See the source image

     Sumber energi yang saat ini paling popular digunakan di seluruh dunia adalah sumber energi yang berasal dari fosil berupa minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Seperti pada tulisan terdahulu mengenai sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan, bahwa sumber energi minyak bumi, batu bara, dan gas alam merupakan sumber masalah bagi dunia. Sebab energi yang berasal dari fosil ini cepat ataupun lambat akan semakin berkurang seiring dengan pertumbuhan umat manusia dan pertumbuhan industri di dunia sehingga yang pada akhirnya minyak bumi akan menjadi barang langka dan sangat mahal. Biaya kehidupan akan tersedot hanya untuk memenuhi kebutuhan akan energi. 

     Selain itu, cadangan energi fosil Indonesia sudah sangat terbatas, cadangan minyak hanya cukup untuk 18 tahun, gas untuk 60 tahun, dan batu bara untuk 150 tahun. Adapun distribusi penggunaan sumber energi nasional untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 60%, gas 16%, batubara 12%, listrik 10%, dan LPG 1% dari total 606,13 juta SBM (setara bahan bakar minyak). Keadaan ini memacu Indonesia untuk mencari berbagai cara untuk menghemat penggunaan minyak bumi serta menciptakan energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil.

     Sumber energi alternatif baru dan terbarukan terus dilakukan riset serta pengembangan agar dapat menggantikan atau paling tidak menghemat sumber energi minyak. Para ahli teknologi dari berbagai penjuru dunia melakukan riset untuk mendapatkan sumber energi baru yang murah, bersih, dan dapat diperbarui. Salah satu sumber energi biomass yang mempunyai potensi untuk dikembangkan adalah energi biomass yang berasal dari minyak kelapa sawit atau disebut dengan biodiesel.

     Indonesia sebagai negara tropis memiliki berbagai jenis tanaman yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku untuk produksi energi alternatif pengganti bahan bakar minyak, baik berupa bio-ethanol sebagai pengganti premium maupun bio-diesel sebagai pengganti minyak solar. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa tumbuhan yang memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi yaitu alpukat. Kenyataannya, sawit dan jarak pagar memiliki kandungan minyak relatif lebih rendah tetapi kedua tanaman tersebut lebih banyak digunakan dalam pembuatan produk biodiesel. Hal ini didasarkan atas ketersediaan bahan baku, serta kemudahan di dalam proses budidaya tanaman itu sendiri. Oleh sebab itu, dengan adanya pemanfaatan biodiesel dari minyak kelapa sawit dapat membantu mengatasi krisis energi yang terjadi di Indonesia saat ini.

     Mengingat Indonesia sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia setelah Malaysia tentunya memiliki kesempatan memanfaatkan sawit sebagai bahan bakar diesel atau biodiesel. Pada tahun 2007 Indonesia tercatat sebagai penghasil dan pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Terlebih lagi pada tahun 2018, luas area perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 14,03 hektar. Adapun wilayah Sumatera saat ini merupakan wilayah yang mempunyai lahan kelapa sawit terbesar di Indonesia, khususnya Sumatera Utara, lalu disusul Riau, Kalimantan dan Sumatera Selatan. Berdasarkan luas lahan maupun potensi produksi biodiesel, sangatlah disayangkan jika produksi minyak kelapa sawit yang sangat besar ini tidak bisa dioptimalkan

     Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari minyak nabati, baik minyak baru maupun minyak bekas penggorengan yang mengalami proses transesterifikasi untuk metil ester dengan metanol menggunakan natrium atau kalium hidroksida yang dilarutkan dalam metanol sebagai katalis. Transesterifikasi adalah suatu perubahan dari suatu tipe ester ke tipe yang lain dan berlangsung selama setengah sampai satu jam pada suhu sekitar 40℃. Pada proses transesterifikasi, gliserin dapat dipisahkan dari minyak nabati untuk menurunkan viskositas dari minyak nabati. Ester merupakan komponen utama dari biodiesel dan dapat digantikan oleh alkohol, misalnya metanol dan etanol. Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan biodiesel yaitu minyak nabati, alkohol, dan katalis.

     Biodiesel sangat menjanjikan sebagai bahan bakar alternatif dan sudah terbukti ramah lingkungan dikarenakan tidak mengandung sulfur, pembakaran lebih sempurna, dan non toxic. Hasil penelitian oleh beberapa peneliti dari tahun 2005 hingga saat ini menunjukkan bahwa biodiesel dari minyak sawit bekas memiliki kualitas yang hampir sama dengan biodiesel standar yang dipersyaratkan oleh ASTM dan diesel perdagangan. Hal tersebut membuktikan bahwa biodiesel memiliki peluang untuk dipasarkan baik di dalam negeri maupun untuk diekspor. Mengenai perbandingan tingkat emisi karbon dioksida antara biodiesel dan diesel standar, biodiesel muncul sebagai pemenang dengan menghasilkan sekitar 75% lebih sedikit emisi karbon dioksida dibandingkan dengan diesel standar. Artinya dengan menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif minyak solar di Indonesia dapat mengurangi dampak perubahan iklim.

Profil Penulis
Luthfiyah Afnan Sayyidah
Author: Luthfiyah Afnan Sayyidah
Mengenai Penulis