Pencegahan Konversi Bumi Menjadi Venus

Bahan bakar transportasi, obat – obatan, kosmetik, karet, dan berbagai macam kebutuhan manusia sehari – hari memiliki satu tumpuan yang sama yakni minyak bumi. Campuran berbagai macam hidrokarbon dan pengotornya yang terbentuk dari berjuta – juta tahun yang lalu ini merupakan salah satu peninggalan yang paling krusial dalam kemajuan peradaban manusia. Fokus penggunaan dari minyak bumi adalah sebagai sumber energi, sebenarnya terdapat sumber energi lain yang digunakan seperti batubara dan kayu namun minyak bumi dengan cepat dapat mengalahkan popularitas dari sumber energi lain karena penggunaan minyak bumi memiliki fleksibelitas yang jauh lebih tinggi, berikut tabel data penggunaanya : 

 


1Includes fuel ethanol in gasoline and biodiesel in distillate fuels.
2Others includes other liquids not included in the table.
Note: Sum of individual products may not equal total because of independent rounding.
Source: U.S. Energy Information Administration, Petroleum and Other Liquids—Product Supplied, as of August 31, 2018

 

Tabel ini hanya merupakan data untuk satu negara saja, bisakah dibayangkan seberapa penggunaan untutk seluruh dunia ? tentunya sangat amat banyak , maka dari sini secara langsung dapat dilihat bahwa penggunaan minyak bumi ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, layaknya hidup tidak semua bisa berjalan dengan lancar maka penggunaan secara massal ini  selain sangat membantu manusia dalam kehidupan sehari – hari , akan memberikan dampak negatif pada kehidupan manusia. Seperti yang diketahui dampak negatif utama yang muncul adalah lepasnya emisi – emisi gas rumah kaca (Greenhouse Gases/GHG) seperti CO2 dan CH4. Berikut data – data yang menunjukkan jumlah dari emisi GHG (https://ourworldindata.org/co2-and-other-greenhouse-gas-emissions) :

 

 
 
 
 
 
 
Dapat dilihat dari grafik tersebut bahwa GHG yang paling banyak diproduksi adalah CO2. GHG secara sederhana adalah gas yang dapat menyerap dan meradiasikan panas, sebenarnya GHG ini turut berperan dalam menjaga kestabilan suhu bumi, tanpa GHG suhu bumi akan lebih dingin daripada kondisi sekarang. Namun terlalu banyaknya diproduksi GHG, memunculkan masalah global dunia yang populer yakni Pemanasan Global (Global Warming). Fenomena pemanasan global adalah terjadi kenaikan suhu rata – rata bumi yang diakibatkan adanya kandungan GHG pada atmosfer bumi sehingga panas akan terperangkap di atmosfer. Dari grafik juga dapat dilihat sumber – sumber CO2 dimana sebagian besar pada sektor – sektor CO2 muncul karena penggunaan bahan bakar fossil khususnya minyak bumi. Pemansan global kadang dianggap remeh oleh orang – orang awam. Sebagai perbandingan untuk mengetahui efek dari GHG di atmosfer, planet lain yang dapat dilihat adalah Venus. Venus memiliki ukuran yang kurang lebih sama dengan bumi, bahkan strukturnya hampir sama dengan bumi maka orang awam tentunya berpikir bahwa venus akan kurang lebih sama seperti bumi. Salah satu perbedaan yang paling mencolok dari Venus dan Bumi adalah kandungan gas pada atmosfernya. Seperti yang kita ketahui atmosfer bumi sebagian besar diisi oleh N2 dan O2 namun pada Venus atmosfernya mengandung sebagian besar CO2 dan sedikit N2, karena ini suhu pada Venus jauh lebih tinggi daripada bumi dan bahkan lebih panas daripada Merkurius yang merupakan planet terdekat dengan matahari, bahkan logam yang ada pada bumi akan menjadi lelehan di Venus.

