyebabkan minyak yang ditampung di kapal tersebut menjadi tumpah ke laut dan akan mengganggu ekosistem air laut. Tidak hanya itu, selain mengganggu ekosistem air laut juga mencemari perairan disekitarnya yang dapat menyebabkan keanekaragaman hayati laut menjadi banyak yang mati. Maka dari itu perlu diperhatikan lagi akan keselamatan ketika membawanya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

    1. Pencemaran Udara

    Dalam setiap harinya kita pasti menemukan banyak orang menggunakan kendaraan bermotor, entah itu roda 2 ataupun roda 4. Asap yang dikeluarkan dari kendaraan tersebutlah yang nantinya akan membuat udara menjadi tercemar dan menjadi udara yang tidak sehat.

    1. Mengganggu Kesehatan

    Dampak selanjutnya masih berhubungan dengan pembahasan nomer 3. Asap yang berasal dari kendaraan ataupun pabrik industri akan menyebabkan gangguan kesehatan mengetahui asap tersebut mengandung zat-zat yang berbahaya. Selain bagian tubuh dalam yang mengalami gangguan, bagian luar tubuh seperti kulit akan mengalami iritasi apabila terlalu sering terkena dari asap tersebut.

    1. Lahan Tanah Menipis

    Batu bara yang diolah menjadi bahan bakar biasanya didapatkan dari tanah yang subur. Sehingga hal ini menyebabkan tanah yang dipergunakan dalam bidang pertambangan tersebut nantinya tidak akan bisa lagi dimanfaatkan dalam bidang pertanian ataupun penanaman pohon-pohon dalam jangka waktu yang tertentu. Hal ini disebabkan karena tanah yang dijadikan sebagai pertambangan tersebut sudah kehilangan kesuburannya dan untuk menjadikan tanah tersebut menjadi subur lagi tentunya membutuhkan waktu yang lama.

    1. Mempengaruhi Iklim

    Udara yang telah tercemar oleh gas-gas berbahaya nantinya akan mempengaruhi iklim dunia. Dimana gas-gas tersebut nantinya akan terkumpul dalam lapisan atmosfer yang lama kelamaan akan mengendap disana. Hal ini tentunya akan membuat lapisan ozon menjadi tidak stabil dan terjadinya perubahan iklim seperti musim hujan yang sangat lama serta musim panas yang sangat ekstream. Hingga saat ini panas bumi semakin meningkat karena kejadian tersebut dan yang ditakutkan nantinya dimasa depan adalah ketika panas bumi mencapai 50 derajat Celcius sehingga kekeringan banyak terjadi dimana-mana dan tentunya hal ini akan menimbulkan banyak kematian karena dehidrasi.

    1. Hujan Asam

    Pada proses pembakaran minyak bumi tentunya akan melepaskan gas yang berupa CO2, NO2 dan SO2 (sulfur) yang dari ketiga gas tersebut nantinya akan menyebabkan terjadinya hujan asam. Nitrogen oksida yang melepaskan gas nitrogen nantinya di udara akan menggumpal kemudian menjadi asam nitrat yang menyebabkan terjadinya hujan asam. Sedangkan gas sulfur oksida yang melepaskan sulfur ke udara bebas nantinya akan membentuk asam sulfat yang juga dapat menyebabkan terjadinya hujan asam. Apabila nitrogen oksida dan sulfur oksida bercampur dalam udara dan membentuk awan yang memiliki asam kuat maka beberapa jam kedepan akan terjadi hujan asam. Hujan asam ini memiliki tingkat keasaman yang tinggi sehingga dapat menyebabkan besi menjadi mudah berkarat, bangunan menjadi cepat rusak dan apabila terkena kulit akan menimbulkan iritasi.

                Dari uraian diatas dapat kita ketahui bahwa banyak dampak negatif dari penggunaan minyak bumi. Terlebih lagi apabila dalam penggunaannya kita melakukan secara berlebihan. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan sehari hari kita tidak bisa terlepas dari barang barang yang penggunaannya bergantung pada minyak bumi. Jadi , cara lain untuk mengatasinya ialah dengan cara mencari alternatif lain pengganti minyak bumi.

  • Indonesia memiliki sumber minyak dan gas bumi yang sangat melimpah, dengan melimpahnya sumber daya yang ada dilakukanlah eksploitasi secara besar – besaran dan dilakukan terus menerus. Dengan teknologi yang ada, kegiatan eksploitasi dapat dilakukan secara terus menerus dan tidak menutup kemungkinan cadangan sumber daya yang ada akan habis. Dalam hal ini banyak sekali efek dari ekspolitasi minyak dan gas bumi seperti rusaknya lingkungan hidup. Saat ini minyak mentah yang sudah menjadi barang yang siap pakai masih sangat diperlukan dalam kehidupan sehari – hari, tetapi perlu diingat bahwa menggunakan sumber daya ini mengakibatkan polusi, dengan jumlah kendaraan yang semakin meningkat penggunaan bahan bakarnya pun akan semakin tinggi, timbulah polusi yang mencemari lingkungan.

    Banyak perusahaan pembangkit listrik di Indonesia yang masih memanfaatkan pembakaran batu bara untuk menghasilkan uap yang digunakan untuk menggerakan turbin. Dengan memanfaatkan batu bara akan menghasilkan polutan – polutan yang sangat berbahaya bagi lingkungan seperti SO2(Sulfur Dioksida) , SO3(Sulfur Trioksida), NOX(Nitrogen Oksida), CO(Carbon Monoksida), CO2(Carbon Dioksida) dan fly ash (mengandung logam seperti mercury, timbal, tembaga, arsenic, berilium). Dengan asap yang dihasilkan keluar melalui cerobong yang tinggi, polutan – polutan tersebut terbawa angin dengan radius yang jauh. Polutan ini sangat berbahaya bagi masyarakat disekitarnya karena dapat mengakibatkan gangguan saluran pernafasan bahkan kematian. Pemanfaatan minyak bumi dan batu bara sebagai bahan bakarnya bisa menekan biaya produksi, tetapi akan sangat berbahaya bagi lingkungan.

    Eksploitasi minyak bumi di laut yang dilakukan secara terus menerus dapat mencemari laut, minyak yang bocor yang diakaibatkan terjadinya kecocoran saat pengeboran atau kapal yang mengangkut minyak hasil pengeboran mengalami kebocoran, tumpahan minyak terdapat dua jenis yaitu minyak yang larut dalam air dan yang mengapung diatas permukaan laut. Minyak yang mengapung di air laut ini yang berbahaya bagi ekosistem dilaut karena akan mengurahi intensitas cahaya matahari masuk ke bawah laut dan juga membuat laut berwarna hitam.

    Perlunya energi terbarukan dalam kegiatan industri untuk menghindari pencemaran yang begitu parah sangat dibutuhkan oleh semua Negara termasuk Indonesia. Adapun energi terbarukan yang bisa kita manfaatkan seperti angin, matahari, panas bumi, biofuel, gelombang air laut. Energi terbarukan dapat digunakan secara terus menerus dan jumlahnya tidak terbatas. Penggunaan energi terbarukan tidak memiliki polutan yang berbahaya bagi lingkungan. Walaupun biaya produksi yang dibutuhkan cukup besar, tetapi dapat digunakan dengan jangan waktu yang sangat lama. Perlunya ketegasan pemerintah untuk mengambil kebijakan untuk mengurangi penggunaan energi tak terbarukan dan membantu dalam hal penggunaan energi terbarukan yang sangat ramah lingkungan.

    Bisa kita bayangkan jika Negara ini menggunakan energi terbarukan seperti pembangkit listrik yang menggunakan panas bumi, angin dan matahari. Kendaraan menggunakan bahan bakar listrik dan tidak ada polusi yang dihasilkan, betapa segarnya udara yang kita hirup sehari – hari. Karena banyak hasil ekploitasi minyak bumi yang tidak dilakukan penghijauan kembali, yang berakibat kerusakan lingkungan dan lingkungan tidak bisa digunakan sama sekali karena banyak mengandung senyawa – senyawa beracun bagi tumbuhan dan manusia. Maka dari itu energi terbarukan sangatlah menguntungkan dan merupakan terobosan yang sangat baik dalam dunia indsutri, tinggal bagamaina kita mengubah pikiran setiap pelaku industri yang masih menggunakan energi tak terbarukan menjadi menggunakan energi terbarukan supaya terciptanya udara yang sehat dan masyarakat di seklilingnya pun menjadi lebih produktif karena tidak terganggu oleh polusi.

     

  •  

    FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA IMPOR MINYAK BUMI DAN PENANGANANNYA

     


                                                                         sumber: https://www.pngdownload.id/png-rcz1uu/

     

    Minyak bumi dapat dikatakan sebagai hal yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia. Dengan berbagai macam jenis dan kegunaan tentu saja kebutuhan minyak bumi sangat tinggi setiap waktunya. Namun, tidak mungkin suatu negara mampu untuk memenuhi kebutuhan minyak bumi sendiri. Untuk dapat memenuhi kebutuhan akan minyak bumi tersebut tentu saja ada cara lain, salah satunya adalah dengan impor dari negara lain. Indonesia merupakan salah satu negara yang tinggi akan kebutuhan minyak bumi. Kebutuhan minyak bumi Indonesia meningkat dari tahun ke tahunnya. Indonesia dapat mengimpor sekitar 1,6 juta barel per hari. Namun,  ketika suatu negara melakukan impor, ada satu hal yang sebenarnya menjadi kendala besar, yaitu harga yang tidak menentu. Pada sewaktu-waktu harga minyak dunia dapat meningkat yang berimbas pula pada harga olahan minyak bumi. Dengan kata lain harga impor juga akan meningkat.

    Ada beberapa faktor yang sebenarnya sangat mempengaruhi impor minyak bumi. Faktor pertama adalah kuat atau lemahnya permintaan terhadap minyak dunia. Di era revolusi industri 4.0 penggunaan mesin dan teknologi bukanlah hal yang tabu. Inilah yang menjadi sebab permintaan minyak dunia semakin tinggi.Setelah industrialisasi terjadi dan ketika pertumbuhan ekonomi bagus, penjualan kendaraan bermotor tentunya akan terus meningkat. Padahal penggunaan kendaraan bermotor saat ini sebagian besar masih membutuhkan bahan bakar minyak. Jika hal ini terjadi, maka tentunya harga minyak dunia akan naik bersama dengan peningkatan permintaan. Faktor lain yang mungkin mempengaruhi kenaikan minyak bumi di dunia adalah masalah transportasi.Transportasi yang sering kali tersendat, dapat mengakibatkan harga minyak dunia menjadi lebih tinggi.Karena, untuk dapat melakukan transportasi dengan lancar diperlukan hal-hal seperti biaya, tenaga ahli dalam pengangkutan, dan yang terpenting adalah alat transportasi.Selain kedua faktor diatas, terdapat faktor yang sangat mempengaruhi kenaikan harga minyak dunia, yaitu adalah negara yang mengekspor minyak dunia itu sendiri.Keadaan di dalam dan di luar negara tersebut sangat mempeengaruhi harga minyak dunia.Jika negara tersebut sedang berada dalam kondisi ekonomi yang stabil atau cenderung meningkat, tentu saja harga minyak dunia dapat dikendalikan.Namun, jika keadaan di negara tersebut sedang mengalami kondisi ekonomi yang tidak stabil dan cenderung rentan, maka dapat dipastikan bahwa harga minyak dunia dapat melonjak drastis.

     

    Sebenarnya, negara-negara yang mengimpor minyak dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan minyak di negaranya, dapat melakukan cara lain untuk menekan pengeluaran yang berlebihan atas permintaan olahan minyak bumi oleh warga negaranya.Yaitu, dengan cara menggunakan energi alternatif.Dewasa ini, banyak nya para peneliti yang mencari sumber energi alternatif yang dapat digunakan untuk menggantikan kedudukan daripada minyak bumi yang persediaannnya menurun dari waktu ke waktu.Salah satu contoh sumber daya alternatif yang dapat digunakan adalah biodiesel dan biomassa. Produk ini dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan kedudukan bensin dan solar, sehingga kebutuhan akan olahan minyak bumi pun dapat dikendalikan.Selain itu, alasan dari menggunakan energi alternatif adalah agar devisa negara dapat meningkat, apabila produksi dari energi alternatif dapat diekspor ke negara lain.Namun, alasan terpenting kenapa kita harus bisa meminimalisir penggunaan dari olahan minyak bumi adalah agar generasi penerus dapat menikmati juga olahan minyak bumi dan tidak mengalami krisis energi.

     

  •  

    Ilustrasi dampak pertambangan batubara terhadap lingkungan di Kalimantan Timur. (Foto: bumikalimantan.com) Abdullah Naim, JATAM Kaltim

    Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Berbagai macam agama, suku, adat istiadat, dan budaya berbaur bersatu di Indonesia. Keanekaragaman hayati yang didukung dengan kekayaan alam yang melimpah menjadikan Indonesia negeri yang kaya. Sumber daya alam terutama batu bara, minyak bumi, dan gas alam tersebar di sepanjang wilayah negara Indonesia ini. Ada banyak sekali industri-industri yang berkembang dan membuat pabriknya di wilayah Indonesia, Salah satu industri yang menjadi pemasok devisa negara yaitu industri minyak bumi dan gas. Akan tetapi, pemanfaatan sumber daya alam ini mengesampingkan kemakmuran rakyat selama ini.

    Pemerintah melalui Presiden mendeklarasikan membangun pembangkit listrik berkapasitas 35.000 MW yang menandakan kemajuan bagi bangsa Indonesia dengan pembangunan pembangkit listrik yang akan menerangi seluruh wilayah Indonesia sampai ke pelosok negeri sekalipun. Tapi, dibalik kemajuan pembangunan Indonesia ada permasalah besar yang sedang dialami Indonesia. Salah satu bahan utama pembangkit listrik adalah batu bara. Batu bara itu sendiri adalah sisa-sisa makhluk hidup yang mengendap selama ribuan tahun dan membentuk batuan-batuan. Negara ini memiliki pasokan batu bara yang sangat banyak terutama di Kalimantan dan Sumatera. Eksploitasi batu bara semakin terus meningkat seiring dengan rencana pembangunan pembangkit listrik. Mungkin pilihan yang tepat bagi pemerintah untuk memakmurkan rakyatnya tetapi tidak dengan rakyat sekitar pembangkit maupun area tambang yang terkena imbas perusakan lingkungan dari tambang batu bara.

    Menurut data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), produksi batu bara tahun 2018 mencapai 548,58 juta ton. (Tulisan ini juga dimuat di www.mbisnis.comoleh Lucky Leonard). Batu bara akan terus menjadi sumber utama untuk kebutuhan PLTU. Berbagai macam keluhan maupun protes yang dilakukan masyarakat seperti yang terjadi di Jambi, sungai untuk bercocok tanam tercemar batu bara, lokasi tambang yang berjarak 500 meter lama kelamaan semakin mendekati rumah warga. Di Kalimantan Timur, lubang bekas galian tambang belum semuanya di reklamasi sehingga menyebabkan hilangnya korban jiwa yang notabene anak anak yg berjumlah 24 orang. Di Cilacap, ekspansi PLTU menimbulkan konflik lahan dan juga warga harus terpapar dampak limbah dari pengolahan batu bara itu sendiri.

