Kemajuan industri di Indonesia meningkat setiap tahunnya, misalnya yang berkembang pesat saat ini adalah industri perminyakan yang diawali berdirinya kilang minyak di Indonesia. Peningkatan industri ini ada dampak positifnya yaitu luasnya terbuka lapangan pekerjaan dan membaiknya sarana transportasi dan komunikasi serta meningkatnya taraf ekonomi masyarakat. Tapi disisi lain ada dampak negatifnya yaitu dari pendirian industri perminyakan merupakan sektor pencemaran yang merugikan lingkungan dan kesehatan. Salah satunya yaitu pencemaran oleh limbah yang berbentuk,gas,padat, maupun cairan. Minyak bumi itu sendiri adalah campuran hidrokarbon yang terbentuk berjuta-juta tahun lalu yang merupakan hasil dekomposisi zat organic dari tumbuhan maupun hewan. Minyak bumi terdapat pada cekungan-cekungan kerak bumi dan merupakan fraksi ringan dengan komponen utama n-alkana dengan atom C15-17.

Dan untuk fraksi yang berat dengan komponen utama hidrokarbon yang bertitik didih tinggi. Minyak bumi merupakan komoditas ekspor utama Indonesia yang digunakan sebagai bahan bakar dan bahan mentah bagi industri petrokimia. Kegiatan eksploitasi seperti  seperti pengeboran dan pembuatan sumur-sumur, pengolahan pemurnian dan pemisahan minyak bumi mengakibatkan terjadinya pencemaran minyak pada lahan-lahan di area sekitar aktivitas itu berlangsung. Minyak yang mengandung hidrokarbon bercampur dengan air dan bahan-bahan anorganik atau organik yang ada dalam tanah. Limbah lumpur minyak bumi itu adalah limbah akhir dari serangkaian proses pengkilangan minyak bumi. Limbah lumpur itu selain mengandung hidrokarbon poliaromatik dan poliafatik juga mengandung non hidrokarbon seperti nitrogen, sulfur, oksigen dan aspal. Limbah lumpur minyak bumi tergolong limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) karena konsentrasi dan sifatnya membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Molekul-molekul hidrokarbon dapat merusak membran sel yang mengakibatkan keluarnya cairan sel dan berpenetrasinya bahan tersebut ke dalam sel. Ketika limbah minyak tumpah ke tanah, ia akan menghancurkan lapisan tanah dengan mendesak udara keluar dan membunuh makhluk-makhluk hidup yang mempengaruhi produktivitas tanah. Limbah minyak bumi yang mencemari tanah dapat mencapai lokasi air tanah, danau atau sumber air yang menyediakan air bagi kebutuhan domestic maupun industri sehingga menjadi masalah yang serius bagi daerah yang mengandalkan air tanah sebagai sumber utama kebutuhan air bersih atau air minum. Maka dari itu limbah lumpur minyak bumi tidak boleh langsung di buang ke luar, melainkan harus di simpan terlebih dahulu dalam bak penampung. Namun dalam penyimpanan tersebut menimbulkan masalah baru yaitu pencemaran udara karena pembakaran lumpur minyak  menghasilkan gas buang SOx , NOx , dan COx sehingga menimbulkan hujan asam. Maka dari itu limbah lumpur minyak bumi harus diolah dengan salah satu caranya yaitu bioremediasi. Cara lain yang dilakukan yaitu incineration, dilution, deep well disposal, bahkan pirolisis.

            Pertama yaitu pengolahan limbah secara bioremediasi atau secara biologi yang menggunakan mikroba untuk mengurangi racun pada lumpur minyak bumi. Selain itu teknik bioremediasi bisa dengan cara menambahkan nutrisi dan oksigen. Mikroba dapat diisolasi dari alam dan mengkulturnya kemudian menebarkannya di daerah lumpur minyak bumi. Bakteri ini akan mendegredasi hidrokarbon yang ada hingga menjadi rantai hidrokarbon yang terurai menjadi senyawa C, H, dan O. Bioremediasi juga dapat digunakan pada lahan yang sudah terkontaminasi oleh pencemar baik secara in situ maupun ex situ. Pada proses ini perlu pemantauan terhadap hasil akhir pengolahan. Hal yang perlu dipantau adalah kandungan total hidrokarbon yang ada di minyak bumi. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 128 Tahun 2003 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknik Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan Tanah Terkontaminasi oleh Minyak Bumi secara Biologis mensyaratkan kandungan  total hidrokarbon minyak bumi yang tidak lebih dari 15% di awal proses bioremediasi. Kandungan total hidrokarbon minyak bumi perlu dipantau setidaknya setiap 2 minggu. Kandungan total hidrokarbon diakhir bioremediasi disyaratkan di bawah 1%. Mikroba yang sering digunakan adalah mikroba Pseudomonas, Arthrobacter, Alcaligenes, Brevibacterium, Brevibacillus, dan Bacillus. Selain bioremediasi dapat juga dilakukan secara “Fitoremediasi” yaitu pemanfaatan tumbuhan dengan konsep meremediasi tanah yang terkontaminasi limbah karena tanaman mempunyai kemampuan menyerap logam dan mineral yang tinggi atau sebagai fitoakumulator dan fitochelator.

            Lalu pengolahan limbah secara Incineration. Dalam pengolahan ini berhubungan dengan penguraian liquid wastes, pembakaran di dalam alat yang telah di desain dengan bagus agar menghasilkan limbah yang memenuhi peraturan pencemaran (effluent). Dari sisi pembakarannya, liquid waste di kelompokkan menjadi:

 1. Combustible Liquids

 Combustible liquids akan menghasilkan CO2 dan H2O bila di bakar.

2. Partially Combustible Liquids

yaitu pembakaran pada bahan yang mengandung material terlarut dalam fase liquid sehingga zat tersebut yang teroksida ketika pembakaran.

            Selanjutnya itu melakukan pengolahan limbah secara dilution atau dispersi limbah cair. Limbah diencerkan hingga tidak menimbulkan bahaya atau racun terhadap lingkungan. Peralatan yang digunakan biasanya open end pipes dengan nozzle. Atau diffuser system sederetan pipa-pipa kecil dengan lubang-lubang atau celah. Limbah harus dapat di buang pada sudut yang baik terhadap aliran air agar terencer sempurna.

 

https://www.indiamart.com/proddetail/diffused-aeration-system-16875925391.html (diffuser system)

            Untuk pengolahan secara Deep Well Disposal biasanya digunakan untuk limbah asam lemah dengan cara pemompaan limbah ke dalam lapisan tanah sampai pada lapisan tanah yang cocok untuk menampung limbah tersebut. Syarat lapisan tanah agar cocok untuk menampung limbah yaitu harus lebih rendah dari lapisan sirkulasi fresh water dan terisolasi oleh bahan kedap air dan lapisan banyak mengandung air asin juga cukup baik untuk penampung limbah. Dan harus menghindari daerah yang banyak batuan vulkanik karena limbah bisa lolos ke permukaan tanah.

            Kemudian cara pirolisis atau dekomposisi bahan organik melalui proses pemanasan tanpa oksigen. Pengolahan ini efektif dan efisien dibandingkan secara bioremediasi yang menggunakan mikroorganime yang memakan waktu lama. Limbah lumpur akan dipisahkan secara perbedaan titik didihnya. Dalam proses pirolisis ini akan menghasilkan minyak yang bisa digunakan lagi untuk penyulingan minyak bumi. Untuk produk excess gas bisa digunakan untuk energy atau bahan bakar. Pada produk padatan bisa untuk bahan timbun.