(Sumber https://serc.carleton.edu/eslabs/carbon/3a.html)

 

Tentunya dengan suhu setinggi itu makhluk hidup di bumi tidak akan bisa hidup, maka harus dilakukan pencegahan untuk menghentikan “konversi” Bumi menjadi Venus. Solusi yang paling sering ditawarkan dalam pengurangan emisi ini adalah menghentikan penggunaan bahan bakar fossil terutama minyak bumi, namun secara praktisnya tidak mungkin untuk langsung mengubah sumber daya energi utama dunia dengan mudah karena dari data kegunaan minyak bumi tadi sudah terlihat betapa eratnya ikatan minyak bumi dengan kehidupan manusia,  selain itu juga belum ditemukannya teknologi dan sumber daya lain yang dapat menggantikan minyak bumi secara efektif. Hal realistis yang bisa dilakukan disini adalah harus dimulai penggunaan sumber daya alam lain seperti biomassa yang lebih ramah lingkungan, dapat juga dilakukan blending antara sumber daya baru ini dengan minyak bumi untuk meminimalisir penggunaan minyak bumi. Tetapi tentunya menggunakan sumber daya yang berbeda akan menghasilkan produk dengan kualitas berbeda juga.

Solusi kedua untuk menangani masalah ini adalah melalui implementasi teknologi CCS (Carbon Capture and Storage). Konsep dari teknologi CCS ini adalah menyimpan CO2 sama seperti siklus alam karbon dimana karbon secara alami akan tersimpan di bawah tanah. Teknologi CCS ini adalah teknologi untuk “menangkap” emisi CO2 sebanyak  yang dihasilkan dari penggunaan bahan bakar fosil di industri untuk mencegah emisi tersebar ke atmosfer. Secara sederhana teknologi CCS ini memiliki tiga tahap utama. Tahap pertama Capture dilakukan pemisahan antara CO2 dan produk yang akan dipakai dengan metode seperti pre-combustion capture, post-combustion capture, dan oxyfuel combustion. Tahap kedua Transport adalah dilakukan pengangkutan CO2 tersebut bisa melalui pipa maupun kapal untuk menuju tahap ketiga Storing dimana dilakukan penyimpanan CO2 dalam bentuk cair dibawah laut pada daerah yang sudah terpilih yang berada di bawah permukaan bumi. Tahap Storing harus dilakukan dengan tepat karena bocornya storage CO2 dalam tanah maupun pemilihan tempat storage yang tidak tepat dapat menyebabkan tercemarnya lingkungan sekitarnya oleh CO2 yang dapat menimbulkan masalah – masalah baru. Pengimplementasian dari CCS dapat juga dipakai untuk Enhanced Oil Recovery (EOR), Enhanced Gas Recovery (EGR) dan Enhanced Coalbed Methane Recovery (ECBM). Pada EGR, CO2 tentunya “lebih berat” daripada gas alam sehingga akan lebih mudah mengekstraksi gas alam, pada ECBM CO2 lebih mudah teradsorpsi pada batubara sehingga gas alam (CH4) akan lebih mudah untuk keluar, sedangkan pada EOR CO2 dapat diinjeksikan dengan atau tanpa air untuk meningkatkan produksi minyak, sehingga produksi minyak bumi akan meningkat.

CCS yang telah dibahas ini diimplementasikan untuk CO2 industrial namun seperti yang kita lihat dari grafik tadi salah satu sektor yang menyumbangkan CO2 adalah transportasi, yakni melalui gas buang hasil pembakaran bahan bakarnya, maka dari itu CO2 dari gas buang ini harus dicegah untuk tersebar ke atmosfer, maka dengan konsep yang sama dapatlah diciptakan teknologi CCS baru yang digunakan untuk menampung CO2 hasil pembakaran pada storage baru yang dapat diinstal pada kendaraan, tentunya jika terlalu banyak CO2 yang ditampung kendaraan akan menjadi lebih berat maka harus ada station gas CO2 , sehingga CO2 dari kendaraan dapat ditransport dan dilanjutkan ke tahap transportation dan storing. Mungkin hal ini terlihat tidak mungkin karena jika dipikirkan akan memerlukan banyak biaya untuk memodifikasi kendaraan untuk dapat memiliki sebuah storage dan teknologi untuk menampung CO2 dan pendirian station – station yang harus ada tiap beberapa km pada kota serta biaya untuk peralatan dan pegawai dan lain - lain, namun pengimplementasian teknologi CCS merupakan biaya yang kecil jika dibandingkan dengan hancurnya planet tempat tinggal kita.

Profil Penulis
Rafael Kefin Jandera
Author: Rafael Kefin Jandera
Mengenai Penulis