    Sudah saatnya ada solusi lain yang bisa ditawarkan ke masyarakat. Tidak ada lagi keluhan maupun penolakan hingga menyebabkan nyawa melayang. Pengurangan produksi batu bara patut diperhitungkan terlebih banyak dampak buruk yang dirasakan oleh masyarakat. Salah satu solusinya adalah peningkatan produksi gas alam. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga akhir 2017, bahan bakar pembangkit listrik yang berasal dari gas bumi atau alam hanya sebesar 24,82 % Sedangkan untuk batu bara melebihi angka 50 %. Ini mengindikasian jika Indonesia masih bergantung dengan batu bara padahal berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh General Electric, jumlah simpanas gas alam di Indonesia lebih banyak lima kali lipat dari simpanan sumber daya minyak buminya. Kurang lebih ada 157,14 triliun kaki kubik (TCF) jumlah gas yang telah terdeteksi.( Tulisan ini juga dimuat di www.geologinesia.com/2017/10/pemanfaatan-gas-alam-di-indonesia.html?m=1). Belum lagi baru-baru ini sebuah perusahaan asal spanyol, repsol menemukan cadangan gas terbesar kelima di dunia. Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengatakan, “ cadangan gas yang ditemukan diperkiran mencapai 2 triliun kaki kubik (TCF)”.

     Bukan tidak mungkin gas alam akan menjadi sumber utama pembangkit listrik kedepannya jika saja pemerintah bisa serius dan mau mengembangkan teknologi dengan berlandaskan aspek-aspek kemanusiaan kepada masyarakatnya. Ada tiga faktor mengapa gas alam harus menjadi pemasok kedepannya. Pertama, sumber yang melimpah. Potensi pengembangan gas alam didukung dengan cadangan gas yang besar dapat mengembangkan teknologi lain selain batu bara. Kedua, bersih dan ramah lingkungan. gas alam memiliki emisi yang lebih kecil yaitu menghasilkan karbon dioksida 45 % lebih sedikit dari batu bara. Gas alam tidak berpengaruh besar terhadap kerusakan lingkungan dibandingkan batu bara dan juga gas alam adalah sumber yang relatif “bersih” yang hasil proses ataupun emisi buang lebih rendah dari batu bara. Ketiga, harga yang relatif sama. Walaupun gas alam memiliki harga yang lebih mahal sedikit dengan batu bara tetapi dengan stok yang melimpah diikuti dengan dampak ke lingkungan kecil harusnya pemerintah Indonesia dapat sedikit demi sedikit beralih ke energi yang ramah lingkungan dan dapat memakmurkan rakyatnya. Sudah sepatutnya kita sebagai bangsa Indonesia mengharapkan perubahan menjadi lebih baik lagi. Perubahan yang akan membawa keadilan, kemajuan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia.

     

  • (sumber http://www.zimsentinel.com/wp-content/uploads/2014/10/oil.jpg)

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita melakukan suatu aktivitas. Dimulai dari bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat sekolah, kerja ataupun kuliah, dan sampai kita pulang lagi ke rumah untuk beristirahat. Sebagian besar aktivitas dalam kehidupan kita difasilitasi dengan minyak bumi. Bagaimana tidak? Dimulai dari sarapan, makanan yang kita makan tentunya harus diolah atau dimasak dahulu. Makanan dimasak menggunakan bahan bakar agar makanan kita menjadi matang yaitu minyak tanah apabila memakai kompor minyak dan LPG apabila memakai kompor gas. Saat kita berangkat kuliah atau kerja baik kendaraan umum atau kendaraan pribadi, memakai bahan bakar agar kendaraan itu dapat bergerak. Bahan bakar yang digunakan bersumber dari turunan fraksi minyak bumi seperti solar dan bensin. Didalam mesin kendaraan, terdapat oli yang digunakan untuk mencegah keausan mesin. Jalan yang dilewati oleh kendaraan kita, terbuat dari aspal. Aspal ini terbuat dari residu yang merupakan fraksi terakhir dalam minyak bumi,  Bahkan saat kita merayakan ulang tahun, lilin kue yang akan kita tiup serta korek yang digunakan untuk menyalakan lilinnya menggunakan bahan baku paraffin yang juga merupakan salah satu fraksi turunan minyak bumi.

    Crude oil atau minyak bumi mentah diambil dari pengeboran minyak bumi yang  berada di dalam perut bumi. Minyak bumi sendiri berasal dari makhluk hidup yang tertimbun ratusan juta tahun lalu lamanya dengan proses pembusukan. Mengingat akan pentingnya kebutuhan minyak bumi di dunia ini, khususnya di Indonesia tidak menutup kemungkinan adanya oknum-oknum yang menggunakan berbagai cara untuk bisa mendapatkan minyak bumi ini. Salah satu caranya adalah dengan pengeboran minyak secara terlarang. Menurut undang – undang nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, bahwa kegiatan hulu migas yaitu eksplorasi dan ekspoitasi serta kegiatan hilir migas yang meliputi pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, dan niaga, yang tidak memiliki izin sebagaimana yang diatur dengan undang-undang dikategorikan dengan tindakan pidana.

    Praktek pengeboran illegal bisa mengurangi pendapatan daerah dan negara yang tentunya sangat merugikan dan tidak adi untuk sebagian pihak, Kegiatan pengeboran minyak secara illegal ini tidak hanya merugikan negara, tetapi dapat membahayakan masyarakat sekitar. Sumber daya alam yang kita miliki seperti migas seharusnya dikuasi oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kebutuhan dan kesejahteraan hidup masyarakat. Jika dilakukan pengeboran secara illegal, ini berarti hanya oknum-oknum tertentu yang bisa menikmati hasilnya. Selain itu, karena terbatasnya pengetahuan dan biaya, praktek pengeboran secara illegal tidak memakai cara yang benar dan tidak sesuai dengan ketentuan dalam hulu migas sehingga bisa membahayakan lingkungan masyarakat sekitar.

    Dan juga, pengeboran secara illegal bisa membahayakan kesehatan manusia, kenapa? Karena dengan pengeboran illegal, manusa bisa terkena beberapa kandungan minyak mentah yang berbahaya karena terpapar langsung akibat kurangnya peralatan dan perlengkapan pelindung. Bahan berbahaya itu antara lain adalah benzene (C6H6), toluene (C7H8), cylene (C8H10) serta sejumlah logam berat seperti tembaga (cu), arsen (ar), merkuri (hg), dan timbal (pb). Zat-zat tersebut bisa menyebabkan gangguan pada pernafasan, pencernaan, bahkan menyebabkan kanker. Selain itu dampak lain yang ditimbulkan adalah bisa menyebabkan tumbuhan yang ada disekitar sumur minyak bisa tercemar oleh logam-logam yang terkandung.  Jika tumbuhan tersebut dikonsumsi oleh manusia, maka logam tersebut bisa berpindah ke tubuh manusia dan menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatannya.

    Salah satu kasus pengeboran illegal yang merugikan ini terjadi di Aceh Timur, Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak. Sumur yang di bor, merupakan bagian dari wilayah Pertamina EP Aset I, yang dikelola dengan kerja sama operasi BUMD. Akibat dari pengeboran sumur illegal tersebut mengakibatkan meledaknya sumur tersebut, sehingga menimbulkan kebakaran. Dari masalah tersebut tercatat 5 korban  jiwa dan puluhan warga mengalami luka bakar akibat kebakaran sumur minyak ini.

    Selain itu, kasus seperti ini terjadi di Jambi tahun 2018, dimana polisi berhasil menangkap 10 orang pelaku karena kedapatan mengangkut sekitar 20 ton minyak secara illegal. Minyak tersebut didapat dari pengeboran terlarang di daerah Bajubang, kabupaten Batanghari di Jambi. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa seperti kasus di Aceh Timur, tetapi kerugian materil yang dialami oleh beberapa pihak.

    Setiap tahun, jumlah pengeboran sumur yang illegal terus bertambah. Bermacam modus yang dilakukan oleh pelaku misalnya seperti dengan cara menyewa tanah seseorang yang diduga mengandung minyak. Sementara itu oknum petinggi tidak berani menutup sumur minyak ilegal dengan alasan agar warga sekitar bisa mencari nafkah di lokasi yang telah digali.

     Untuk itu, pemerintah diharapkan untuk lebih menegakkan hukum bagi pelaku yang berusaha pemberantasan pengeboran minyak secara illegal dan lebih melakukan pengawasan lagi. Seperti memberikan hukuman yang berat kepada sang pelaku, dan lubang bekas pengeboran ditutup agar tidak membahayakan masyarakat sekitar dan tidak disalah gunakan lagi. Dilansir dari website migas.esdm.go.id, saat ini pemerintah telah berusaha memberantas oknum-oknum tersebut dengan membentuk satuan tugas (satgas) untuk mengatasi illegal drilling ini. Namun satgas ini belum bisa beroperasi karena terkendala oleh biaya. Hal ini sangat disayangkan, semoga satgas yang bertugas mengatasi masalah ini bisa beroperasi secepatnya untuk mengurangi maraknya illegal drilling yang terjadi di Indonesia.

     

     

    referensi :

    1. https://migas.esdm.go.id/post/read/atasi-illegal-drilling-pemerintah-bentuk-satgas
    2. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180425084554-20-293338/pengeboran-minyak-ilegal-di-aceh-terbakar-lima-orang-tewas
    3. https://news.detik.com/berita/d-4427483/polisi-tangkap-10-orang-pengangkut-20-ton-minyak-ilegal-di-jambi

     

  • Minyak bumi  merupakan bahan bakar fosil yang merupakan bahan baku untuk bahan bakar minyak (BBM), bensin dan produk-produk kimia lainnya, dan juga merupakan  salah satu sumber energi utama yang paling banyak digunakan hampir di seluruh negara. Setiap negara termasuk Indonesia akan memerlukan minyak bumi  untuk berbagai kegiatan diantaranya adalah konsumsi dan produksi agar dapat menggerakkan perekonomian seperti meningkatnya produktivitas sektor industri dan transportasi. Kita tahu bahwa minyak bumi adalah energi yang tidak dapat diperbaharui, jadi secara alami produksi energi ini semakin lama akan semakin menyusut.  Isu tersebut selalu menarik untuk dibicarakan karena dengan keberadaannya yang terbatas, namun perannya sebagai sumber energi utama masih belum bisa tergantikan sehingga minyak bumi masih sangat dibutuhkan dan konsumsi  minyak bumi pasti  akan terus meningkat.

    Sama seperti halnya di Indonesia, lain dahulu lain sekarang, mungkin ungkapan itu cocok untuk melukiskan kondisi dan keberadaan industri minyak dan gas ( migas) Indonesia. Data BP World Statistic pada 2012 mencatat kalau produksi minyak bumi Indonesia pernah mencapai 1,65 juta barrel per hari pada 1977.  Capaian itu, membuat Indoneisa  masuk dalam jajaran 11 negara produsen minyak terbesar di dunia. Saat itu, Indonesia sebagai anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) pun memiliki pengaruh yang lumayan besar. Dari segi  pendapatan negara, industri migas nasional kala itu juga memberikan sumbangan yang besar kepada penerimaan nasional. Hasil riset Reforminer Institute menyatakan, pada media 1970-1990 sektor migas memberikan sumbangan 62,88 persen terhadap penerimaan negara. Nilai ekspor migas Indonesia pun mencapai 20,66 miliar dollar AS. Namun kini, kenyataan berkata lain bahwa Indonesia malah harus mengimpor minyak bumi untuk menyokong kebutuhan energi.

    Terus turunnya produksi migas berakibat makin tingginya impor minyak oleh Indonesia. Fenomena Defisit inilah yang kemudian terjadi, di saat produksi minyak terus menurun, konsumsi bahan bakar minyak Indonesia justru terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan populasi kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil.Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi energi seperti  bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri, setiap harinya Indonesia impor ratusan ribu barel minyak dari luar negeri. Rata-rata konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi yang bisa dicapai berdasar data terakhir dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) hanya 770 ribu barel per hari. Ini bahkan lebih rendah dibanding target APBN 2018 yang mematok 800 ribu barel per hari.  Tidak imbangnya produksi dan konsumsi ini membuat Indonesia ketergantungan minyak impor. Sepanjang 2017 nilai impor minyak mentah Indonesia mencapai US$ 8,2 miliar atau setara Rp 117,2 triliun (dengan kurs Rp 14.300). Nilai ini menjadikan Indonesia sebagai importir crude (minyak mentah) terbanyak kedua di Asia Tenggara.

    Terbatasnya produksi minyak mentah Indonesia yang  tidak mencapai target untuk memenuhi kebutuhan energi, disebabkan karena kondisi sumur/blok migas di Indonesia sudah berusia tua. Produktivitas sumur-sumur (blok) yang sudah tua tersebut akan  semakin berkurang. Saat ini, sebanyak 70% dari blok-blok migas yang  berproduksi umurnya sudah lebih dari 30 tahun. Contohnya seperti Rokan (1951), Pertamina EP (1957), Sanga-sanga (1972), Mahakam (1974), Cornidor (1987), Natune Sea “A” Offshore (1990), dan lainnya. Di sisi lain, Indonesia juga belum memiliki cadangan penyangga energi lain yang dapat memberikan jaminan pasokan kebutuhan energi. Alhasil, cadangan minyak terbukti di Indonesia dari tahun ke tahun semakin tipis. Faktor alam yang juga menyebabkan berkurangnya produksi migas di Indonesia, yaitu laju penurunan produksi alami (natural production decline rate) blok migas di Indonesia sangatlah tinggi, rata-rata mencapai 28% per tahun.

                                                                   

                                                                     

    Jika Indonesia terus – menerus melakukan impor migas, maka dipastikan akan berdampak pada perekonomian Indonesia yang akan terus menurun. Sehingga diperlukan upaya lainnya dalam pengadaan migas. Menurut saya, upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendirikan blok migas dengan teknologi terbaru agar produksi minyak lebih besar dan melakukan kegiatan-kegiatan efisiensi di segala sektor  agar permintaan akan minyak semakin menurun contohnya yaitu melakukan penelitian terhadap penggunaan energi terbarukan seperti bioethanol yang bisa digunakan sebagai bahan bakar pengganti bensin. Selain itu, eksplorasi tambahan terhadap cadangan minyak juga bisa dilakukan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang belum banyak dikelola karena mengingat daerah eksplorasi minyak bumi di Pulau Jawa dan Sumatera sudah sangat terbatas.

