Minyak bumi adalah bahan baku dalam pembuatan bensin, solar, minyak tanah, dan sebagainya. Yang dimana minyak bumi merupakan sumber energi yang signifikan dan dibutuhkan untuk memenuhi konsumsi energi di dunia, baik di sektor industri ataupun kebutuhan rumah tangga. Bensin adalah salah satu hasil olahan minyak bumi yang sangat sering digunakan dan dibutuhkan dalam kehidupan sehari – hari, Sebanyak 51,3 juta kiloliter adalah konsumsi untuk bensin jenis umum yang tidak disubsidi, yakni bensin mulai oktan 88 ke atas (Satrianegara, 2018). Data tersebut merupakan data konsumsi bensin di Indonesia, hanya di Indonesia!. Kita belum mengakumulasinya dalam skala internasional. Angka konsumsi yang sangat tinggi itu akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk yang makin hari makin meningkat dan perlu dicatat bahwa data tersebut baru penggunaan bensin saja bagaimana dengan solar, dan senyawa paraffin lainnya yang merupakan hasil olahan minyak bumi dan memiliki angka konsumsi yang tinggi juga. Tidak terbayangkan berapa banyak minyak bumi yang harus disupplai per harinya. Kita juga tahu bahwa minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui atau dengan kata lain butuh waktu lama untuk membentuknya kembali.

Peningkatan angka konsumsi ini tidak dapat dihindari lagi maka perlu solusi dan inovasi lain yang dapat menggantikan peran minyak bumi sebagai sumber energi yang signifikan. Biofuel adalah salah satu energi alternatif yang memiliki potensi tinggi dalam menggantikan minyak bumi. Biofuel merupakan bahan bakar yang berasal dari biomassa (dari tumbuhan dan hewan). Contoh dari biofuel itu sendiri antara lain adalah ethanol. Ethanol berasal dari hasil fermentasi tumbuhan (e.x.: Jagung, tebu). Adapun contoh lainnya adalah Biodiesel yang berasal dari hasil olahan minyak kelapa sawit. Mengapa kita harus memilih biofuel?. Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, biofuel seperti ethanol menghasilkan karbon dioksida hingga 48 persen lebih sedikit daripada bensin konvensional sementara penggunaan biodiesel hanya melepaskan seperempat jumlah karbon dioksida yang dikeluarkan diesel konvensional. Hal ini menjadi pilihan yang jauh lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil (Teo, 2017).

Selain ramah lingkungan, biofuel juga merupakan energi yang dapat diperbaharui dan dapat dikembangkan lagi proses pembuatannya. Karena biofuel itu sendiri merupakan bahan bakar yang didapatkan dari alam langsung dan tidak membutuhkan waktu yang lama dalam menciptakannya, lain halnya dengan minyak bumi yang membutuhkan waktu bertahun – tahun untuk mencapai nilai kelayakannya. Namun, walau biofuel ramah terhadap lingkungan biofuel juga memiliki kekurangan. Pembuatan biofuel membutuhkan katalis agar mempemudah proses perengkahan. Proses pembuatan biofuel membutuhkan katalis yang tepat dan ekonomis. Penggunaan katalis berbasis zeolit diakui sangat efektif untuk proses perengkahan minyak sawit menjadi biofuel (Tillotama A.S., 2012). Pemilihan katalis merupakan hal yang sangat penting dalam pembuatan biofuel, katalis homogen (katalis asam dan katalis basa) sering digunakan dalam proses pembuatan biofuel. Namun penggunaan katalis tersebut memiliki kelemahan yaitu pemisahan katalis dari produknya cukup rumit. Selain itu, katalis homogen dapat bereaksi dengan asam lemak bebas (ALB) membentuk sabun sehingga akan mempersulit pemurnian, menurunkan yield biodiesel serta memperbanyak konsumsi katalis dalam reaksi metanolis (Oko, 2018).  Kekurangan lainnya dari biofuel adalah dibutuhkannya bahan baku dari alam yang sangat banyak sehingga dapat menyebabkan ketidakseimbangan keanekaragaman hayati dan juga dapat menganggu harga pangan di pasar. Karena bahan baku yang digunakan sebagian besar berasal dari tumbuhan pangan sehari – hari. Maka perlu dilakukan kebijakan tertentu dalam mengontrol harga dan supplai bahan baku pembuatan biofuel. Seperti kebijakan pembuatan lahan tanam bahan baku sendiri untuk setiap industri agar supplai bahan baku tidak berasal dari pasar yang khusus menjual kebutuhan pangan masyarakat. Kebijikan ini dapat dilakukan untuk menghindari inflasi atau kelangkaan bahan pangan jika industri biofuel sudah berkembang pesat.

Maka dari itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap biofuel demi menghadapi kebutuhan minyak bumi yang sangat tinggi ini. Penggalakan dalam membangun industri biofuel juga perlu dilakukan dengan kebijakan – kebijakan yang jelas dari pemerintah dan industri agar tidak merugikan petani pangan dan lingkungan sekitar industri, Hal ini merupakan tugas para ahli teknik kimia yang terjun di bidang ini. Pengembangan harus terus dilakukan guna meningkatkan kualitas dari biofuel dan lajur produksi biofuel. Jika biofuel dapat menyaingi kebutuhan dan kualitas minyak bumi sepenuhnya, kita bisa menekan angka konsumsi minyak bumi yang tinggi ini dengan menggantikannya dengan biofuel berkualitas tinggi dengan harga yang relatif murah.

Profil Penulis
Muhammad Prayogo Putra Kusuma Nugroho
Author: Muhammad Prayogo Putra Kusuma Nugroho
Mengenai Penulis