Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah minyak bumi. Minyak bumi merupakan hasil pelapukan dari fosil – fosil tumbuhan dan hewan pada jutaan tahun yang lalu, berbentuk cairan kental dan mudah terbakar. Lamanya pembentukan minyak bumi menjadikannya sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon. Walaupun bukan sumber energi terbesar di bumi, minyak bumi adalah salah satu energi yang paling banyak dimanfaatkan sampai saat ini. Dalam berbagai bidang minyak bumi memiliki manfaat seperti sebagai bahan bakar kendaraan, sumber produksi polimer, keperluan industri kimia dan masih banyak lagi. Mengetahui minyak bumi merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui mendorong banyaknya teknologi dan metode baru dikembangkan agar minyak bumi dapat dikelola secara maksimal.

     Saat ini pengeboran minyak bumi sangat gencar dilakukan demi memenuhi kebutuhan yang ada. Sisi lain dari pengelolaan minyak bumi membawa dampak tersediri seperti masalah pencemaran yang diakibatkan tumpahnya minyak hasil pengeboran di laut. Penggunaan minyak bumi untuk bahan bakar kendaraan ataupun dalam perindustrian yang mengeluarkan karbon dioksida dapat menyebabkan terjadinya pencemaran udara. Tak hanya itu, semua proyek pertambangan memerlukan lahan dalam jumlah besar untuk membangun lubang tambang, tentunya proses ini bisa menggusur lahan pertanian, hutan dan sumber air. Dampak tersebut harus dipikul karena kebutuhan minyak bumi yang akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tidaklah baik jika manusia terus bergantung pada minyak bumi, selain ketersediannya yang terus berkurang, dampak yang ditimbulkan pun cukup besar. Untuk itu dilakukan pengembangan energi alternatif yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk mengatasi kelangkaan sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan yaitu degan biodiesel.

     Biodiesel merupakan bahan bakar dari minyak nabati yang terdiri dari mono-alkil ester dari rantai panjang asam lemak yang dapat terbakar dengan sempurna. Salah satu sumber penghasil minyak yang belum banyak digali manfaatnya adalah Mikroalga (Chlorella sp.) yang mengandung minyak sekitar 28%-30% dari berat kering yang dapat digunakan untuk mengkatalisis triglyceride menjadi methyl ester (biodiesel) dengan mekanisme transterifikasi. Metode transterifikasi atau menggunakan metanol dan katalis asam akan menghasilkan 85,5% biodiesel dan proses ini dilakukan selama 40menit pada suhu 90°C.

     Mikroalga merupakan mikroorganisme atau jasad renik dengan tingkat organisasi sel yang termasuk dalam kategori tumbuhan tingkat rendah. Mikroalga laut berperan penting dalam jaring – jaring makanan di laut dan merupakan materi organik dalam sendimen laut, sehingga diyakini sebagai salah satu komponen dasar pembentukan minyak bumi di dasar laut yang dikenal sebagai fossil fuel. Untuk pertumbuhan biomassa mikroalga dibutuhkan cahaya, CO2 dan nutrient yang cukup. Biomassa tersebut diekstraksi dengan n-heksan untuk mendapatkan minyak alga dan kemudian dilanjutkan dengan proses transterifikasi. Limbah dari hasil ekstraksi biomassa mikoralga sendiri dapat dipakai untuk pakan ternak.

     Selama ini mikroalga hanya dimanfaatkan sebagai pakan larva ikan pada kegiatan budidaya. Dengan gencarnya penelitian untuk mencari sumber energi baru pengganti minyak bumi, mikroalga diyakini sebagai salah satu biornergi sebagai bahan baku penghasil biofuel. Mikroalga dipilih karena pertumbuhannya yang cepat, tidak membutuhkan lahan yang luas dan biaya produksi yang cukup rendah. Mikroalga mempunyai kemampuan untuk menyerap karbondioksida sehingga dapat mengurangi efek rumah kaca.

     Sebuah penelitian mengatakan bahwa biodiesel dapat dihasilkan dari berbagai jenis tanaman. Saat ini yang umum digunakan sebagai sumber biodiesel adalah minyak sawit, jarak, jagung sebagai campuran solar. Berikut pada tabel menunjukkan berbagai jenis tanaman dan volume biodiesel yang dapat diproduksinya.

Sumber : Chirsti, 2007

       Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa banyak sekali biodiesel dapat dihasilkan dari jenis tanaman pangan. Hal ini dikhawatirkan permintaan pasar akan biodiesel nantinya akan menganggu permintaan pasar untuk tanaman pangan.

     Alangkah baiknya jika mirkroalga yang bukan jenis tanaman pangan dimanfaatkan semaksimal mungkin guna memproduksi biodiesel. Dengan pertimbangan kebutuhan lahan yang sedikit, biaya produksi cukup murah dan dapat menghasilkan minyak yang cukup banyak, mikroalga hadir sebagai kandidat yang siap menggantikan minyak bumi kedepannya.

Profil Penulis
Anggi Marshela Tiara Rukid
Author: Anggi Marshela Tiara Rukid
Mengenai Penulis