  •      Minyak bumi  merupakan bahan bakar fosil yang merupakan bahan baku untuk bahan bakar minyak (BBM), bensin dan produk-produk kimia lainnya, dan juga merupakan  salah satu sumber energi utama yang paling banyak digunakan hampir di seluruh negara. Setiap negara termasuk Indonesia akan memerlukan minyak bumi  untuk berbagai kegiatan diantaranya adalah konsumsi dan produksi agar dapat menggerakkan perekonomian seperti meningkatnya produktivitas sektor industri dan transportasi. Kita tahu bahwa minyak bumi adalah energi yang tidak dapat diperbaharui, jadi secara alami produksi energi ini semakin lama akan semakin menyusut.  Isu tersebut selalu menarik untuk dibicarakan karena dengan keberadaannya yang terbatas, namun perannya sebagai sumber energi utama masih belum bisa tergantikan sehingga minyak bumi masih sangat dibutuhkan dan konsumsi  minyak bumi pasti  akan terus meningkat.

          Sama seperti halnya di Indonesia, lain dahulu lain sekarang, mungkin ungkapan itu cocok untuk melukiskan kondisi dan keberadaan industri minyak dan gas ( migas) Indonesia. Data BP World Statistic pada 2012 mencatat kalau produksi minyak bumi Indonesia pernah mencapai 1,65 juta barrel per hari pada 1977.  Capaian itu, membuat Indoneisa  masuk dalam jajaran 11 negara produsen minyak terbesar di dunia. Saat itu, Indonesia sebagai anggota organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) pun memiliki pengaruh yang lumayan besar. Dari segi  pendapatan negara, industri migas nasional kala itu juga memberikan sumbangan yang besar kepada penerimaan nasional. Hasil riset Reforminer Institute menyatakan, pada media 1970-1990 sektor migas memberikan sumbangan 62,88 persen terhadap penerimaan negara. Nilai ekspor migas Indonesia pun mencapai 20,66 miliar dollar AS. Namun kini, kenyataan berkata lain bahwa Indonesia malah harus mengimpor minyak bumi untuk menyokong kebutuhan energi.

         Terus turunnya produksi migas berakibat makin tingginya impor minyak oleh Indonesia. Fenomena Defisit inilah yang kemudian terjadi, di saat produksi minyak terus menurun, konsumsi bahan bakar minyak Indonesia justru terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan populasi kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil.Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi energi seperti  bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri, setiap harinya Indonesia impor ratusan ribu barel minyak dari luar negeri. Rata-rata konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi yang bisa dicapai berdasar data terakhir dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) hanya 770 ribu barel per hari. Ini bahkan lebih rendah dibanding target APBN 2018 yang mematok 800 ribu barel per hari.  Tidak imbangnya produksi dan konsumsi ini membuat Indonesia ketergantungan minyak impor. Sepanjang 2017 nilai impor minyak mentah Indonesia mencapai US$ 8,2 miliar atau setara Rp 117,2 triliun (dengan kurs Rp 14.300). Nilai ini menjadikan Indonesia sebagai importir crude (minyak mentah) terbanyak kedua di Asia Tenggara.

         Terbatasnya produksi minyak mentah Indonesia yang  tidak mencapai target untuk memenuhi kebutuhan energi, disebabkan karena kondisi sumur/blok migas di Indonesia sudah berusia tua. Produktivitas sumur-sumur (blok) yang sudah tua tersebut akan  semakin berkurang. Saat ini, sebanyak 70% dari blok-blok migas yang  berproduksi umurnya sudah lebih dari 30 tahun. Contohnya seperti Rokan (1951), Pertamina EP (1957), Sanga-sanga (1972), Mahakam (1974), Cornidor (1987), Natune Sea “A” Offshore (1990), dan lainnya. Di sisi lain, Indonesia juga belum memiliki cadangan penyangga energi lain yang dapat memberikan jaminan pasokan kebutuhan energi. Alhasil, cadangan minyak terbukti di Indonesia dari tahun ke tahun semakin tipis. Faktor alam yang juga menyebabkan berkurangnya produksi migas di Indonesia, yaitu laju penurunan produksi alami (natural production decline rate) blok migas di Indonesia sangatlah tinggi, rata-rata mencapai 28% per tahun.

                                                       

         Jika Indonesia terus – menerus melakukan impor migas, maka dipastikan akan berdampak pada perekonomian Indonesia yang akan terus menurun. Sehingga diperlukan upaya lainnya dalam pengadaan migas. Menurut saya, upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendirikan blok migas dengan teknologi terbaru agar produksi minyak lebih besar dan melakukan kegiatan-kegiatan efisiensi di segala sektor  agar permintaan akan minyak semakin menurun contohnya yaitu melakukan penelitian terhadap penggunaan energi terbarukan seperti bioethanol yang bisa digunakan sebagai bahan bakar pengganti bensin. Selain itu, eksplorasi tambahan terhadap cadangan minyak juga bisa dilakukan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang belum banyak dikelola karena mengingat daerah eksplorasi minyak bumi di Pulau Jawa dan Sumatera sudah sangat terbatas.

  • Informasi saat ini sedang hangat-hangatnya “Menghidangkan”  topik sampah sebagai santapan utama dalam percakapan dunia. Hal ini didukung oleh banyaknya kasus pencemaran sampah yang berakibat fatal bagi keberlangsungan makhluk hidup, seperti pencemaran mikroba di laut dan tanah, hewan-hewan laut yang mati akibat tak sengaja memakan sampah dan masih banyak lagi. Salah satu jenis sampah yang menjadi perhatian dunia adalah “Plastik”.  Tak dapat disangkal, faktanya , berdasarkan data yang diambil dari ScienceMag, jumlah produksi sampah plastik global sejak 1950 hingga 2015 cenderung selalu menunjukkan peningkatan. Pada 1950, produksi sampah dunia berada pada  angka 2 juta ton per tahun. Sementara 65 tahun setelahnya yaitu pada tahun 2015 produksi sampah sudah berada pada angka 381 juta ton per tahun. Angka ini meningkat 190 kali lipat, dengan rata-rata peningkatan sebesar 5,8 ton per tahun. Tentu saja hal ini perlu diwaspadai, jika tren pada data terus menunjukan peningkatan dengan fakta bahwa degradasi sampah plastik dapat mencapai ratusan bahkan ribuan tahun, dapat dibayangkan bumi akan berselimut sampah plastik pada 20-30 tahun mendatang. Topik sampah tak hanya menjadi buah bibir di dunia, di Indonesia sendiri topik sampah masih menjadi tamparan yang memilukan sejak Jenna R Jambec pada tahun 2015 mengeluarkan laporan penelitiannya mengenai jumlah sampah plastik di laut dunia dan Indonesia masuk menjadi peringkat kedua dengan jumlah sampah plastik di lautan terbesar setelah Cina. Namun hal ini sudah dibantah oleh Asosiasi Industri Olefin, Aromatik & Plastik Indonesia (INAplas) melalui pertemuan dengan Jambec yang menyatakan jika data dari Jambec hanya mengambil dari beberapa lautan Indonesia dan tidak menyeluruh karena terdapat perbedaan data yang sangat signifikan dengan Inaplas.

    Tabel laporan penelitian Jenna R Jambec


    Sumber: jambeck.engr.uga.edu/landplasticinput


    Terlepas dari perdebatan antara Jambec dan Inaplas, data informasi dari Jambec menyadarkan kita bahwa ada isu  besar yang sedang mengancam lingkungan, lalu apa tindakan kita untuk menekan jumlah sampah plastik? Bersama artikel ini, penulis mencoba mengulas  hal-hal yang dapat membantu meminimalisir keberadaan sampah plastik dari berbagai sisi.


    Plastik merupakan hasil dari polimerisasi gabungan beberapa monomer secara linear ataupun random. Plastik sebenarnya dapat dibentuk secara organik ataupun sintetik. Sejarahnya plastik dalam buku “Plastic Material” yang ditulis oleh J.A Brydson berawal dari Eropa tahun 1850 oleh Alexandre Parkes yang melakukan penelitian terhadap benda elastis dan tahan air yang kemudian temuannya ini disebut dengan parkesin dan dilanjutkan di Amerika pada tahun 1865 oleh John Wesley Hyatt yang  menemukan material yang mampu membuat bola biliar tanpa adanya percikan api saat bertabrakan. Lalu pada tahun 1910 mulailah muncul resin sintetik dari phenolic oleh Hendric Baekeland pada tahun 1910 bersama dengan perusahaan bakelitenya memproduksi kabel listrik. Sejak saat itu  penemuan jenis-jenis resin sintetik lainnya berkembang dengan cepat diantaranya PVC (1930), Polyethylene (1931), nylon (1939) dan secara komersial resin plastik dalam bentuk produk mulai diperkenalkan kepada dunia pada tahun 1955.

    Plastik secara umum memiliki fungsi sebagai kemasan dan komponen pendukung otomotif/elektrik. Pada fungsi kemasan, ada dua jenis umum plastik yang beredar di pasaran yaitu plastik kaku dan plastik fleksibel. Kekurangan dari plastik sebagai kemasan adalah sulit terurai namun perlu diketahui berdasarkan “International Journal of Lifecycle Assesmant, 2013”, plastik adalah material yang paling rendah potensi pemanasan global jika dibandingkan kemasan lain seperti kertas, kaca, dan kaleng dan yang paling ramah energi & air pada proses produksinya.


    Plastik bukan musuh, karena memang pada kenyataannya kita tidak dapat menghilangkan ketergantungan kita kepada plastik. Coba perhatikan saja sekitar, mulai dari kendaraan, alat-alat rumah tangga, personal care, alat alat elektronik, pakaian, hingga isi bantal (sudah banyak yang menggunakan plastik sebagai pengganti kapuk), seberapa banyak kita menggantungkan hidup pada plastik? Maka dari itu, hal yang dapat kita lakukan adalah mengurangi penggunaan plastik, manajemen sampah plastik dan menggunakan daur ulang plastik bukan menghilangkan atau memusuhi plastik.  Bagi pelaku plastik, saat ini sedang gencar mengusung tema “sustainability” pada kampanyenya. Dalam beberapa tahun ini manufaktur plastik sedang asik meracik botol pastik dari resin recycle. Apa itu resin recycle? Resin recycle adalah resin yang dibuat 100% dari bahan daur ulang (sampah plastik) yang diproses kembali menjadi pelet sebagai bahan baku botol kembali. Baru ada dua jenis resin daur ulang yang beredar yaitu Recycle PET dan Recycle HDPE. Di Indonesia sendiri, sudah beberapa produk home care yang menggunakan resin daur ulang. Perlu diketahui resin recycle ini sudah tersertifikat dan teruji. Harganya tentu lebih mahal hingga 25% daripada resin murni. Jika hal ini konsisten dan mendapat dukungan dari banyak pihak, istilah “sustainability” dan penekanan angka sampah plastik tentu akan memberikan dampak yang signifikan. Namun sangat disayangkan, resin recycle ini masih import, di Indonesia sendiri belum ada perusahaan yang berani membuat resin recycle padahal prosesnya terbilang sederhana. Ada banyak alasan, seperti harganya yang mahal sehingga tidak semua "Brand Owner" mau menggunakan resin ini, di sisi ini lah harusnya pemerintah berperan, misalnya mengurangi pajak perusahaan yang mendukung "sustainability" atau memberikan penghargaan atau mengharuskan semua "Brand owner" menggunakan minimal satu pada produknya, ya sesuai dengan kebijakan dan diskusi pihak pihak terkait

    Selain itu, ada juga wacana proyek dari salah satu perusahaan pelaku plastik dan pemerintah yang bekerja sama untuk membuat sejenisvending machine sampah dimana masyarakat dapat memasukan sampah plastiknya dan ditukar dengan vocer belanja. Semoga project ini segera terlaksana dengan terus melakukan evaluasi terhadap dampak positif dan negatifnya.


    Jika hal diatas adalah dari sisi pelaku plastik, maka dibawah ini adalah tindakan-tindakan yang dapat kita lakukan untuk mendukung perbaikan lingkungan, antara lain

    1. Membantu mengurangi limbah plastik air kemasan sekali pakai
    Sugesti diri Anda sendiri untuk peduli terhadap lingkungan dengan cara yang paling mudah yaitu membawa botol minum sendiri kemanapun pergi. Setelah itu ajak teman, komunitas dan kantor untuk mengurangi penggunaan air mineral sekali pakai.
    Pada gambar 1 dapat dilihat salah satu komunitas kanker di Jakarta yang selalu mewajibkan anggotanya  membawa botol minum sendiri bahkan alat makan sendiri saat rapat atau gathering

     
    Gambar 1. Anggotakomunitas menggunakan peralatan makan dan minum tak sekali pakai
    Sumber: Pribadi

    Contoh lain di salah satu industri rigid packaging yang mengultimatum kepada karyawannya untuk membawa botol minum sendiri saat bekerja dan  tidak memberikan air kemasan kepada tamu (menggantinya dengan menggunakan gelas atau biasanya diberikan botol minum).

     

    Gambar 2. Ruang meeting salah satu perusahaan plastik  saat meeting internal atau eksternal
    Sumber: Pribadi

     

     Gambar 3. Salah satu perusahaan plastik membagikan botol minum pada tamu/visitor (tamu dilarang memabawa air minum sekali pakai)
    Sumber: Pribadi

     

    1. Meminimalisir penggunaan sampah plastik kresek dengan menggunakan tas belanja. Tahukah kalian jika jenis sampah plastik terbanyak dan menjadi PR terbesar adalah sampah plastik jenis kemasan fleksibel seperti kantong kresek, plastik makanan kering, plastik makanan ringan dan sejenisnya? Anda tahu kenapa? Seperti yang penulis sampaikan sebelumnya bahwa di pasaran ada dua jenis plastik yaitu plastik kaku  seperti botol minum,botol sampo, botol deterjen dll dan plastik fleksibel seperti yang dicontohkan diatas. Plastik fleksibel itu lebih ringan sehingga tidak laku dijual oleh pemulung karena bobotnya yang sangat rendah dengan volume yang besar. Plastik fleksibel inilah yang paling banyak berserakan di area maritim dan meracuni hewan hewan laut. Karena bobotnya yang ringan sehingga mudah ditiup angin dan berserakan. Plastik fleksibel juga tidak dapat di daur ulang kecuali dibuat menjadi kerajinan. Hal ini dikarenakan dalam proses pembuatannya, plastik fleksibel sudah tercampur dengan lebih dari satu jenis resin, bahan additive dan tinta. Hal yang telah pemerintah lakukan adalah memberikan pajak pada penggunaan kantong kresek dan yang sedang dilakukan oleh Inaplas adalah mengajukan penambahan berat kantong plastik dan standarisasi agar memiliki nilai untuk diambil oleh pemulung. Nah hal yang bisa kita lakukan adalah mulailah membawa tas belanja sendiri
    2. Mulai menyadarkan diri untuk memilah milah sampah. Sediakan beberapa tempat sampah di rumah lalu tuliskan organik, non organik atau lebih rinci, HDPE, PET, Organik, dan lain-lain.Walalupun nanti mobil sampah menjadikan satu tapi setidaknya kita sudah menanamkan diri untuk manajemen sampah dengan memilah milah sampah. Semoga nanti pemerintah kita pun konsisten untuk melakukan manajemen angkutan sampah dengan pilahan. Jepang sukses dengan sampahnya dimulai dari manajemen dan konsistensi memilah sampah oleh warganya serta didiukung dengan teknologi yang sangat baik.Catatan: Untuk kemasan fleksibel sebaiknya dimasukan kedalam botol  hingga bobotnya berat agar tak berserakan atau bisa dimanfaatkan menjadi ecobric.
    3. Mari dukung terus  anak bangsa yang sedang giat-giatnya melakukan penelitian terhadap bioplastic, penelitian terhadap bakteri yang mampu mendegradasi sampah plastik dan penelitian lainnya yang relevan terhadap lingkungan.

