Mengatasi Permasalahan Minyak Bumi di Indonesia

 

Produksi minyak di Indonesia pada 2017 telah diketahui terjadinya penurunan produksi. Hanya tinggal 949 ribu barel per hari, pada waktu yang sama tingkat konsumsi bertambah menjadi 1,65 juta barel per hari, artinya defisit 702 barel per hari. Konsumsi minyak yang cenderung bertambah bersamaan dengan merosotnya produksi membuat Indonesia mengalami defisit minyak sejak 2003. Data BP menunjukkan produksi minyak Indonesia pada 2003 sebesar 1,18 juta barel per hari sementara konsumsi mencapai 1,23 juta barel. Akibatnya terjadi defisit 54 ribu barel per hari. Setelah itu, produksi minyak nasional semakin turun sedangkan konsumsi selalu bertambah. Produksi minyak di Indonesia pada tahun 2017 tersisa tinggal 949 ribu barel per hari sementara konsumsi bertambah menjadi 1,65 juta barel sehingga dibutuhkan 702 barel per hari untuk memenuhi kebutuhan minyak  domestik. Pertamina setiap tahunnya mengimpor minyak dari luar negeri untuk menutup defisit tersebut. Pada kondisi tersebut yang merancang neraca nilai perdagangan minyak dan gas nasional mengalami defisit. Sebagai informasi neraca perdagangan minyak dan gas pada tahun 2017 defisit US$ 8,57 miliar dan bertambah menjadi US$ 12,4 miliar yang jika di konversi ke rupiah setara Rp 174 triliun dengan kurs Rp 14.000/dolar Amerika Serikat.

Etanol merupakan salah satu turunan dari senyawa hidroksil atau gugus OH, dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol merupakan suatu cairan transparan, mudah terbakar, tidak berwarna, mudah menguap, dapat bercampur dengan air, eter, dan kloroform, yang diperoleh melalui fermentasi karbohidrat dari ragi yang disebut juga dengan etil alkohol (Bender, 1982). Etanol digunakan pada berbagai produk meliputi campuran bahan bakar, produk minuman, penambah rasa, industri farmasi, dan bahan-bahan kimia. Etanol merupakan salah satu sumber energi alternatif yang dapat dijadikan sebagai energi alternatif dari bahan bakar nabati (BBN) (Jeon, 2007).

Salah satu energi alternatif pengganti minyak bumi yaitu ethanol. Ethanol merupakan bahan bakar berbasis alkohol yang diperoleh dari fermentasi tanaman. Contoh tanaman yang difermentasikan untuk menghasilkan ethanol adalah jagung dan juga gandum. Yang menarik, ethanol dapat dicampur dengan bensin demi meningkatkan kualitas emisinya.

Ethanol dapat diperoleh dari berbagai sumber bahan substrat yang mengandung karbohidrat. Karbohidrat tersebut dapat berupa sukrosa, glukosa, dan fruktosa. Bahan-bahan tersebut dapat diperoleh dari jerami padi yang merupakan bahan lignoselulosa yang ketersediaannya melimpah, murah, dan ada secara terus menerus (Yoswathana et al., 2010). Jerami padi memiliki kandungan lignosellulosa yang cukup tinggi dan dapat didegradasi menjadi bentuk yang lebih sederhana menjadi glukosa, sebagai sumber pembentuk etanol. Penggunaan bahan lignoselulosa sebagai substrat untuk produksi etanol perlu adanya perlakuan pendahuluan (pretreatmen).

Hal ini dikarenakan jerami padi memiliki struktur lignin yang tebal. Metode yang sering digunakan untuk proses pretreatment adalah penggunaan basa Ca(OH)2 disertai suhu 85ºC yang bertujuan untuk memecah struktur lignin, tidak terbentuk senyawa inhibitor bagi aktivitas mikrobia, dan menyebabkan material selulosa lebih mudah berinteraksi untuk proses hidrolisis enzimatis.

Diharapkan pemerintah segera menangani permasalahan dari minyak ini karena jika tidak pasokan minyak di Indonesia akan habis dan akan terjadi permasalahan pada lempeng bumi di Indonesia, dan juga akan terjadi fenomena alam yang tidak diharapkan lainnya. Penambahan alternatif dari minyak diharapkan dapat mengurangi pengurangan pasokan minyak di Indonesia dan juga pemerintah diharapkan dapat membuat program untuk mengurangi penggunaan minyak di Indonesia.

Profil Penulis
Pasha Pratama Bahar
Author: Pasha Pratama Bahar
Mengenai Penulis