Menurut ahli Poerbahawadja Harahap, Teknologi adalah mengacu pada ilmu pengetahuan yang menyelidiki tentang cara kerja di dalam bidang teknik, mengacu pula pada ilmu pengetahuan yang digunakan dalam pabrik atau industri tertentu. Menurut ahli Miarso(2007), teknologi merupakan suatu bentuk proses yang meningkatkan nilai tambah, dan proses yang berjalan tersebut dapat menggunakan atau menghasilkan produk tertentu, dimana produk yang dihasilkan tidak terpisah dari produk lain yang telah ada. Dari penuturan dan penjelasan dari kedua ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa teknologi membuat semuanya lebih praktis. Teknologi dan perkembangannya sendiri sudah diaplikasikan dalam berbagai bidang tanpa terkecuali bidang Minyak Bumi dan Gas. Teknologi pada proses minyak bumi dan gas sudah mencapai tahap yang canggih, mengoptimalkan pengolahan dengan tepat serta ramah lingkungan. Walaupun begitu, upaya – upaya terus dilakukan dan inovasi teknologi dapat dicapai dengan pengelolaan energi yang ramah lingkungan dan ekonomis.

Minyak Bumi dan Gas sendiri adalah salah satu kekayaan alam Indonesia yang tidak bisa diperbaharui. Oleh sebab itu, produksi minyak mentah dalam negeri semakin menurun, bahkan pada tahun 2016 hanya berkisar di angka 800ribu barrel per hari.

 

Deputi Perencanaan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) ; Jaffee Suardin menjelaskan “Sebenarnya minyak kita belum habis, yang kehabisan teknologi mana yang bisa mengeluarkan minyak dari dalam tanah”. Berdasarkan pernyataannya, dapat disimpulkan bahwa semua ini kembali lagi kepada teknologi yang harus dikembangkan.

Lantas benarkah teknologinya yang harus dikembangkan atau sumber dayanya yang semakin sedikit atau ada hal lain yang menyebabkan produksi minyak menurun? Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hampir 70% cadangan migas di tanah air berada dilaut dalam Indonesia Timur, yang artinya bahwa; ini membutuhkan biaya dan resiko yang lebih tinggi. Secara tidak langsung, migas yang berada dilaut dalam mungkin menjadi salah satu sebab mengapa produksi terus menerus menurun. Karena produksi dalam negeri yang kurang bisa memenuhi permintaan yang terus meningkat, Indonesia mulai mengimpor sekitar 350.000 sampai 500.000 barel bahan bakar per hari dari beberapa negara luar.

 

Jumlah permintaan konsumen juga dipengaruhi oleh kebijakan – kebijakan pemerintah yang salah satunya bertujuan untuk mendukung masyarakat miskin di Indonesia. Namun yang terjadi adalah masyarakat yang tergolong lebih mampu (menengah) diuntungkan dengan kebijakan ini (bahan bakar bersubsidi). Kebijakan ini juga menyebabkan peningkatan yang cukup signifikan dalam permintaan bahan bakar sehingga berakibat pada tekanan besar pada defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Indonesia. Walaupun pada Januari 2015 pihak pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk menghapuskan subsidi bensin yang dianggap sebagai tindakan yang relatif mudah karena rendahnya harga minyak bumi dunia. Pada saat ini pemerintah juga memperkenalkan subsidi tetap sebesar Rp.1000 per liternya untuk diesel.

Rutinnya kontribusi sektor minyak dan gas Indonesia yang signifikan untuk perekonomian Indonesia melalui pendapatan ekspor dunia dan cadangan devisa negara. Namun kontribusi ini telah menurun dan itu berpengaruh dalam kontribusinya untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pada tahun 2015, kombinasi minyak dan gas berkontribusi untuk sekitar 13% dari pendapatan domestik padahal di tahun 1990 angka mencapai 40%.

Menurut informasi yang didapatkan dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), cadangan minyak mentah terbukti yang ada saat ini akan bertahan untuk sekitar 23 tahun. Lantas apa yang akan terjadi setelah 23 tahun lagi jika cadangan minyak mentah benar – benar habis? Banyak upaya yang dilakukan seperti pengeboran – pengeboran atapun mengimpor dari negara lain. Tetapi apa yang akan terjadi jika negara lain juga kehabisan sumber minyak mentah? Kontraktor – kontraktor minyak dan gas di Indonesia diketahui telah mengurangi aktivitas – aktivitas pengeboran mereka yang disebabkan oleh rendahnya harga minyak. Adapun prediksi rebound karena sejumlah ladang minyak besar di Indonesia telah beroperasi salah satunya Ladang Minyak Banyu Urip di Jawa Timur

Setelah diresmikan oleh Menteri Koordinator dibidang Perekonomian, pemerintah yakin produksi minyak dari Banyu Urip bisa mencapai 165.000 barel per hari. Hal ini diharapkan betul dapat mengurangi sekaligus menekan impor minyak yang selama ini membebani keuangan negara. Selain itu, agar volume impor dapat dikurangi maka diperlukan laju investasi yang cepat sehingga kebutuhan domestik dapat terpenuhi. Namun ada tantangan lain yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri adalah semakin besarnya ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dimana disaat bersamaan produksi minyak dalam negeri tidak sebanding dengan konsumsi minyak yang terus melonjak.

Tingginya permintaan minyak dalam negeri di tengah berkurangnya cadangan minyak di Indonesia menuntut pemerintah untuk melakukan impor. Untuk mengurangi kesenjangan antara produksi dan konsumsi minyak dalam negeri kita ini, diharapkan pemanfaatan energi alternatif lain selain minyak dapat dikembangkan dan dioptimalkan, sehingga selanjutnyapun ketergantungan kita sebagai masyarakat terhadap minyak bumi dapat sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.

Pengurangan konsumsi terhadap minyak bumi dapat dilakukan dari diri sendiri sebagai mahasiswa contohnya adalah penggunaan kendaraan yang berlebihan. Akan lebih baik jika kita mulai menggunakan fasilitas bersama (bus, angkutan umum) agar pemakaian kendaraan pribadi dapat dikurangi. Ini juga berdampak bagus karena mengurangi polusi yang disebabkan oleh kendaraan – kendaraan. Selain itu, mengurangi kemacetan atau padatnya kendaraan lalu lalang di jalan – jalan kota sehingga hal ini diharapkan masyarakat dapat menggunakan waktu mereka dengan tepat dan efisien.

Langkah – langkah kecil seperti ini dapat dilakukan sebagai mahasiswa atau masyarakat. Agar kiranya juga manfaat – manfaat yang telah disebutkan diatas dapat terwujud. Kedepannya lagi, diharapkan dengan pertumbuhan masyarakat  Indonesia dapat menemukan inovasi – inovasi baru (terutama teknologi) untuk mengolah minyak bumi yang belum dieksplorasi sehingga kelak anak cucu kita dimasa depan dapat merasakan dampak positif dan kemudahan.

 

 

Profil Penulis
Chelsea Veronica Sinurat
Author: Chelsea Veronica Sinurat
Mengenai Penulis