    Catatan penting, jangan buang sampah sembarangan. Sampah plastik tak punya kaki untuk berjalan ke area maritim seperti sungai, laut, dan danau. Manusialah yang membuat sampah plastik menjadi masalah. Maka dari itu bijaklah dalam menggunakan plastik dan bertanggung jawablah terhadap sampahnya.

    Salam lietarasi
     

  • Berbicara energi, minyak mentah sering menjadi bahasan populer kita. Bagaimana tidak, minyak mentah yang setelah mengalami proses itu sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor yang sangat berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

    Negara kita, Indonesia merupakan salah satu negara yang mempoduksi minyak bumi. Menurut data skk migas per 31 Maret 2019, Indonesia memproduksi 765 ribu barel per harinya. Tentunya ini minyak yang berasal dari fossil. Lalu bagaimana dengan konsumsi BBM masyarakat Indonesia? Menurut BP Statistical Review of World Energy pada 2016 saja sebesar  1.628.000 barel per hari. Dimana kecendrungan akan konstan dalam beberapa tahun atau bahkan kecendrungan ini  naik. Tentu hal inilah yang menjadi masalah dan membuat kita masih tetap mengimpor minyak bumi.

    Sebenarnya permasalahan energi berbahan fosil bukan hanya tantangan Indonesia saja. Dengan banyaknya negara yang berlomba-lomba mendalami potensi energi terbarukan, menunjukkan hal ini merupakan masalah serius.  Akan tetapi tetap saja bahan bakar fosil masih menjadi tumpuan dunia.  Dimuat dalam koran Tempo dan juga website kemenperin, Menteri Perindustrian Mohamad Suleman Hidayat menyatakan bahwa saat ini industri masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Padahal porsi industri dalam konsumsi energi nasional mencapai 49,4 persen. "Pemakaian energi terbarukan hanya mencapai angka 5 persen dari total penggunaan," kata Menteri Hidayat di kantornya.

    Sebagai anak bangsa, sudah seharusnya kita membantu masalah ini. Jangan lupa bahwa negeri kita  dikenal dengan sumber daya alam nya yang melimpah. Sudah sangat sering kita mendengar nama-nama seperti biodiesel, biofuel dan sebagainya. Bahan-bahan yang diambil berasal dari tanaman seperti bunga matahari, sagu, sawit dan bunga bunga lainnya. Nama tumbuhan terakhir memang tidak asing lagi bagi kita. Sawit biasa dijadikan minyak. Nama lainnya adalah crude palm oil atau biasa disebut CPO.

     

    Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Pertamina yang merupakan perusahaan milik negara yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi baru-baru ini membuat terobosan baru yang akan menjawab tantangan ini. Ya, injeksi cpo menggunakan metode co-processing ke dalam crude oil adalah jawabannya.  Produk akhirnya yang merupakan campuran 7.5 persen cpo pada feed akan menghasilkan green gasoline setara pertamax. Telah berhasil dibuat pada salah satu kilang pertamina yang berada di Plaju, Refinery Unit III (RU3) pada akhir tahun 2018 kemarin. CPO yang dipakai tentu saja sudah mengalami proses degumming, bleaching, dan deodorizing atau bisa disebut RBDPO.

    Sekarang, pertanyaannya adalah bagaimana  bisa menjawab tantangan ini? Pertama kita bahas dulu apa yang menjadi feed utama nya. Ada CPO dan crude oil biasa. Perlu diketahui kapasitas produksi cpo di Indonesia sangat melimpah. 

    Di muat dalam website EBTKE, Andriah Feby Misna, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (DItjen EBTKE) menuturkan bahwa pada tahun 2018, produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Crude Palm Kernel Oil (CPKO) Indonesia diperkirakan mencapai 48-49 juta ton, ekivalen dengan 700-750 ribu barrel/hari BBM. Hanya 27,5% saja dari total produksi CPO tersebut yang digunakan untuk kebutuhan domestik (termasuk untuk Biodiesel), sedangkan sisanya diekspor. Dengan potensi ketersediaan bahan baku ini, maka Indonesia sangat berpeluang menjadi penghasil biohidrokarbon terbesar di dunia

    Lalu Ada teknologi co processing. Indonesia menjadi yang pertama dalam menerapkan teknologi ini di di dunia. Diambil dari sumber yang sama, teknologi ini dipiih karena high operation flexibility dan low investment cost, dikarenakan hanya sedikit modifikasi yang dilakukan pada kilang tersebut.

    Lalu apalagi kelebihan ini? Ramah Lingkungan? Ya sudah tentu, bahan bakar hasil perpaduan ini merupakan green fuel. Lalu bagaimana dengan ekonomi? Apalagi ini! Jika sebelumnya kita menggunakan 100 persen crude oil, maka sekarang tidak 100 persen lagi kan? Kita bisa mengurangi impor minyak mentah. Apalagi kita menggunakan CPO yang berasal dari dalam negeri sehingga tidak menganggu devisa negara. Malah dilansir dari artikel GAPKI (Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia) , Direktur pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarief mengatakan “upaya ini sangat mendukung pemerintah dalam mengurangi devisa, dimana pertamina bisa menghemat impor crude oil sebesar 7,36 ribu barel per hari atau dalam setahun penghematan hingga  US$ 160 juta”

     

     

     

     

     

     

     

     

    Referensi

    http://ebtke.esdm.go.id/post/2018/12/21/2086/dukung.implementasi.co-processing.cpo.menjadi.green.gasoline.dan.green.lpg.pemerintah.akan.integrasikan.kebijakan.hulu-hilir

    https://gapki.id/news/6578/pertamina-olah-green-diesel-dari-kelapa-sawit-setara-pertamax

    http://www.kemenperin.go.id/artikel/6820/Bahan-Bakar-Fosil-Tumpuan-Industri

    https://www.skkmigas.go.id/

    https://www.bp.com/en/global/corporate/energy-economics/statistical-review-of-world-energy.html

  • Minyak bumi merupakan sumber daya alam yang sudah ada dan telah dimanfaatkan oleh banyak orang. Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan populasi manusia dengan berbagai aktivitas hidupnya menjadi faktor utama penyebab meningkatnya kebutuhan terhadap energi di segala aspek penggunaannya. Peningkatan energi di indonesia meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk yang mengakibatkan meningkatnya konsumsi energi perkapita. Pencarian minyak bumi mulai dilakukan sejak tahun 1885 dan puncakya adalah tahun 1966 dimana indonesia memulai era massive oil exploration atau eksplorasi minyak besar-besaran. Pemerintah indonesia pada saat itu memperkenalkan konsep production sharing contract yang mampu menarik banyak investor asing. Puncaknya pada tahun 1977 indonesia berada pada masa kejayaan industri migas dengan capaian produksi hingga 1,69 juta barel minyak perhari dimana padaa saat itu kebutuhan minyak dalam negeri hanya sekitar 250.000 barel sehingga indonsia mampu mengekspor minyak dalam jumlah besar dan industri migas menjadi penggerak utama ekonomi nasional pada saat itu. Selain minyak bumi, produksi gas bumi dan batu bara juga menjadi penunjang utama bagi pemenuhan kebutuhan energi bangsa.

    minyak bumi

    Namun saat ini keadaan menjadi sangat jauh berbeda dengan fakta bahwa sebagai negara dengan kekayaan sumber energi alam yang melimpah indonesia secara ironis justru setia melabeli diri sebagai negara yang mengalami krisis energi berkelanjutan. Sejak tahun 2004 masa kejayaan industri migas indonesia telah berakhir. Berdasarkan data dari kementerian ESDM, kebutuhan akan mnyak dan gas berkisar 2,2 juta barrel perhari dimana 1,4 juta barrel diantaranya adalah kebutuhan terhadap minyak bumi. Sementara produksi minyak indonesia hanya berkisar 900.000 barrel perhari. Jadi indonesia kekurangan 500.000 barrel minyak perhari. Oleh karena itu indonesia akhirnya menjadi negara importir minyak bumi untuk menutupi kekurangannya. Hal ini sangat berdampak signifikan terhadap kemampuan ekonomi nasional terlebih lagi pemerintah masih menanggung beban subsidi yang sangat besar.

    Sejak tahun 1990an produksi minyak mentah Indonesia telah mengalami tren penurunan yang berkelanjutan karena kurangnya eksplorasi dan investasi di sektor ini. Di beberapa tahun terakhir sektor minyak dan gas negara ini sebenarnya menghambat pertumbuhan PDB. Target-target produksi minyak, ditetapkan oleh Pemerintah setiap awal tahun, tidak tercapai untuk beberapa tahun berturut-turut karena kebanyakan produksi minyak berasal dari ladang-ladang minyak yang sudah menua.

    Mengingat kebutuhan manusia akan minyak bumi semakin meningkat, contoh halnya adalah gasolin atau yang lebih kita kenal sebagai bensin, bensin sangatsulit dilepaskan dari kehidupan manusia terlebih lagi manusia yang berada di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya kota metropolitan yang dominan para penduduknya selalu mempunyai mobil atau paling tidak motor. Motor pun tak hanya 1 yang mereka punyai. Banyak kalangan warga dari kota besar Jakarta yang mayoritas penduduknya selalu mempunyai motor yang tidak hanya 1. Motor dan mobil tidak akan berjalan sesuai fungsinya apabila tidak adanya minyak bumi atau bensin. Yang semakin hari semakin langka saja keberadaannya. Langkanya minyak bumi ini disebabkan oleh beberapa faktor yang mendasarinya yaitu sumber daya minyak bumi yang minim, pengeboran tanah yang cukup dalam sehingga minyak tanah banyak yang menguap. Menguapnya minyak tanah dikarenakan suhu dibumi sudah sangat panas disebabkan oleh globalisasi yang mengakibatkan terkikisnya lapisan ozon yang melindungi bumi dari sinar ultraviolet langsung. Disebabkan juga oleh bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang mengakibatkan distribusi minyak tanah menjadi sedikit lebiih sulit. Bencana alam yang terjadi tidak sepenuhnya kesalahan manusia melainkan juga karena kondisi bumi yang semakin menua, semakin banyaknya kendaraan sehingga berbanding terbalik terhadap BBM yang ada dan juga dikarenakan manusia yang tidak bijak menggunakannya. Dalam hal ini harus ada solusi ataupun tindakan atas penurunan minyak bumi dan gas bumi di indonesia.

    Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperingatkan pentingnya penemuan cadangan minyak baru untuk indonesia. Sebab jika tidak ditemukan cadangan minyak bumi baru, pada 1 tahun kedepan kemungkinan cadangan minyak bumi indonesia akan turun dari 800.000 barel perhari menjadi 700.000 barel. Saat ini indonesia memiliki cadangan minyak bumi sekitar 3,3 miliar barel, dengan asumsi produksikonstan 800.000 perhari tanpa adanya temuan cadangan baru maka dalam 11 tahun-12 tahun ke depan indonesia tidak mampu memproduksi minyak bumi lagi. Dalam hal ini tidak hanya pemerntah yang memikirkan solusi untuk masalah penurunan minyak bumi di indonesia ini tetapi masyaratkat indonesia juga harus ikut bekerja sama dalam mencari solusi dalam masalah ini dan bukan menambah masalah.

    Secara umum beberapa cara mengatasi kelangkaan sumber daya alam ini yaitu dengan menyusun skala prioritas kebutuhan, bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam, melakukan sumber daya baru, memanfaatkan kemajuan teknologi, memanfaatkan bahan substitusi, daur ulang atau memanfaatkan kembali bahan limbah ataupun residu dari suatu proses produksi atau konsumsi disuatu sistem ekonomi untuk menjadi barang bernilai. Meskipun ada berbagai cara, sebaiknya kita bijaksana dalam menggunakan dan juga mengeksplotas sumber daya alam agar tetap bisa dinikmati untuk masa-masa yang akan datang.

     

  • Kajian Penyediaan Air Bersih Di Kecamatan Betara Tanjung  Jabung Barat Dengan Metode Fenton

     

                                                                 BAB I

                                                         PENDAHULUAN

    1.1     Latar Belakang

              Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber daya air, air adalah semua air yang terdapat pada diatas ataupun dibawah permukaan tanah termasuk dalam pengertiaan ini air permukaan air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat.

              Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Bram Itam, adalah salah satu wilayah yang menghasilkan air gambut, penyediaan air bersih disana guna meningkatakan kualitas air bersih guna meningkatkan kehidupan masyarakat.

             Air gambut berwarna kecoklatan karena kandungan zat organik yang tinggi. Zat organik alami (NaturalOrganikMatter, NOM) yang terdapat dalam air gambut akan memberikan estetika yang kurang baik pada warna, rasa dan bau air. Natural Organik Matter (NOM) dapat mengganggu selama proses pengolahan air yaitu terbentuknya produk samping berupa senyawa trihalometan (THM) yang bersifat karsinogenik yang dihasilkan dari reaksi antara senyawa organik dengan desinfeksi klorin .

    Sumber: Hasil Pengamatan, 2019

    1.2     Tujuan

              Tujuan kajian ini adalah memberikan solusi masyarakat tanjung jabung barat mengolah air gambut untuk kehidupan sehari-hari.

     

                                                                      BAB II

                                                      HASIL DAN PEMBAHASAN

              Penyediaan air bersih di tanjung jabung barat sangat sulit karena air yang coklat, perlunya dilakukan kajian tentang pengolahan air gambut dengan metode AOPs ( Fenton).

    Sumber: Hasil Pengamatan, 2019

                  Metode fenton adalah metode oksidasi lanjut yang menggunakan FeSO47H2O dan H2O2(hydrogen peroksida) dan bisa mengurangi zat warna (agustina, 2016). Gambut memiliki pH 3-5 yang cocok untuk metode fenton sehingga tidak perlu penambahan H2SO4  sehingga aman bagi lingkungan, pengaplikasikan metode Fenton dilapangan sangat mudah, murah dan cepat karena karakteristik gambut banyak terdapat zat organik dam  mirip sama dengan lindi (adriansyah,et al, 2019 ). Perlunya kajian lebih lanjut sehingga masyarakat tanjung jabung barat bisa menggunakan air gambut sebagai air bersih.

    Berikut adalah contoh reaktor pengolahan air gambut

    2.1     Prosedur Pembuatan Alat

             Instalasi pengolahanan gambut ini terdiri dari 1 buah bak fiber dengan kapasitas 100 liter, 1 buah kotak, 1 buah drum plastik dengan kapasitas 120 lt  dan 2 buah kolom filter yang  terbuat dari pipa PVC dengan diameter 5 inci dengan tinggi 70 cm. Bak penampung awal yang digunakan terbuat dari bahan fiber yang memiliki volume 100 liter. Bak penampung awal berfungsi sebagai tempat untuk mengatur debit dan karakteristik air yang akan masuk.

