PEMANFAATAN BIOGASOLINE SEBAGAI BAHAN BAKAR PENGGANTI BENSIN MURNI

            Minyak bumi adalah sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui yang keberadaannya lama kelamaan akan semakin berkurang. Oleh karena itu, bahan-bahan alternatif atau pengganti minyak bumi harus terus dikembangkan agar energi-energi yang dihasilkan dari minyak bumi itu tidak menghilang begitu saja. Terlebih lagi di era modern seperti ini sudah banyak teknologi-teknologi yang digunakan untuk menghasilkan energi baru terbarukan.

            Ada banyak energy baru terbarukan yang sekarang sudah dikembangkan seperti. Biodiesel, biogas, biomassa, biogasoline, methanol, P-series dan lain sebagainya. Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai pemanfaatan gasoline sebagai pengganti bahan bakar bensin murni. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa saat ini sumber energy utama yang paling banyak digunakan adalah bensin yang berasal dari minyak bumi. Adapun kelemahan minyak bumi yaitu jumlah dialam sangat terbatas dan artinya minyak bumi lama kelamaan akan habis, selain itu harga minyak bumi akan memberikan dampak yang besar bagi pembangunan bangsa. Tingginya tingkat ketergantungan terhadap bahan bakar minyak yang harganya terus berfluktuatif, membuat Indonesia sangat rentan terhadap krisis energi. Karena itu, pengoptimalan sumber energi alternatif yang potensinya melimpah di Indonesia merupakan sebuah keniscayaan dimasa depan.

            Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia N0.5 th 2006 tentang kebijakan energi nasional untuk mengembangkan sumber energi  alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Ada beberapa hal yang menyebabkan kebutuhan bensin meningkat yaitu penggunaan bensin yang sangat luas. Untuk membuat bahan bakar alternatif pengganti bensin, ada hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut:

  1. Karakteristik bensin sangatlah spesifik .
  2. Bensin terbakar melalui sistem karburator, dimana didalam karburator terjadi pencampuran udara dan bahan bakar .
  3. Nilai kalor dari bahan bakar, dimana nilai kalor bensin cukup tinggi yaitu berkisar antara 10,160-11,000 kkal/kg.

Kelangkaan bahan bakar terutama bensin sudah terjadi sejak lama, sehingga harus segera dilakukan pencarian bahan bakar aalternatif, salah satunya adalah biogasoline yang merupakan pencampuran dari bahan bakar bensin dan alcohol murni (dalam hal ini ethanol) dengan perbandingan tertentu. Hal ini dikarenakan bahan bakar nabati belum dapat berdiri sendiri sebagai  pengganti murni bahan bakar konvensional. Alcohol merupakan salah satu zat adiktif nabati yang bersumber dari alam yang ramah lingkungan. Sehingga penggunaan alcohol sebagai campuran pada biogasoline memiliki beberapa keunggulan seperti:

  1. Mengurangi emisi gas buang karbon dioksida (salah satu penelitian menunjukan pengurangan hingga 40-80%), dan senyawa sulfur (mengurangi hujan asam).
  2. Meningkatkan bilangan oktan, dapat menggantikan TEL (Tetra Ethyl Lead) sebagai zat adiktif, sehingga mengurangi emisi logam berat timbal yang sangat berbahaya bagi kesehatan makhluk hidup.
  3. Menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna (dapat mengurangi emisi gas karbon monoksida yang berbahaya bagi kesehatan)

Untuk bahan bakar cair, viskositas mengindikasikan sifat menghambat aliran dan menunjukan pula sifat pelumasannya pada permukaan yang dilumasinya.bahanbakar cair sendiri merupakan penggabungan dari senyawa hidrokarbon yang diperoleh dari alam maupun secara buatan. Bahan bakar cair umumnya berasal dari minyak bumi. Mungkin dimasa yang akan datang bahan bakar cair akan berasal dari oil shale, tar sands, batubara dan biomassa akan meningkat.

Dengan  kemudahan penggunaan, ditambah dengan efisiensi thermis yang tinggi ] serta penanganan dan pengangkutan yang lebih mudah. Ada beberapa kelebihan bahan bakar cair dibandingkan dengan bahan bakar padat antara lain:

  1. Kebersihan dari hasil pembakaran
  2. Menggunakan alat bakar yang lebih kompak
  3. Penanganannya lebih mudah

Namun bahan bakar cair juga memiliki kekurangan yaitu harus terlebih dahulu melewati proses pemurnian yang cukup kompleks.

Profil Penulis
Hanifah Kurniati
Author: Hanifah Kurniati
Mengenai Penulis