Saat ini pertumbuhan industri tekstil dapat naik 5 sampai 7 persen, karena masih tingginya angka konsumsi produk tekstil untuk periode tahun ajaran baru dan juga pada periode hari raya juga tinggi. Dan dengan tingginya permintaan domestik perlu diimbangi dengan pertumbuhan industri tekstil di Indonesia. Angka impor tekstil di Indonesia masihlah cukup tinggi datang dari negara Cina dan Amerika Serikat. Namun, Kementrian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) telah bekerjasama dengan Itali untuk mendapatkan bimbingan. Hal tersebut dibuktikan dengan pemberian 24 mewsin tekstil yang rencananya digunakan untuk pelatihan guna meningkatkan skill tekstil dalam negeri. Indonesia berusaha bersaing degan Vietnam dan Kamboja yang saat ini industri pertekstilan masih dipegang oleh India. Seiringnya perkembangan tekstil di Indonesia, terdapat dampak negatif dari perkembangna industri tekstil di Indonesia. Limbah tekstil yang berasal dari proses pengkajian, proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, mersiriasi, pewarnaan, pencatakan dan proses penyempurnaan. Khusus industri tekstil dalam proses produksinya mempunyai unit FinishingPewarnaan (dyeing) mempunyai potensi sebagai penyebab pencemaran air dengan kandungan amoniak yang tinggi. Beberapa sumber limbah tekstil antara lain adalah, larutan penghilang kanji biasanya langsung dibuang dan ini mengandung zat kimia pengkanji dan penghilang kanji pati, PVA, CMC, enzim, dan asam. Penghilangan kanji biasanya memberikan BOD paling banyak dibanding dengan proses-proses lain. Pemasakan dan merserisasi kapas serta pemucatan semua kain adalah sumber limbah cair yang penting, yang menghasilkan asam, basa, COD, BOD, padatan tersuspensi dan zat-zat kimia. Pewarnaan dan pembilasan menghasilkan air limbah yang berwarna dengan COD tinggi dan bahan-bahan lain dari zat warna yang dipakai, seperti fenol dan logam. 

Limbah cair yang berasal dari industri tekstil skala kecil (home industry) seringkali dibuang langsung ke saluran pembuangan air atau resapan. Seringkali limbah cair tersebut masih mengandung bahan yang tidak dapat diolah oleh mikroorganisme yang ada dalam tanah atau saluran pembuangan, salah satunya zat pewarna kimia yang dipakai di industri tekstil kain jumputan. Limbah cair industri tekstil seperti limbah kain jumputan merupakan zat warna yang digunakan pada pencelupan kain jumputan. Jika zat warna yang digunakan merupakan zat warna sintetis berupa zat warna napthol dan direct yang mengandung senyawa kimia organik tinggi, apabila zat warna tersebut dibuang maka dapat menyebabkan pencemaran pada lingkungan. Hal ini dikarenakan bahan kimia yang terkandung didalam perwarna tersebut akan beradaptasi dan tetap berada pada larutan sehingga akan terbuang bersama air bekas yang dapat berpotensi mencemari lingkungan dan menganggu ekosistem makhluk hidup di perairan tersebut. Industri tekstil kain jumputan merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah cair yang dapat membahayakan lingkungan. Limbah cair tersebut berasal dari penggunaan zat pewarna sintesis pada proses produksi kain jumputan. Penggunaan zat pewarna sintesis tersebut tidak dapat dihindari, mengingat harganya yang murah, pilihan warna yang banyak dan warna yang lebih tahan lama dibandingkan dengan pewarna Berdasarkan dari dampak yang sudah disebutkan diatas, maka diperlukan suatu teknologi untuk mengolah limbah industri tekstil kain jumputan sebelum limbah itu dibuang ke badan air. Salah satu teknologi yang dapat dijadikan alternatif adalah penggunaan adsorben yang dapat menyerap zat pewarna sintesis yang terdapat di dalam kandungan limbah cair kain jumputan. Bulu ayam dapat dijadikan suatu opsi yang ekonomis untuk dijadikan sebagai adsorben. Bulu ayam mengandung keratin yang apabila tidak diolah dapat menurunkan kualitas tanah karena sulit terdegradasi di lingkungan maka menyebabkan beban pencemaran lingkungan semakin besar dan berdampak terhadap kesehatan.

Profil Penulis
Rolan Nopiansyah
Author: Rolan Nopiansyah
Mengenai Penulis