             Pada bak penampung awal dilakukan dengan memasukan gambut yang telah dipersiapkan. kotak  yang digunakan terbuat dari drum  dengan dimensi panjang 40 cm, lebar 30 cm dan tinggi 20 cm.

             Bak sedimentasi yang digunakan terbuat dari bahan fiber yang memiliki Volume 120 liter dengan Panjang 40 cm, lebar 35 cm dan tinggi 95 cm. Pada bagian inlet terdapat baffle yang terbuat dari pipa PVC dengan diameter 12,7 cm sepanjang 60 cm sedangkan pada bagian outlet terdapat baffle yang terbuat dari pipa PVC dengan diameter l2,7 cm sepanjang 30 cm.

    2.2      Implementasi dan cara kerja karya

    2.2.1   Cara kerja alat

               Air baku atau air gambut diolah deng metode Fenton, masukan air yang sudah dicampur tadi ke dalam bak penampung awal  dan diaduk di alirkan ketika sudah  60 menit pengadukan, Setelah itu filtrasi air dialirkan ke bak penampung akhir.

     

    2.2.1   Penerapan

               Untuk membantu masyarakat yang krisis air bersih, salah satunya di wilayah pesisir provinsi jambi.

     

    2.3    Analisis SWOT

            Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategisyang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengthsweaknessesopportunities, dan threats). Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik SWOT, dimana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities)yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru.

    Tabel 2.1 Analisis SWOT

    Kekuatan (strengths)

     

    Dapat memanfaatkan metode Fenton, untuk mengolah air gambut

     

    Kelemahan (weaknesses)

     

    Belum banyak digunakan oleh masyarakat karena belum diterapkan ke masyarakat pesisir jambi

     

    Peluang (opportunities)

     

    Bisa digunakan sebagai alternative murah untuk penjernih air di masyarakat pesisir jambi . dalam proses pembuatan juga tidak sulit

     

    Tantangan (threats)

     

    Proses penerapan dan perkembangan di masyarakat sangat kurang , perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat

     

     

                                                                   BAB III

                                                                 PENUTUP

    3.1    Kesimpulan:

            Air gambut berwarna kecoklatan karena kandungan zat organik yang tinggi. Zat organik alami (natural organik matter, NOM) yang terdapat dalam air gambut akan memberikan estetika yang kurang baik pada warna, rasa dan bau air. Zat organik alami dapat dihilangkan melalui beberapa proses pengolahan. Seperti melalui metode Fenton, metode Fenton mudah digunakan dan sangat mudah di aplikasikan

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Agustina, T.E., 2016 Teknologi Pengolahan LImbah Cair Dengan Metode Oksidasi Lanjutan, Unsri Press, Palembang

    Adriansyah, E, Agustina, T.E., dan Arita, S., 2019 Pengolahan Lindi TPA Talang Gulo Kota Jambi Dengan Metode Fenton Dan          Adsorpsi, Jurnal Indonesian Journal oF Fundamental And Applied Chemistery, No 1 Vol 4, February, 2019, hal 20-24

    Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber daya air.

  •         Dewasa ini, kebutuhan dan permintaan akan bahan bakar minyak yang biasa dikenal dengan BBM terutama gasoline atau bensin terus mengalami peningkatan. Tercatat di Statistik Migas Kementerian ESDM, kebutuhan Indonesia akan bahan bakar minyak mencapai 70,9 juta kilo liter (KL) untuk tahun 2018. Angka ini meningkat sejauh 2,7 juta KL dari tahun sebelumnya yang berarti peningkatannya sekitar 4% dengan gasoline atau bensin menempati posisi kedua terbanyak dikonsumsi. Berbanding terbalik dengan jumlah pemintaan, persediaan akan minyak mentah sebagai bahan baku pembuatan BBM terus mengalami penurunan secara signifikan. Dikutip dari Katadata.co.id dan CNN Indonesia, persediaan minyak mentah per bulan Desember 2018 menurun sekitar 350 ribu barel perharinya. Hal ini membuat harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/IPC) kini melambung tinggi sekitar USS 63,60 perbarrel pada Maret lalu, naik sebesar 3,6% dari bulan sebelumnya (Data Kementerian ESDM). Sedangkan harga minyak dunia menanjak naik sekitar 1 % pada Februari lalu.

    Sumber : Statistik Migas Kementerian ESDM

           Bukannya tidak beralasan, dikutip dari Katadata.co.id, penurunan persediaan ini dikarenakan adanya kesepakatan sesama negara anggota OPEC (Organization of The Petroleum Exporting Countries) untuk memangkas produksi minyak mentah yang telah dimulai sejak Januari 2019 lalu. Tak tanggung-tanggung, pemangkasan produksi ini mencapai 1,2 juta barel per hari (bph). Selain itu, faktor lainnya dikarenakan pernyataan Arab Saudi terkait rencana pengurangan produksi minyak mentah menjadi 9,8 juta barel bph pada bulan Maret 2019 dan karena terpotongnya main power cable pada lapangan minyak mentah offshore terbesar didunia yaitu Lapangan Safaniyah di Arab Saudi yang menyebabkan penurunan produksi minyak mentah.

            Dibidang lingkungan, dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan bahan bakar minyak bumi terhadap lingkungan terlihat memprihatinkan. Dikutip dari Hadeel, dkk (2011), untuk menjalankan mesin motor, bensin dibakar untuk mendapatkan cukup energi, tetapi ketika pembakaran terjadi tidak hanya energi berupa kerja yang dihasilkan. Terdapat pula beberapa emisi yang dilepaskan seperti karbon diosida, dan bahan beracun lainnya yang akan bereaksi jika terkena sinar matahari. Hasilnya, terjadi polusi pada atmosfer (gas rumah kaca) dan sangat berpotesi menimbulkan kerusakan pada lapisan ozon. Kerusakan pada lapisan ozon akan memicu terjadinya global warming yang ditandai dengan meningkatnya suhu atmosfer. Tentu saja hal ini akan mengganggu keseimbangan ekosistem di bumi.

          Untuk menjawab beberapa permasahalan yang dijelaskan diatas, salah satu jalannya adalah dengan menggunakan energi alternatif terbarukan seperti bioetanol. Menurut Bambang Prastowo (2007) dalam Haluti, S (2014), bioetnaol merupakan etil alkohol (C2H5OH) yang dapat dibuat dengan cara sintesis etilen atau dengan fermentasi glukosa dari bahan baku hayati. Keunggulan bioetanol menurut Litya dan Iskandar (2014) antara lain dapat menurunkan emisi gas berbahaya (CO, NO, dan SO2) dan menghasilkan gas rumah kaca yang sangat rendah bila dibandingkan dengan pembakaran minyak bumi. Selain itu, juga dapat menurunkan emisi senyawa organik hidrokarbon, benzena karsinogenik, butadiena dan emisi partikel yang dihasilkan dari pembakaran minyak bumi. Kini, bioetanol juga telah gencar diproduksi diberbagai negara untuk menggantikan bahan bakar seperti di Amerika Serikat dimana bioetanol yang diproduksi berasal dari tongkol jagung dan berhasil memproduksi sekitar 14 juta m3 pada tahun 2014 (Arlianti, L, 2018). 

            Jika dibandingkan, etanol lebih baik daripada bensin karena memiliki angka research octane 108,6 dan motor octane 89,7, angka tersebut melampaui nilai maksimum yang mungkin dicapai oleh bensin, yaitu research octane 88 (Perry, 1999 dalam Haluti, S, 2014). Dengan nilai oktan yang tinggi, proses pembakaran menjadi lebih sempurna dan dapat digunakan sebagai bahan peningkat oktan (octane enhancer) menggantikan senyawa eter dan logam berat seperti Pb sebagai anti-knocking agent yang memiliki dampak buruk terhadap lingkungan. Akan tetapi untuk memaksimalkan kualitas bioetanol sebagai bahan bakar pada spesifikasi mesin motor kendaraan saat ini, bioetanol perlu di campur dengan bahan bakar (blending). Bioetanol yang dicampur tidak boleh mengandung air sama sekali (Haluti, S, 2014). Blending gasoline dengan bioetanol ini biasa dikenal dengan gasohol, keuntungannya adalah untuk mengemat bensin yang persediaannya semakin menipis serta sebagai BBM ramah alam atau biasa dikenal dengan green energy. Normalnya campuran bioetanol yang digunakan sekitar 5-25%, salah satu produknya dikenal dengan E25 (25% etanol dan 75% bensin).

           Indonesia adalah negara kaya dengan hasil pertanian yang melimpah. Sebagian besar komoditi utama pertanian Indonesia didominasi oleh bahan baku pembuatan etanol seperti ubi kayu, padi, pisang, jagung dan lainnya. Salah satu bahan yang dapat diolah menjadi bioetanol adalah tongkol jagung. Tongkol jagung merupakan 30% bagian jagung. Menurut data dari Kementerian Pertanian, jagung disebut sebagai salah satu komoditi  utama pertanian di Indonesia dengan produksi pertahunnya mencapai sekitar 30 juta ton untuk tahun 2018. Berikut tersaji data mengenai produksi dan kebutuhan jagung setiap tahunnya dimulai dari tahun 2014 hingga tahun 2018.

    Sumber : Buku Statistik Pertanian (Agricultural Statistics)

    Terlihat bahwa produksi jagung di Indonesia terus mengalami peningkatan dengan pertumbuhan produksi sekitar 3.91%. Volume impor jagung ke Indonesia juga terjun bebas sekitar 46,34% , sedangkan volume ekspor jagung merangkak naik ke angka 12,14% pada tahun 2018. Luas area panen pun mengalami peningkatan, artinya setiap tahun terdapat lahan-lahan baru yang dibuka untuk memperbesar angka produksi. Hal in tentu mencerminkan bahwa saat ini produksi jagung di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. 

             Kita tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa tongkol jagung dapat digunakan sebagai bahan pembuatan bioetanol. Menururt Irawadi (1990) dalam Fachry, dkk (2013), karakteristik kimia dan fisika dari tongkol jagung sangat cocok untuk pembuatan tenaga alternatif bioetanol, kadar senyawa kompleks lignin dalam tongkol jagung adalah 15-30%, untuk hemiselulos 20-30% , dan selulos 40-60%. Pengolahan tongkol jagung menjadi bioetanol sendiri dapat dilakukan dengan fermentasi menggunakan bahan tambahan lain berupa bahan yang mengandung gula. Fermentasi dilakukan dengan bantuan ragi, biasanya menggunakan Saccharomyces cerevisiae. Sebelum difermentasi, tongkol jagung perlu di treatment dengan NaOH dan dihidrolisis dengan HCl. Pengolahan ini bergantung kepada konsentrasi gula, bahan nutrient, pH fermentasi, temperatur dan waktu yang diperlukan untuk fermentasi. Dengan komposisi yang tepat, akan diperoleh kadar etanol yang berkualitas tinggi dari setiap massa tongkol jagung. Menurut Richana (2008) dalam Haluti, S (2014), satu ton tongkol jagung dapat menghasilkan sekitar 142,2 liter bioetanol. Bioetanol dari tongkol jagung juga memiliki energi kalor sebesar 12,1 MJ/kg yang menunjukkan bahwa tongkol jagung mempunyai potensi untuk digunakan sebagai bahan pembuatan etanol.

         Melalui penjabaran diatas, terlihat bahwa melimpahnya produksi jagung di Indonesia dan tingginya kandungan selulosa serta nilai kalor mengindikasikan tongkol jagung memiliki potensi sebagai bahan baku pembuatan bioetanol untuk menggantikan bahan bakar dengan permintaan  pasar yang tinggi atau sebagai bahan campuran bahan bakar bensin agar memperoleh angka oktan maksimal pada spesifikasi motor kendaraan saat ini. Selain itu agar bahan bakar yang digunakan memiliki label "bahan bakar ramah alam (green energy)". Karena saat ini tongkol jagung hanya dianggap sebagai limbah tak bernilai jual tinggi, diharapkan agar potensi ini tidak dipandang sebelah mata, mengingat perlunya pembaruan energi yang juga telah ramai dilakukan oleh berbagai negara untuk menjawab tantangan krisis energi dan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman kedepannya.

     

     

    Daftar Pustaka :

    Arlianti, L. (2018). Bioetanol Sebagai Sumber Green Energy Alternatif yang Potensial di Indonesia. Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknik Vol. 5(1), 16-22.

    CNN Indonesia. (2019). Stok Global Menipis, Harga Minya Dunia Melonjak. (online) https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190207070722-85-367021/stok-global-menipis-harga-minyak-dunia-melonjak. (Diakses pada 18 April 2019).

    Fachry, A., & dkk. (2013). Pembuatan Bioetanol Dari Limbah Tongkol Jagung dengan Variasi Konsentrasi Asam Klorida dan Waktu Fermentasi. Jurnal Teknik Kimia Vol. 1(1), 60-69.

    Hadeel, A., & dkk. (2011). Bioethanol Fuel Froduction From Rambutan Fruit Biomass as Reducing Agent of Global Warming and Greenhouse Gases. African Journal of Biotechnology Vol. 10(50), 10157-10165.

    Haluti, S. (2014). Pemetaan Potensi Limbah Tongkol Jagung Sebagai Energi Alternatif Di Wilayah Provinsi Gorontalo. Surabaya: ITS.

    Kementerian ESDM. (2018). Statistik Migas - Penjualan BBM. (online) http://statistik.migas.esdm.go.id/index.php?r=konsumsiBbm/index. (Diakses pada 18 April 2019).

    Kementerian Pertanian. (2018). Statistik Pertanian (Agricultural Statistics). Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

    Litya, J., & Iskandar. (2014). Pembuatan Bioetanol dari Tebu dan Ubi Jalar Serta Pengujian Pada Motor Bakar Torak. Jurnal TeknikA Vol. 21(2), 45-56.

    Nafi, M. (2019). Badan Energi: Isu Geopolitik Mengkhawatirkan Pasar Minyak Dunia. (online) https://katadata.co.id/berita/2019/03/12/badan-energi-isu-geopolitik-mengkhawatirkan-pasar-minyak-dunia. (Diakses pada 18 April 2019).

    Setiawan, V. (2019). Produksi Dunia Berkurang, Harga Minyak Indonesia Februari Naik 8,4%. (online) https://katadata.co.id/berita/2019/03/08/produksi-dunia-berkurang-harga-minyak-indonesia-februari-naik-84. (Diakses pada 18 April 2019).

  • KALIBERAU PENGHAMBAT KRISIS MIGAS DI INDONESIA

    Oleh: Untung Waluyo (03031181722011)

    Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alamnya termasuk minyak dan gas bumi (migas). Industri minyak dan gas bumi (migas) sudah lama menjadi tulang punggung negara Indonesia. Namun Indonesia belum begitu banyak mengetahui bagaimana mekanisme pengolahan minyak dan gas (migas). Sehingga menyebabkan negara Indonesia kedepannya akan mengalami krisi migas. Dalam hal ini terdapat fakta-fakta mengenai krisisnya minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia.

