Berbicara masalah kebutuhan bahan bakar, kita perlu sadar bahwa bahan bakar yang sejatinya akan selalu diperlukan namun persediaan bahan bakar di bumi kian hari kian menipis, sementara itu kebutuhan akan bahan bakar kian hari kian bertambah karena bertambahnya jumlah manusia serta perkembangan teknologi yang terus meningkat. Peningkatan yang terus terjadi baik dari segi kebutuhan bahan bakar, jumlah manusia serta perkembangan teknologi menyebabkan kebutuhan energi juga terus meningkat. Oleh sebab itu maka diperlukan suatu perubahan dasar mengenai sumber energi, untuk menemukan sumber energi alternatif untuk menggantikan sumber energi fosil yang perlahan-lahan mulai habis. Salah satu jenis dari energi alternatif tersebut adalah biofuel atau bahan bakar hayati.

Biofuel adalah setiap bahan bakar baik padatan, cairan ataupun gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organik. Biofuel dapat dihasilkan secara langsung dari tanaman atau secara tidak langsung dari limbah industri, komersial, domestik atau pertanian. Salah satu contoh dari biofuel adalah biodiesel, yang merupakan bahan bakar alternatif yang mampu mengurangi efek rumah kaca akibat penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi serta penggunaan biodiesel telah menjadi wajib di beberapa negara maju.

Peningkatan yang cukup besar dalam produksi biodiesel sebagai bahan bakar alternatif di seluruh dunia semenjak 5 tahun terakhir mengakibatkan meningkatnya jumlah gliserol, yang yang berasal dari reaksi transesterifikasi pada industri biodiesel tersebut. Semakin meningkat produksi biodiesel, maka limbah gliserol yang dihasilkan juga semakin meningkat. Meskipun gliserol murni banyak digunakan dalam industri makanan, farmasi, kosmetik, dan industri-industri lainnya, pemurnian limbah gliserol menjadi gliserol murni umumnya sangat mahal dan tidak efektif.

Pada beberapa penelitian yang dirangkum oleh Almeida (2012) dalam artikel yang berjudul “Biodiesel Biorefinery: Opportunities And Challenges For Microbial Production Of Fuels And Chemicals From Glycerol Waste,” sekarang telah diteliti pemanfaatan gliserol dari produksi biodiesel dengan cara fermentasi gliserol oleh mikroba untuk memproduksi bahan bakar dan bahan kimia yang bermanfaat bagi manusia. Pemanfaatan kelebihan limbah gliserol ini akan menghindari pembuangan limbah berlebih dan meningkatkan nilai ekonomis dari industri biodiesel. Dengan memanfaatkan berbagai jenis mikroba yang berbeda, dapat dihasilkan berbagai produk yang beraneka ragam dari bahan baku berupa gliserol. Beberapa mikroba yang dimanfaatkan terutama berasal dari famili Enterobacteriaceae dan Clostridiaceae, seperti KlebsiellaEnterobacter, dan Clostridium.

Produk bahan kimia yang dihasilkan meliputi alkohol, keton dan asam organik, serta senyawa kimia lain. Jenis alkohol yang dihasilkan antara lain propadienol (PDO), butadienol (BDO), etanol, dan butanol. Jenis keton dan asam organik yang dihasilkan meliputi dihidroksiasetonfosfat, asam gliserat, asam laktat, asam suksinat, asam sitrat, asam oksalat, polyol, manitol, arabitol, dan eritritol, sedangkan senyawa lain yang dapat dihasilkan dari pengolahan gliserol tersebut adalah polihidroksibutirat (PHB), D-xylulose, asam lemak tak jenuh, biohidrogen dan biometana. Beberapa produk di atas seperti etanol, butanol, dan biohidrogen berpotensi menjadi bahan bakar menggantikan minyak bumi yang semakin menipis, sedangkan produk lainnya merupakan bahan kimia yang digunakan bagi berbagai jenis industri.

Dengan ditemukannya strategi baru ini, penggunaan biodiesel yang memiliki kelemahan yaitu menghasilkan limbah gliserol ini dapat diatasi dengan pemanfaatan gliserol menjadi beragam produk. Dalam hal ini penggunaan biodiesel serta pemanfaatan gliserol dari sisa industri biodiesel juga berpeluang menigkatkan sumber daya enegi yang mumpuni serta mengurangi efek pemanasan global yang disebabkan emisi gas rumah kaca akibat dari pemakaian bahan bakar fosil.

Profil Penulis
Muhammad Thoriq Akbar
Author: Muhammad Thoriq Akbar
Mengenai Penulis