foto: mongabay

 Foto: Mongabay Indonesia

Forum Pertemuan Tahunan World Bank dan IMF tahun 2018 membahas terkait solusi pengurangan limbah plastic sebagai bahan campuran untuk aspal. Uji coba tersebut telah dilakukan di Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Bali. Jalan sepanjang 700 meter terkait pemanfaatan limbahan plastic sebagai campuran aspal dengan cara kering (dry process) dengan kada plastic sebesar 6% dari berat aspal. Menurut Kepala Balitbang Kementrian PUPR setiap 1 kilometer jalan dengan lebar 7 meter membutuhkan campuran limbah plastic sebanyak 2,5 ton hingga 5 ton dimana apabila penelitian ini dapat terealisasikan akan mampu mengurangi banyak sampah plastik dengan jalan di Indonesia yang  ribuan kilometer.(sumber: mongabay)

Presiden Joko Widodo saat pertemuan G-20 memiliki komitmen atas pengurangan limbah plastic laut sebesar 70% hingga tahun 2025. Sampah plastic di Indonesia tahun 2019 diperkirakan mencapai angka 9,52 ton yang apabila dikonversi menjadi aspal dapat membuat jalan sepanjang 190.000 km. Aspal plastic yang dihasilkan lebih lengket dan memiliki stabilitas serta ketahanan yang lebih baik dari aspal biasa. Aspal dengan campuran plastic dapat menjadi salah satu inovasi terkini dalam mewujudkan pengurangan limbah plastic yang dibuang ke laut sebanyak 0,48-1,29 juta metric ton demi lingkungan hidup yang sehat. (Dikutip dari https://www.mongabay.co.id/2017/08/02/limbah-plastik-digunakan-untuk-aspal-jalan-ternyata-berisiko-kenapa/.)

Penelitian yang dilakukan oleh Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik tahun 2016, Marine debris di Indonesia didominasi oleh kantong plastic (kresek) dan residu sebesar 62%. Salah satu bahan campuran pembuatan aspal yakni polimer. Kantong plastic yang biasa digunakan merupakan contoh polimer dari jenis plastomer yang mampu untuk digunakan sebagai bahan tambahan pengeras jalanan. Bahan campuran limbah plastik untuk aspal hanya dibatasi untuk jenis LDPE(Low Density Polyehtylene) yang telah melalui proses pretreatment yaitu pencucian dan pencacahan. Cacahan limbah plastik harus memliki persyaratan kering, bersih, dan terbebas dari bahan organik dengan ukuran maksimal 9,5 mm. Limbah plastic dicampurkan melalui agregat panas di mixing plant pada temperature 170oC. Setelah dilakukan pengadukan secara kering, maka selanjutnya dilakukan secara basah dengan menambahkan aspal pada suhu 160 oC. Tahap terakhir aspal dimobilisasi ke jalanan untuk dilakukan penghamparan dan pemadatan.

Potensi pemanfaatan limbah plastik dengan penggunaan limbah plastik sebesar 6% dari kadar aspal serta probabilitas penggunaan teknologi aspal limbah plastic sebesar 50% maka limbah plastic yang dapat berkurang untuk campuran aspal polimer atau aspal plastic dapat berkurang sebesar 0,45 ton / tahun. Namun pemanfaatan limbah plastic juga terdapat dampak buruk dari penggunaannya yakni terkait potensi pemaparan racun dikarenakan plastic yang terkena pancaran sinar matahari mampu menaikan suhu aspal plastic yang berisiko menimbulkan zat dioksin yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Zat dioksin berasal dari sintesis kimia pada proses pembakaran zat organik yang bercampur dengan unsur halogen pada suhu tinggi salah satunya terdapat pada limbah plastic. Plastik yang terdapat di kondisi panas akan memuai serta mengeluarkan racun seperti degradasi mikroplastik yang mampu masuk ke dalam ekosistem.

Pemilihan aspal dengan campuran limbah plastic perlu kehati-hatian jika menjadikan proyek besar karena dampak buruk yang akan timbul oleh polyethylene walaupun belum ada temuan bukti tentang racun dari aspal plastic. Teknologi yang belum aman atau tersertifikasi maka belum waktunya untuk diaplikasikan secara luas. Semua usaha untuk menciptakan teknologi baru ialah untuk membantu mengurangi limbah plastic yang dibuang ke laut dan menjaga ekosistem laut serta lingkungan hidup yang lebih memadai.

Profil Penulis
Prima Wijaya
Author: Prima Wijaya
Mengenai Penulis