    Dikutip dari Liputan6, negara Indonesia saat ini kekurangan minyak dan gas, ternyata negara Indonesia saat ini sudah menjadi net oil importer dari tahun 2004, sehingga dalam hal ini mengakibatkan impor minyak Indonesia dari negara lain lebih besar daripada ekspor minyak dari dalam negeri ke luar negeri. Pada saat ini dalam negeri hanya mampu memproduksi sekitar 800 ribu barel minyak per hari, sementara konsumsi minyak dalam negeri yang dibutuhkan adalah mencapai 1,6 juta barel minyak per hari. Selain itu apabila dilihat dari sisi gas bumi, saat ini Indonesia sebenarnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan gas secara domestik. Namun, lapangan gas bumi yang ada di Indonesia kebanyakan berlokasi sangat jauh dari pemukiman dan juga jauh dari pusat industri yang mengelolah gas bumi tersebut, hal lain yang dapat menghambat juga adalah infrastruktur penerimaan gas belum begitu memadai di Indonesia, sehingga menyebabkan tidak semua gas bumi yang dimiliki alam Indonesia tidak dapat tererap dengan sempurna. Hal lain yang perlu dicermati dalam hal yang dapat menyebabkan kurangnya minyak dan gas bumi (migas) indonesia adalah  pertumbuhan konsumsi gas dalam negeri mengalami peningkatan di setiap tahunnya, dimana rata-rata pertumbuhan kebutuhan migas naik 9 persen di setiap tahunnya. Dalam hal ini apabila Indonesia dalam penambahan cadangan lambat dari pada pertumbuhan konsumsi maka akan menyebabkan Indonesia impor dari negara lain.

    Indonesia apabila di bandingkan dengan negara-negara lain, masih sangat ketinggalan jauh untuk cadangan migasnya. Di kutip dari Liputan6, menurut data pada Dirjen Migas, cadangan minyak bumi di Indonesia pada januari 2016 hanya 3,3 miliar barel dan 101,2 triliun kaki kubik untuk gas. Sedangkan menurut BP Statistical Review 2016, cadangan minyak indoneia hanya sebesar 0,2 persen dari total cadangan minyak dunia. Sedangkan untuk gas, cadangan terbukti hanya 1,5 persen dari cadangan gas dunia. Tanpa adanya penambahan cadangan baru, kesenjangan antara konsumsi migas dengan produksi migas yang di hasilkan semakin melebar. Menurut data dari SKK Migas, tren lifting migas di Indonesia mengalami penurunan. Lifting migas telah turun dari 2,34 juta barel setara minyak per hari di tahun 2010 menjadi 1,96 juta barel setara minyak per hari di tahun 2015. Sehingga apabila tanpa adanya penemuan cadangan migas baru, maka lifting diperkirakan akan terus merosot menjadi 1,75 juta barel yang setara minyak per hari di tahun 2020. Cadangan minyak bumi di Indonesia diperkirakan hanya cukup untuk 12 tahun saja, sedangkan cadangan gas akan habis 37,8 tahun lagi. Tentunya hal ini bisa dicegah apabila penambahan cadangan migas berhasil ditemukan.

    untung 1

    Sumber:www.jawapos.com

    Secara geologis alam Indonesia masih kekayaan cadangan migas yang begitu menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan migas di Indonesia itu sendiri. Dalam kurun waktu hangat-hangat ini dunia perindustrian migas dikejutkan dengan berita penemuan cadangan gas di wilayah kerja Sakakemang, Musi Banyuasin,  Sumatera Selatan. Dimana di kutip dari Kata Data penemuan ini masuk dalam 4 besar penemuan cadangan gas terbesar di dunia pada tahun 2018-2019 dan terbesar di Indonesia dalam 2 dekade terakhir sehingga menjadi bukti bahwa alam Indonesia masih menyimpan cadangan migas dan lain itu juga dengan adalanya penemuan ini dapat pemicu untuk mencgeksplorasi keberadaan cadangan migas di alam Indonesia.

     

    Sumber: http://m.katadata.co.id

    Penemuan ini dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Repsol melalui sumur Kaliberau Dalam-2X. Di kutip dari JawaPos sumur Kaliberau ini diperkirakan memiliki potensi cadangan migas kurang lebih 2 triliun kaki kubik gas (TCF). Akan tetapi jumlah tersebut merupakan asumsi saat ini, sehingga masih ada kemungkinan terdapata pontensi cadangan migas lainnya di lokasi tersebut. Pada awal Februari 2019, Respol dan SKK Migas menemukan potensi cadangan dengan kedalaman sumur mencapai target 2.430 MD. Keberhasilan sumur KBD2X, akan membuka eksplorasi dengan target fractured basement di Sumatera Selatan.

    Sehingga dapat dicermati dengan adanya penemuan cadangan gas di sumur Kaliberau Dalam-2X ini menjadi pemicu untuk mencegah terjadinya krisis migas di Indonesia untuk kedepannya dan dapat menambah pendapatan negara untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia, di samping menambah dana bagi hasil (DBH) migas di daerah Musi Banyuasin sebagi dearah penghasil. Selain itu juga, penemuan gas ini dapat menjadikan aset vital energi negara dimana dapat memenuhi kebutuhan pembangkit listrik, penggunaan jaringan gas di daerah setempat dan juga dapat menyerap tenaga kerja lokal semaksimal mungkin, sehingga dapat meminimalisir angka kemiskinan di daerah serta untuk pembangunan Sumatera Selatan, khususnya daerah Musi Banyuasin itu sendiri.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    JawaPos. 2019. Penemuan Besar, Potensi Gas Blok Sakamemang Hingga 2 Tcf.www.jawapos/24/02/2019/penemuan-besar-potensi-gas-blok-sukamemang-hingga-2-tcf. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

    Liputan6. 2017. Enam Fakta Migas Indonesia yang Wajib Kamu Tahu. www.liputan6.com/read/2017/03/27/ enam-fakta-migas-indonesia-yang-wajib-kamu-tahu. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

    Setiawan, V. 2019. Blok Sakakemang, Temukan Gas Terbesar ke-4 Dunia dalam Dua Tahun. http://m.katadata.co.id/berita/2019/02/22/blok-sekakemang-temukan-gas-terbesar-ke-4-dunia-dalam-dua-tahun. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

    Wulandari, D. 2019. Musi Banyuasin Masih Potensial Sumber Migas Nasional. http://m.bisnis.com/sumatra/read/20190222/534/892239/musi-banyuasin-masih-potensial-sumber-migas-nasional. (Diakses pada tanggal 20 April 2019).

     

     

     

     

  • KEBOCORAN PADA PENGEBORAN MINYAK BUMI

          Berdasarkan teori, minyak bumi terbentuk dari proses pelapukan jasad renik (mikroorganisme) yang terkubur di bawah tanah sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Dimana dua ratus juta yang lalu bumi lebih panas dibandingkan sekarang. Laut yang didiami jasad renik berkulit keras sangat banyak jumlahnya jika jasad renik itu mati, kemudian membusuk sehingga jumlahnya makin lama makin menumpuk, kemudian tertutup oleh sedimen, endapan dari sungai, atau batuan-batuan yang berasal dari pergeseran bumi. Di sini kemudian terjadi pembusukan oleh bakteri anaerob, dan akibat pada tekanan tinggi sedimen, maka setelah berjuta-juta tahun terbentuklah minyak bumi dan gas alam tersebut.Karena proses pembentukan minyak bumi memerlukan waktu yang lama, maka minyak bumi digunakan pada sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable). (Menurut Fatihan,2006).

          Hasil pengolahan minyak bumi  dapat dimanfaatkan di bidang industri untuk memproduksi beberapa produk kimia seperti cat minyak, cat dinding, cat mobil dan cat kayu. Minyak bumi juga dimanfaatkan untuk menghasilkan polimer yang digunakan di industri plastik. Manusia sangat bergantung dengan plastik  dalam kehidupan sehari-hari sebagai tempat untuk meletakkan benda.

          Dilansir dari berita www.BBC.com, sejak tahun 1850 kita telah memanfaatkan lebih dari 135 milyar ton minyak bumi, dan akan terus bertambah di kemudian hari. Di sisi lain, persediaan minyak bumi semakin lama semakin berkurang. Hal tersebut mencerminkan seberapa penting minyak bumi berperan dalam kehidupan kita. Sumber minyak bumi dapat ditemukan di bawah permukaan yang berbentuk kubah biasanya di darat (yang dulunya lautan) atau di lepas pantai, setelah itu dilakukan pengeboran dengan cara menanam jalur pipa di dasar laut dan memompa minyak tersebut ke daratan atau dengan cara lainnya yakni membuat anjungan di minyak bumi dan selanjutnya dibawa oleh kapal tanker menuju daratan.

        Namun, pada praktiknya, saat dilakukan pengeboran pada  tempat pengeboran dan kilang minyak sangat rawan terjadinya kebocoran sehingga dapat menyebabkan ledakan dan menimbulkan kebakaran besar. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kebocoran seperti :

    1. Pengeboran yang tidak sesuai dengan prosedur (illegal)

    Prosedur yang baik tentu memiliki kriteria tertentu dengan standarnya masing-masing. Namun pada kenyataannya,ada beberapa pihak tidak mengikuti kriteria tersebut. Dilansir dari  www.ekonomi.bisnis.com , banyak yang menggunakan peralatan yang tidak sesuai standar, penggunaan peralatan advance di luar persetujuan Pertamina EP, menambah koordinat pengeboran, penyimpangan delivery order, dan penyerahan minyak ke pihak selain negara.

    1. Pipa terhantam benda keras dan bencana alam

    Gangguan dari luar ataupun terjadinya bencana alam dapat mempengaruhi tanah yang ada di bawah permukaan. Maka dari itu, pipa yang digunakan untuk pengeboran minyak bumi haruslah sesuai dengan standar yang ada, sehingga ketika terjadi gangguan dari luar terhadap pipa diharapkan pipa tersebut dapat tahan terhadap kebocoran ataupun kerusakan lainnya.

    1. Kesalahan manusia (human error)

    Teknisi yang ada harus paham dengan mekanisme pengeboran. Terutama dalam menentukan titik pengeboran yang tepat sehingga tidak merusak struktur di bawah permukaan tanah dimana ada tidaknya bahan yang berbahaya.

         Berkaitan dengan hal tersebut, kita dapat mengetahui bahwa pengeboran minyak bumi sangat rentan akan terjadinya kebocoran. Maka dari itu, agar  berjalan dengan lancar tanpa mencemari lingkungan dan merugikan orang banyak, ada beberapa aspek yang harus dilakukan terhadap pengeboran minyak bumi yaitu :

    1. Memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada para pekerja

    Penyuluhan sangatlah penting diberikan kepada para pekerja, terutama yang baru mengenal bidang yang bersangkutan. Sehingga para pekerja tersebut mendapatkan bekal berupa teori yang berhubungan dengan pengeboran minyak bumi tersebut. Selanjutnya praktiknya dilakukan pada pelatihan dasar, hal ini diharapkan agar para peserta tidak gugup ketika melakukan pekerjaan tersebut dan dapat terbiasa dengan hal yang bersangkutan.

    1. Meningkatkan peraturan sesuai dengan SOP yang ada dan ketentuan yang berlaku.

    SOP atau Standard Operating Proceduremenjadi suatu petunjuk dan acuan untuk setiap pekerjaan yang ada. Logikanya, pekerjaan akan maksimal jika mengikuti SOP tersebut. Maka dari itu, SOP wajib dipatuhi. Namun, kenyataan di lapangan, banyak SOP yang diturunkan standarnya atau bahkan sengaja di lewatkan, sehingga pengeboran pada pipa minyak bumi sangat rentan terjadi. Selain itu, pipa yang digunakan untuk pengeboran juga harus sesuai dengan standar yang ada, yakni menggunakan standar American Petroleum Institute (API). Seperti besi yang digunakan tidak boleh berkarat, dan lain sebagainya. Hal ini tentu sangat disayangkan. Memang tujuannya untuk menghemat ataupun ada unsur korupsi, tetapi pada akhirnya akan sangat merugikan bila terjadi kebocoran di pipa tersebut.

    1. Terlibatnya pemerintah dalam pengawasan dan pemeriksaan terkait pengeboran yang ada.

    Sesuai dengan aturan yang berlaku, pemeriksaan operasional pipa dilakukan setiap lima tahun sekali. Tentunya pemerintah dan pihak yang memegang aset minyak bumi tersebut haruslah saling berkoordinasi, baik itu pihak yang memegang aset minyak bumi rutin dalam melapor kepada pemerintah dan juga sebaliknya, pemerintah rutin mengecek kenyataan di lapangan. Jangan sampai tidak ada sinkronisasi di dalamnya, sehingga pada akhirnya kebocoran pipa dapat dicegah dan diminimalisir.

         Manusia pada dasarnya sangat bergantung pada penggunaan minyak bumi. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari yakni, pada saat kita memasak dengan LPG sebagai bahan bakar untuk kompor. Adapun contoh lainnya pada saat kita berpergian menuju suatu tempat menggunakan transportasi, dengan minyak bumi sebagai bahan bakar transportasi tersebut dan bahkan aspal, tempat dimana transportasi tersebut berjalan, juga merupakan hasil residu dari pengolahan minyak bumi juga. Dengan kata lain, minyak bumi sangat susah untuk dipisahkan dari kehidupan manusia. Maka dari itu, sangat disayangkan apabila terjadi kebocoran pipa terhadap minyak bumi. Tentunya, jika kita bersama-sama mengingat pentingnya minyak bumi, maka pasti tidak akan ada pelanggaran yang terjadi dan kebocoran minyak bumi akan dapat diminimalisir atau bahkan diatasi.

  •  

    Minyak bumi telah kita gunakan dalam industri-industri sejak era revolusi industry, serta memiliki presentase yang signifikan dalam memenuhi konsumsi energy dunia. Tak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan kita, masyarakat Indonesia akan minyak bumi terbilang cukup tinggi.  Sementara hingga saat ini kita tidak dapat memproduksi minyak bumi (energi tak terbarukan).Terkait, jika tren penggunaan bahan bakar ini terus meningkat, suatu saat manusia akan kehabisan energi minyak bumi. Mempelajari minyak bumi merupakan langkah awal yang sangat baik agar kita dapat mencari solusi atas masalah energi yang akan membahas masa depan.

