NEGERI-KU DI KOYAK DENGAN PAKSA

 

Tulisan ini teruntuk sekelompok orang yang masih saja membuat lubang dinegeri-ku secara semena-mena. Sekelompok orang yang tidak memegang izin dan mungkin saja tidak tahu cara yang benar serta layak untuk mencari kekayaan yang terkandung di inti bumi ibu pertiwiku. Sekelompok orang yang berfikir bahwa apa yang mereka lakukan baik-baik saja, padahal nyatanya tidak.

Sempat membaca, diprovinsiku (Jambi) ditemukan lima puluh sumur minyak yang tidak punya sopan santun atau ilegal. Dan ditemukan di hutan lindung. Sangat miris. Hutan yang dilindungi saja masih diloncati pagarnya untuk hal pencurian. Hal itu ikut merusak kediaman tumbuhan dan hewan-hewan, kebakaran dapat saja terjadi. Drillling atau pengeboran akan melubangi tanah untuk melihat apakah ada minyak dibawah sana, kalau tidak ada? Mereka akan membuat lubang yang lainnya. Mereka akan terus mecari sampai mendapati apa yang mereka mau. Pola pikir mereka terlalu mementingkan nikmat duniawi, tidak memikirkan akibat yang merugikan banyak sisi dan banyak pihak. Mereka seolah-olah tidak takut dan kebal akan hukum yang berlaku, jeruji besi dan denda ratusan bahkan miliaran rupiah mereka abaikan saja. Telah buta akan keuntungan aliran pundi-pundi uang yang sudah didepan mata. Sumur itu menjadi ladang penghasilan mereka, ilegal atau bisa disebut haram.

Mereka tidak tahu, mungkin saja bumi ini menangis dan merintih akibat ulah mereka. Seperti dioperasi tanpa menggunakan obat bius, merasakan kesakitan,kepedihan oleh pembedah yang tidak belajar prosedur sesungguhnya. Akibatnya, bencana terus berdatangan. Mulai dari longsor yang merugikan warga sekitar dan bahkan kematian bagi pekerja mereka. Pencemaran lingkungan juga kerap terjadi, sumber air menjadi bau dan tidak layak konsumsi karena bercampur dengan limbah-limbah yang tidak merka olah dengan baik.

Banyak sekali kasus terjebaknya pekerja akibat lubang, gua ataupun lorong-lorong bawah tanah yang mereka buat sendiri. Mereka tidak siap, mereka minim akan pengetahuan tentang bahayanya menyelami perut bumi. Tidak menggunakan alat pelindung diri yang berstandar menjadi penyebab. Kembali lagi pada keberadaan mereka yang juga tidak berstandar. Lalu apa penyebab mereka tidak membuat eksistensi mereka nyata? Well logging yang merupakan salah satu proses pengeboran minyak bumi memerlukan tool yang menguras kantong cukup dalam. Disamping memetakan lapisan tanah, proses ini juga mengambil sample untuk nantinya dicek kandungannya apakah minyak, gas ataupun hanya air saja.  Apakah itu salah satu alasannya? Karena biaya? Atau karena perizinan kepada pemerintah juga menguras?

Untuk wakil rakyat-ku, pengaman negeri-ku yang sedang duduk di singgasana, ini merupakan salah satu hal besar yang perlu diperhatikan. Bahayanya memang bagi bumi , tapi jangan lupa bahwa disitulah kita berpijak dan bertempat tinggal. Memang tidak mudah untuk memberhentikan pelaku tapi setidaknya janganlah menjadi orang yang berperan sebagai lancarnya kegiatan yang mereka bangun. Jadilah orang yang mencegah dan memberantas drilling atau pengeboran minyak yang ilegal. Setidaknya hal itu dapat mengurangi kemungkinan mengapa titik sumur ilegal masih berserakan. Satu masalah ini bisa menjadi seribu masalah yang mengekor dibelakangnya. Hukumlah mereka sesuai dengan peraturan yang telah dibuat, mereka mencuri, merusak dan mencemari negeri tercinta ini. Hukumlah mereka dan buat mereka menyesali dan tidak mengulangi perbuatan kejam mereka. Keberadaan mereka membahayakan bumi. Kalaupun mereka tetap ingin berusaha dibidang perminyakan buatlah mereka sadar akan pentingnya standar dan perizinan, karena itu juga menyangkut keselamatan hidup.

Aparat harus bergegas melancarkan aksinya agar tidak semakin mewabahnya kejadian ini, dimulai dari perngecekan secara rutin daerah-daerah yang rawan akan pengeboran atau dengan alat pendeteksi khusus dirancang agar mengetahui posisi sumur-sumur ilegal. Lalu kita sebagai warga negara indonesia yang baik harus ikut berperan penting. Misalnya, melaporkan kepada pihak yang berwajib apabila mengetahui ataupun melihat secara langsung keberadaan sumur tersebut, dan tentunya bukan malah ikut merusak bumi dengan embel-embel imbalan yang diberikan. Tidak, itu bukan hal yang baik dilakukan. Semua dimulai dari diri kita sendiri, menjaga bumi juga berarti menjaga keeksistensian kita di atasnya. Karena kita butuh rumah yang nyaman dan tentram.

Profil Penulis
firdha wani chairunnisah
Author: firdha wani chairunnisah
Mengenai Penulis