    Perlu kita ketahui, proses pembentukan minyak bumi ini sangat berpengaruh terhadap cuaca dan kondisi bumi yang berubah-ubah setiap waktunya. Oleh karena itulah minyak bumi merupakan salah satu sumber minyak yang jumlahnya terbatas. Minyak bumi di Indonesia sebagai sumber daya alam tak terbarukan sampai saat ini memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia karena porsinya yang sangat besar sebagai salah satu sumber penerimaan Negara. Sayangnya, profil cadangan dan produksi minyak bumi semakin lama justru semakin menurun. Menurut SKK-MIGAS, produksi minyak mentah akan terus menurun dengan rata-rata sebesar 5,8% per tahun, sehingga dengan kebutuhan minyak yang terus meningkat akan menyebabkan impor juga semakin meningkat. Apabila tidak menemukan cadangan baru yang cukup besar, impor minyak diperkirakan akan meningkat lebih dari 8 kali lipat dari 113 juta barel pada tahun 2013 menjadi 953 juta barel pada tahun 2050. Pada kurun waktu 2013-2050 kebutuhan minyak mentah diperkirakan akan meningkat lebih dari 3 kali lipat dengan pertumbuhan rata-rata 3,3% per tahun. Berdasarkan data dari Dewan Energi Nasional, prediksi penggunaan minyak dan gas bumi sampai tahun 2025 masih memegang proporsi tertinggi, yaitu 53% dan selanjutnya disusul batubara sebesar 22%, sisanya sumber energy yang lain.

    Sejak tahun 1990-an produksi minyak mentah Indonesia telah mengalami tren penurunan yang berkelanjutan karena kurangnya eksplorasi dan investasi di sektor ini. Dibeberapa tahun terakhir sektor minyak dan gas negara ini sebenarnya menghambat pertumbuhan PDB. Target produksi minyak, ditetapkan oleh Pemerintah setiap awal tahun, tidak tercapai untuk beberapa tahun berturut-turut karena kebanyakan produksi minyak berasal dari ladang-ladang minyak yang sudah menua. Saat ini, Indonesia memiliki kapasitas penyulingan minyak yang kira-kira sama dengan satu dekade lalu, mengindikasikan bahwa ada keterbatasan perkembangan dalam produksi minyak, yang menyebabkan kebutuhan saat ini untuk mengimpor minyak demi memenuhi permintaan domestik.

    Produksi

    Dari data di atas dapat dilihat bahwa produksi minyak bumi dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Kurangnya eksplorasi dan investasi-investasi lain di sektor minyak ini telah menyebabkan penurunan dalam produksi minyak Indonesia yang disebabkan karena manajemen yang lemah dari pemerintah, birokrasi yang berlebihan, kerangka peraturan yang tidak jelas serta ketidakjelasan hukum mengenai kontrak. Hal ini menciptakan iklim investasi yang tidak menarik bagi para investor, terutama bila melibatkan investasi jangka panjang yang mahal.

    Konsumsi

    Sedangkan konsumsi minyak bumi dari tahun ke tahun justru mengalami peningkatan. Secara kontras, konsumsi minyak Indonesia menunjukkan tren naik yang stabil. Karena jumlah penduduk yang bertumbuh, peningkatan jumlah penduduk kelas menengah, dan pertumbuhan ekonomi; permintaan untuk bahan bakar terus-menerus meningkat. Karena produksi domestik tidak bisa memenuhi permintaan domestik, Indonesia setidaknya harus mengimpor sekitar 350.000 sampai 500.000 barel bahan bakar per hari dari beberapa negara.

    Pemerintah sampai sekarang masih mencari alternative untuk menangani kasus ini, juga memiliki harapan tinggi untuk memulihkan kekuatan sektor minyak karena negara ini masih memiliki cadangan minyak yang besar, dan permintaan minyak (terutama domestik) yang meningkat.

  • Nama : Vania Riana Rumenta

    NIM : 03031181722020

    TEKNIK KIMIA B

    UNIVERSITAS SRIWIJAYA

     

    Bahan bakar yang biasa dipakai pada kendaraan di Indonesia kebanyakan bersumber dari minyak bumi. Minyak bumi tersebut yang kemudian di proses untuk dijadikan bahan bakar, pelumas, bahan dasar aspal, dan lain-lain nya. Minyak bumi atau disebut juga bahan bakar fosil terbentuk dan bahan renik yang tertimbun jutaan tahun yang lalu dengan tekanan dan suhu yang tinggi. Minyak bumi atau petroleum - bahan bakar fosil yang merupakan bahan baku untuk bahan bakar minyak, bensin dan banyak produk-produk kimia - merupakan sumber energi yang penting karena minyak memiliki persentase yang signifikan dalam memenuhi konsumsi energi dunia.

    Minyak mentah disinyalir memegang peranan penting dalam berbagi industri dan menjaga peradaban manusia. Sehingga emas hitam tersebut mengambil perhatian dari berbagai negara. Saat ini minyak mentah diakui sebagai sumber energi paling besar di seluruh penjuru dunia. Persentase pemakaian dari wilayah Eropa dan Asia yakni 32% dan wilayah Timur Tengah mencapai angka 53%. Jika ditotalkan konsumsi minyak mentah seluruh dunia sampai saat ini menginjak angka 30 juta barrel per tahun. Negara maju kebanyakan menjadi pengkonsumsi minyak mentah paling besar.

    Produksi minyak mentah Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 1990an dan berkelanjutan karena kurangnya eksplorasi dan investasi dalam mengelola minyak mentah tersebut. Target produksi minyak yang sudah ditetapkan tidak tercapai dalam kurun waktu panjang karena kebanyakan produksi minyak berasal dari ladang-ladang minyak yang sudah menua. Saat ini, Indonesia memiliki kapasitas penyulingan minyak yang kira-kira sama dengan satu dekade lalu, mengindikasikan bahwa ada keterbatasan perkembangan dalam produksi minyak, yang menyebabkan kebutuhan saat ini untuk mengimpor minyak demi memenuhi permintaan domestik.

    Berbanding terbalik dengan jumlah produksi, di sisi konsumsi, terjadi peningkatan yang stabil dari segi konsumsi minyak Indonesia yang disebabkan dari jumlah penduduk yang terus bertumbuh dan adanya pertumbuhan ekonomi yang signifikan sehingga permintaan bahan bakar terus-menerus meningkat. Karena permintaan penduduk atau permintaan pasar yang meningkat dan berbanding terbalik denga jumlah produksi, pemerintah Indonesia kemudian harus mengimpor bahan bakar per hari dari berbagai negara. Tidak mampunya mengimbangi besarnya konsumsi bahan bakar minyak dengan jumlah produksi bahan bakar di Inonesia sehingga terpaksa Indonesia melakukkan impor minyak untuk memenumi kebutuhan tersebut. Hal ini dikarenakan tidak ditemukannya sumur baru.

    Berkaitan dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, meningkat pula jumlah daya beli terhadap barang-barang yang tergolong mewah seperti motor, mobil, dan lain-lain. Daya beli terhadap kendaraan yang meningkat harus diimbangi dengan penyediaan bahan bakar maka pemerintah kemudian harus menyediakan bahan bakar yang mencukupi permintaan atau keinginan rakyat tersebut. Masalahnya adalah kendaraan di Indonesia masih menggunakan bahan bakar dari minyak bumi atau bahan bakar fosil tersbut. Dimana kita semua tahu bahwa jumlah ketersediaan dari bahan bakar fosil tersebut terbatas dan tidak sepenuhnya mampu untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan rakyat yang kemudian terjadilah krisis minyak bumi. Cadangan dan produksi bahan bakar fosil di Indonesia mengalami penurunan 10% setiap tahunnya sedangkan tingkat konsumsi minyak rata-rata naik 6% per tahun (dari data 2014).

    Menurut Statistical World Review yang dirilis oleh Bristish Petrolium pada Juni 2012, diberitakan bahwa cadangan minyak di dalam perut bumi hanya tersisa sekitar 4 miliar barel pada akhir tahun 2011. Berdasarkan data BP Statistical Review of World Energy yang dirilis Juni 2016, cadangan minyak bumi Indonesia pada akhir 2015 hanya sebesar 3,6 miliar barrel. Jika dibandingkan dengan cadangan minyak dunia yang jumlahnya sekitar 1,7 triliun barrel, jumlah cadangan minyak Indonesia tersebut hanyalah 0,2 persennya saja.

    Semakin banyaknya bahan bakar yang harus di impor ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sehubung dengan meningkatnya nilai minyak bumi dunia, pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM di Indonesia dan kemudian mengeluarkan subsidi bahan bakar yang ditujukan untuk masyarakat kalangan bawah. Namun hal itu juga sangat dimanfaatkan oleh masyarakat kalangan menegah dan kalangan atas sehingga yang awalnya subsidi menggunakan APBN negara, negara terpaksa menanggung utang yang kian menumpuk dan kemudian menghapuskan subsidi bbm tersebut. Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk menghapuskan subsidi bensin pada Januari 2015 (sebuah tindakan yang relatif mudah karena rendahnya harga minyak bumi dunia pada awal 2015) sambil memperkenalkan subsidi tetap sebesar Rp 1.000 per liter untuk diesel. Tindakan ini didukung oleh organisasi-organisasi internasional seperti Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF).

    Sebagai solusi permasalahannya adalah diperlukannya diversifikasi energi selain minyak bumi. Salah satu diversifikasi energinya adalah dengan memproduksi minyak biodiesel. Minyak biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang terbuat dari sumber daya alam yang dapat diperbarui, meliputi minyak tumbuhan dan hewan, baik di darat maupun di laut. Pada sektor darat dan laut, total sumber penghasil minyak biodiesel lebih dari 50 jenis, meliputi kelapa sawit, jarak pagar, minyak jelantah, kelapa, kapuk/randu, nyamplung, alga, dan lain sebagainya. Biodiesel ini dapat dijadikan sebagai bahan bakar pengganti solar, sebab komposisi fisika-kimia antara biodiesel dan solar tidak jauh berbeda.

    Menurut LEMHANNAS RI, hal pertama yang menjadi permasalahan adalah belum tersedianya infrastruktur yang memadai dari produksi energi terbarukan karena masih terkendala pendanaan dan kesinambungan dalam pengembangannya. Kedua, dibutuhkannya langkah- langkah tepat dalam prosedur pelaksanaan dan pemanfaatan energi terbarukan. Ketiga, bagaimana merubah paradigma dan pemikiran masyarakat dalam mengurangi dan menggunakan energi dengan efektif dan hemat.

  •        Minyak bumi merupakan sumber energi utama dan sumber devisa negara. Namun demikian, cadangan minyak bumi yang dimiliki Indonesia jumlahnya terbatas. Sementara itu, kebutuhan manusia akan energi semakin meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Minyak bumi merupakan salah satu sumber energi yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu produk turunan minyak bumi yang banyak digunakan oleh masyarakat umum adalah Bahan Bakar Minyak (BBM). Berdasarkan data kementerian energi dan sumber daya mineral (ESDM) konsumsi bahan bakar minyak di Indonesia dari tahun 2015 – 2017 mengalami kenaikan,tercatat konsumsi BBM (Bahan Bakar Minyak) pada tahun 2017 hampir mencapai 71 juta kiloliter. Diesel oil atau lebih sering disebut sebagai solar merupakan jenis bahan bakar minyak yang paling banyak kedua digunakan dibawah bensin. Hal ini tidak terlepas bahwa sebagian besar kendaraan pengangkut logistik menggunakan solar sebagai bahan bakar.Tingginya konsumsi bahan bakar minyak masyarakat dan menurunnya produksi minyak dalam negeri menyebabkan negara harus mengimpor minyak dari luar negeri yang mengakibatkan neraca perdagangan negara mengalami defisit hingga mencapai US$ 12,4 Milliar pada tahun 2018 atau naik sekitar 44 % dari tahun 2017 menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS).

        Untuk mengatasi defisit neraca dagang sekaligus mengurangi impor bahan bakar dari luar,pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa Peraturan Menteri (Permen) no 41 Tahun 2018.Dimana kebijakan ini mengatur mengenai badan usaha bahan bakar minyak wajib melakukan pencampuran  bahan bakar  antara solar  dengan bahan bakar nabati biodiesel dengan presentasi sebesar 20%. Namun, kebijakan pemerintah dalam rangka mewajibkan penggunaan B20 mendapatkan banyak kritikan dari masyarakat khususnya pengusaha perusahaan angkutan yang merasa dirugikan .Gagasan yang penulis pikirkan adalah bagaimana seharusnya pemerintah menerapkan kebijakan ini tanpa menimbulkan konflik  yang berkepanjangan dan tidak merugikan bagi masyarakat yang menggunakan bahan bakar B20 tersebut.

     

    Identifikasi Topik Bahasan

     

    Biodiesel

            Biodiesel sendiri merupakan bahan bakar kendaraan terbarukan yang mengandung Fatty Acid Methyl Ester (FAME),biodiesel secara umum diproduksi  dengan cara transestersifikasi dari minyak tumbuhan maupun dari lemak hewan. Dalam reaksi ini,trigliserida sebagai komponen utama dari minyak nabati bereaksi dengan alkohol menghasilkan fatty acid monoalkil ester dan gliserol. Minyak nabati yang digunakan sebagai biodiesel umumnya dibedakan atas 2 kategori yaitu Straight Vegetable Oils (SVO) dan Waste Vegetable Oils (WVO). Sesuai dengan namanya, SVO adalah minyak nabati mentah yang langsung digunakan setelah diekstrak dari sumbernya, sementara WVO adalah minyak nabati yang telah digunakan sebelumnya, pada umumnya untuk memasak (Kedelai).

    Standar mutu biodiesel nasional telah dikeluarkan dalam bentuk SNI No. 04-7182-2006, melalui keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) nomor 73/KEP/BSN/2/2006 tanggal 15 Maret 2006. Sementara standar lainnya yaitu ASTM D6715 dikeluarkan oleh lembaga American Society of Testing Materials.

     

    Kelebihan Biodiesel

               Sejumlah keunggulan terkait dengan penggunaan bahan bakar biodiesel dibandingkan bahan bakar diesel yang diturunkan dari fosil. Produksi biodiesel dinyatakan berkelanjutan, ramah lingkungan, tidak beracun, dan biodegradable  Sifat biodiesel sama dengan sifat diesel yang diturunkan dari fosil, biodiesel dapat digunakan tanpa modifikasi dalam mesin diesel injeksi tidak langsung . Biodiesel memiliki titik nyala yang lebih tinggi daripada diesel berbasis minyak bumi sehingga lebih aman dalam penyimpanan dan pengangkutan. Biodiesel terbakar dengan bersih, dan emisi yang dihasilkan memiliki lebih sedikit polutan termasuk lebih sedikit karbon monoksida, sulfat dan sulfur oksida, hidrokarbon, nitrogen dan partikulat . Rendahnya kadar sulfur yang dikandung biodiesel menurunkan kemungkinan hujan asam yang terjadi. Emisi karbon dioksida yang dihasilkan oleh bahan bakar ini pun relatif lebih rendah sekitar 75% dibandingkan dengan solar lainnya. Biodiesel juga memiliki peningkatan kecil dalam penghematan bahan bakar dan pelumasan unggul dibandingkan dengan diesel yang diturunkan dari fosil, yang dapat mengurangi keausan mesin dan juga dapat bercampur dengan bahan bakar fosil dalam perbandingan berapapun.

               

    Kekurangan Biodiesel

                Kandungan energi yang dimiliki oleh biodiesel lebih rendah sekitar 11% dari solar berbahan fosil hewan. Konsekuensinya, bahan bakar ini akan menghasilkan tenaga yang lebih rendah dibandingkan dengan solar umumnya.  Kekurangan lainnya terkait dengan kekuatan proses oksidasi pada bahan bakar ini. Kelemahan pada oksidasi menyebabkan bahan bakar ini lebih bermasalah pada proses penyimpanan. Kecenderungannya, jika disimpan terlalu lama maka bahan bakar ini dapat menyumbat mesin akibat dari pengentalan.Mikroba juga berkemungkinan hidup dalam biodiesel yang dapat menggangu keawetan mesin. Mikroba jenis tertentu dapat mengganggu keawetan dan kinerja mesin dalam kurun waktu jangka panjang. Metil ester asam lemak memburuk dalam kondisi dengan tinggi suhu, sinar matahari, oksigen atau logam non-ferrous

                  Menurut Bambang Sudarmanta, Kepala Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Pembakaran Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang dilansir dari CNN, B20 merupakan bahan bakar pengganti yang kandungannya sudah mendekati solar.Namun, penggunaan B20 dapat menyebabkan ruang pembakaran lebih kotor dibandingkan solar,B20 juga memiliki viskositas yang lebih tinggi daripada solar  yang cenderung memperlambat atomisasi (proses pembakaran pada mesin). Selain itu, B20 juga dikatakan mengandung gliserin (kotoran yang tidak terbakar) lebih banyak. Tonton Eko, GM Product Development Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) mengatakan, sifat B20 yang lebih kental dan kotor dibanding solar seperti dijelaskan peneliti ITS memengaruhi masa pakai komponen saringan bahan bakar. Lebih jauh dampak serupa bisa terjadi pada injektor alias penyemprot bahan bakar di mesin,hal ini dapat terjadi  karena B20 memiliki sifat deterjen, maka penggunaannya bisa menguras kotoran yang sudah ada sebelumnya di tangki bahan bakar. Akibatnya, kotoran bakal bercampur dengan bahan bakar dan berpotensi masuk ke ruang pembakaran. 

     

     

    Gagasan yang Ditawarkan

           Banyaknya permasalahan yang terjadi akibat pemakaian B20 yang dikeluhkan oleh masyarakat diakibatkan kurangnya sosialisasi dari pemerintah mengenai penggunaan B20. Pemerintah seharusnya menggandeng para peneliti dan para pengusaha kendaraan angkutan dalam memutuskan kebijakan penggunaan bahan bakar B20. Dilansir dari detikfinace tertanggal 30 Agustus 2018, masih banyak pengusaha truk yang  masih ragu dalam menggunakan biodiesel sebab kurangnya sosialisasi maupun uji yang jelas terhadap pengaruh biodiesel B20 bagi kendaraan mereka. Kebijakan pemerintah saat ini hanya dianggap sebagai solusi sementara dalam mengurangi impor dan meningkatkan nilai jual kelapa sawit tanpa mempertimbangkan efek bagi kendaraan.

         Pemerintah juga harus berupaya  menjaga kualitas dari B20 yang dihasilkan selama masa pendistribusian dan penyimpanan sehingga kualitas B20 tidak rusak karena biodiesel merupakan produk yang mudah rusak akibat aktifitas bakteri. Kualitas dari B20 sendiri sebaiknya lebih ditingkatkan lagi sehingga mampu meminimalisir kerusakan mesin kendaraan dan memenuhi standar yang telah ditetapkan. Pemerintah juga harus mampu meningkatkan animo masyarakat untuk beralih dari bahan bakar fosil menuju bahan bakar terbarukan. Pemerintah dapat bekerja sama dengan para designer visual maupun para komikus untuk mengedukasi dan sosialisasi kepada  masyarakat mengenai pentingnya penggunaan bahan bakar terbarukan pada masa sekarang.

     

    Penutup

             Kebijakan pemerintah dalam mewajibkan penggunaan campuran solar dan biodiesel 20% atau disebut dengan B20 harusnya diiringi dengan sosialisasi dan pengenalan kepada masyarakat. Bukan hanya pengenalan apa itu B20 melainkan juga kelebihan dan kekurangan B20 bagi kendaraan bermotor sehingga masyarakat dapat mengetahui cara mengantisipasi pengaruh dari bahan bakar B20 terhadap mesin kendaraan nya. Selama ini, pemerintah tidak proaktif dalam sosialisasi yang berujung kepada keengganan masyarakat dalam menggunakan B20. Kebijakan ini juga  diharapkan bukan hanya sebagai solusi sementara dalam mengurangi impor dan meningkatkan nilai jual dari kepala sawit tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan ketahanan energi negara berbasis bahan bakar ramah lingkungan. Jangan sampai kebijakan mewajibkan penggunaan bahan bakar B20 ini menjadi blunder bagi masyarakat dan lingkungan kita alih-alih untuk menyelamatkan devisa negara.

     

    Daftar Pustaka

     

    Afriadi,Achmad Dwi.2018.Pengusaha Truk Butuh Kepastian Biodiesel 20% Tak Merusak Mesin.Detik Finance. https://finance.detik.com/industri/d-4189424/pengusaha-truk-butuh-kepastian-biodiesel-20-tak-rusak-mesin (Diakses pada tanggal 18 April 2019).

    Ardani,F.2018.Bongkar Dampak Biodiesel B20,Risiko Ditanggung Konsumen.CNN. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180815092405-384-322379/bongkar-dampak-biodiesel-b20-risiko-ditanggung-konsumen (Diakses pada tanggal 17 April 2019).

    Hamdani,T.2018.B20 Dengan Solar Boros mana.Detik Finance. https://finance.detik.com/energi/d-4190192/b20-dengan-solar-biasa-boros-mana (Diakses pada tanggal 18 April 2019).

    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Direktorat Minyak dan Gas.Konsumsi/Penjualan BBM. http://statistik.migas.esdm.go.id/index.php?r=konsumsiBbm/index (Diakses pada tanggal 18 April 2019)

    Murni.2010.Kaji Eksperimental Pengaruh Temperatur Biodiesel Minyak Sawit Terhadap Performansi Mesin Diesel Direct Injection Putaran Konstan.Thesis.Program Studi Magister Teknik Mesin.Semarang : Universitas Diponegoro.

    Purnomo,Herdaru.2018.Resmi! Aturan B20 Dirilis, Solar Wajib Campur Biodiesel.CNBC. https://www.cnbcindonesia.com/news/20180829105810-4-30721/resmi-aturan-b20-dirilis-solar-wajib-campur-biodiesel (Diakses  pada tanggal 18 April 2019).

    S.I Gusti Anom Rai.2018. Pengaruh Penggunaan Jenis Bahan Bakar Solar, Biodiesel dan Dexlite Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Pada Engine Dengan Sistem Common Rail Ford Ranger 3000 cc.Skripsi.Jurusan Teknik Mesin. Samarinda : Politeknik Negeri Samarinda.

  •  

    Plastik merupakan salah satu limbah terbesar yang berada di Indonesia sesudah Cina dan di negara lainnya. Limbah plastik ini sendiri sangat sulit untuk diuraikan secara alami. Penguraiannya sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu dengan waktu yang kurang lebih 100 tahun agar dapat terdekomposisi. Plastik sendiri mengandung bahan-bahan kimia berbahaya yang bersifat beracun sehingga dapat menyebabkan keracunan pada tanah. Menurut data Deputi Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup, di seluruh Indonesia sendiri terdapat 176 ribu ton sampah dan 15 persennya merupakan limbah plastik kemasan sekali pakai.

     

    Jika plastik bisa diubah menjadi bahan atau barang yang bermanfaat maka kita tidak akan mengotori bumi ini lagi. Dengan menipisnya produksi minyak bumi dan gas alam disini kita bisa mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar pengganti minyak bumi dan gas alam dengan ini kita bisa mengurangi limbah plastik di rumah dan menghemat penggunaan elpiji di rumah. Untuk mengubah plastik menjadi bahan bakar minyak dilakukan dengan cara memotong rantai polietilen menjadi etilen-etilen yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Lalu etilen tersebut akan disusun sehimgga membentuk susunan rantai.

     

     

    Pandji Prawisudha dari Institut Teknologi Bandung menerangkan cara kerja reaktor pirolisis yang mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak.

     

    Limbah plastik diubah menjadi bahan bakar menggunakan sebuah reaktor pirolisis yang sedang dikembangkan oleh Pandji Prawisudha seorang pakar konversi energi dari Institut Teknologi Bandung. Pirolisis limbah plastik merupakan proses dekomposisi senyawa organik yang terdapat dalam plastik melalui proses pemanasan dengan sedikit atau tanpa melibatkan oksigen.Pada proses pirolisis senyawa hidrokarbon rantai panjang yang ada pada plastik dapat diubah menjadi senyawa hidrokarbon yang lebih pendek dan dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif. Reaktor pirolisis ini terdiri dari tabung berukuran dua liter, kondensor, pompa air, akuarium, thermocouple, dan sebuah wadah plastik. Semuanya tersambung dengan pipa tempat mengalirnya gas hasil pemanasan hingga berubah menjadi minyak. Kinerja ini mengandalkan mekanisme pirolisis, yakni proses pemanasan plastik tanpa oksigen dalam temperatur tertentu. Plastik akan mencair dan berubah menjadi gas yang kemudian akan mengalir melalu pipa melewati kondensor . Di dalam kondensor gas tersebut akan didinginkan sehingga berubah menjadi minyak atau disebut sebagai asap cair. Minyak tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kompor. Viskositas minyak hasil pirolisis ini mendekati nilai viskositas dari pada bensin. Sedangkan densitas dan nilai kalor hasil pirolisis medekati nilai densitas dan nilai kalor dari solar dan minyak tanah.

     

    Jika diketahui sejarah awal mula plastik dibuat ialah berasal dari minyak bumi maka kita hanya harus mengubah plastik tersebut kembali ke asalnya yaitu minyak bumi agar dapat bermanfaat kembali. Jenis plastik yang digunakan untuk membuat minyak bumi ini sendiri bisa dipakai dengan jenis plastik apa saja tetapi ada salah satu plastik yang tidak di sarankan yaitu PVC (Polivinil Khlorida) karena PVC tersebut akan terlarut di dalam minyaknya. Jika dibakar maka akan menimbulkan resiko yang cukup tinggi. Disarankan untuk memakai plastik yang berjenis seperti bungkus mie instan, bungkus kopi, karena mengandung polypropylene dan relatif cukup mudah untuk diproses.

     

    Dari sisi keamanan sendiri penggunaan minyak dari limbah plastik ini hampir sama dengan penggunaan dari minyak bumi tergantung kepada kita yang memakainya dan tetap harus selalu berhati-hati. Dengan adanya teknologi pengolah limbah plastik menjadi bahan bakar minyak, makan kelangkaan bahan bakar minyak akan teratasi dan kondisi lingkungan akan membaik karena adanya daur ulang ini.

  • Limbah Plastik dari Aku, Kamu, Kita Semua sebagai Salah Satu  Alternatif Bahan Bakar

    Fanny Aldanasti, Teknik Kimia Universitas Sriwijaya

         Di era modern seperti sekarang, seseorang tidak akan lepas dari barang berbahan plastik. Barang tersebut memiliki berbagai macam fungsi seperti beberapa diantaranya sebagai pembungkus makanan, perabotan rumah tangga, alat-alat listrik, dan lainnya. setiap barang dari bahan plastik tersebut tentu saja menjadi limbah yang merusak lingkungan dan ekosistem yang ada. Banyak peneliti maupun pemerintah mengupayakan berbagai macam cara agar limbah dari bahan plastik ini bisa diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan manfaat lain.

         Seperti yang kita ketahui, limbah dari bahan plastik memerlukan waktu yang sangat lama agar bisa terurai. Dikutip dari BBC.com, sampah plastik khususnya dalam bentuk kantong, membutuhkan waktu 20 hingga 1000 tahun untuk akhirnya dapat terurai. Hal ini tentu sangat membahayakan lingkungan dan ekosistem yang ada di bumi. Selain waktu untuk terurai yang lama, jumlah limbah plastik yang dihasilkan pun sangat besar. Sebagai contoh, Indonesia diperkirakan akan menghasilkan sampah sekitar 66-67 juta ton sampah pada tahun 2019. Adapun Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan jenis sampah yang dihasilkan didominasi oleh sampah organik yang mencapai sekitar 60 persen dan sampah plastik yang mencapai 15 persen. Jumlah yang banyak tersebut mendorong para peneliti untuk mengubah limbah dari bahan plastik tersebut menjadi sesuatu yang berguna dan memiliki nilai jual yang tinggi seperti dijadikan bahan bakar.

         Indonesia merupakan negara dengan konsumsi energi yang cukup tinggi. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM, dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan konsumsi energi Indonesia mencapai 7% per tahun. Angka tersebut berada di atas pertumbuhan konsumsi energi dunia yaitu sebesar 2,6% per tahun. Konsumsi energi di Indonesia pada tahun 2015 terbagi untuk sektor industri sebesar 31,79%, rumah tangga sebesar 15,27%, komersial sebesar 5,09%, transportasi sebesar 45,51%, dan lain-lain sebesar 2,34%. Dari data tersebut terlihat bahwa peningkatan konsumsi energi pada sektor transportasi meningkat beberapa tahun belakangan ini.

         Dari penjelasan di atas, dengan jumlah limbah plastik yang banyak serta kebutuhan akan bahan bakar minyak (energi tidak terbarukan), pengolahan lebih lanjut limbah tersebut telah banyak dilakukan. Menggunakan alat-alat yang sederhana, limbah plastik ini bisa diubah menjadi bahan bakar minyak. Seperti yang diketahui, plastik sendiri dibuat dari polimer-polimer yang sebelumnya didapat dari olahan minyak bumi. Dengan melelehkan kembali plastik, maka bisa didapat kembali minyak bumi. Minyak-minyak ini harus melewati proses pemisahan dan pemurnian terlebih dahulu agar dapat dipakai sebagai bahan bakar.

         Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar. Salah satunya adalah Tamilkolundu dan Murugesan, 2012, melakukan penelitian dengan mengubah sampah plastik jenis PVC menjadi bahan bakar minyak. Bahan bakar minyak dari plastik PVC ini mempunyai densitas 7% lebih tinggi dari solar. Demikian juga dengan viskositasnya, lebih tinggi 300% dibanding solar. Selanjutnya bahan bakar minyak yang berasal sampah plastik tersebut dicampur dengan solar. Campuran bahan bakar ini diuji coba pada mesin diesel satu silinder. Untuk kerja yang diamati antara lain konsumsi bahan bakar, konsumsi bahan bakar spesifik, dan efisiensi termal. Solar yang dicampur dengan minyak dari plastik menghasilkan unjuk kerja konsumsi bahan bakar lebih rendah dan efisiensi termal yang lebih tinggi. Serta masih banyak lagi penelitian lain yang belum sempat disebut oleh penulis satu per satu. Semua penelitian tersebut diharapkan dapat menjadikan limbah bahan plastik yang jumlahnya banyak sebagai alternatif bahan bakar fosil yang jumlahnya semakin berkurang.