Nama : Nurdiana Febriyanti
Nim    : 03031181722022
       

                                                                                      

        Seiring dengan pertumbuhan penduduk, pengembangan wilayah, dan pembangunan dari tahun ke tahun, kebutuhan akan pemenuhan energi listrik dan bahan bakar secara nasional pun semakin besar. Selama ini kebutuhan energi dunia dipenuhi oleh energi fosil yaitu energi yang tak terbarukan dan akan habis pada beberapa tahun yang akan datang. Diprediksi tidak lebih dari 50 tahun lagi energi fosil di dunia akan habis. Selain karena akan habis, energi fosil juga berdampak negatif terhadap lingkungan. Emisi gas rumah kaca dari pembakaran energi fosil berdampak pada pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim. Karena itulah energi pengganti fosil sangat diperlukan untuk kebutuhan energi di masa yang akan datang dimana cadangan energi semakin lama semakin menipis dan proses produksinya membutuhkan waktu jutaan tahun. Pemanfaatan sumber energi alternatif menjadi solusi pemenuhan kebutuhan energi yang semakin lama semakin besar di masa mendatang. Berkaca pada kondisi migas Indonesia yang mulai menipis, pencarian energi terbarukan mulai digencarkan. Pemerintah mulai menyasar energi ramah lingkungan, yaitu bioenergi yang diperoleh dari proses pengolahan biomassa, termasuk kayu. Indonesia yang berada di wilayah geografis tropis memang dikaruniai kekayaan bahan baku yang melimpah. Itulah mengapa pemerintah yakin untuk beralih ke pemanfaatan biomassa.  

      Indonesia memiliki potensi yang besar untuk energi terbarukan salah satunya adalah biomassa. Potensi sumber daya biomassa di Indonesia diperkirakan sebanyak 49.810 MW, yang berasal dari tanaman dan limbah. Biomassa bisa dijadikan penyeimbang dan meminimalisir ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, biomassa dapat diolah menjadi biogas sebagai penyeimbang gas alam, biooil sebagai penyeimbang minyak, dan briket sebagai penyeimbang batubara serta gas. Biomassa digunakan sebagai sumber energi (bahan bakar) di Indonesia. Biomassa pada umumnya memiliki nilai ekonomis rendah, atau merupakan limbah yang telah diambil produk primernya. Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan istilah biomassa pada awalnya hanya merujuk pada tanaman penghasil energi yang juga dapat dikonsumsi, seperti singkong, jagung, dan tebu. Namun, dengan mempertimbangkan ketahanan pangan, pemerintah mulai mencari alternatif lain. Muncul kemudian bahan baku nonpangan, seperti limbah pertanian (sekam, tongkol jagung, jerami), perkebunan (sisa tandan kelapa sawit), kehutanan (kayu mati), peternakan (kotoran sapi), industri (limbah pabrik kertas), sampah kota dan juga tanaman alga. Bermula dari alasan tersebut istilah biomassa meluas menjadi bahan organik yang berumur relatif muda dan berasal dari tumbuhan atau hewan, seperti hutan energi, produk dan limbah industri budidaya (pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan). Dari banyak bahan baku untuk biomassa tersebut salah satu tanaman yang memiliki energi potensi yang tinggi namun belum diproduksi secara missal adalah tanaman sorgum.

      Sorgum atau Sorghum bicolor adalah salah satu jenis tanaman serealia dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan, dan bahan baku industri. Kandungan gizi tanaman sorgum cukup tinggi dan beragam meliputi karbohidrat, lemak, kalsium, besi, dan fosfor. Didalam industri sebagai sumber bioenergi, sorgum mempunyai potensi untuk mensubtitusikan kebutuhan bahan bakar fosil serta industri tambang. Pengolahan sorgum sebagai bioenergi yaitu dengan mengolahnya batang sorgum yang diperas untuk diambil niranya sehingga menjadi limbah biomassa bagasse sorgum. Limbah biomassa bagasse sorgum selanjutnya akan diolah menjadi biopelet sebagai sumber energi alternatif melalui perlakuan umur tanaman, proses ekstraksi, dan suhu pengempaan. pelet yang terbuat dari sorghum memiliki kalori sebesar 4.000 hingga 4.500 kalori per gramnya. Sedangkan  batu bara memiliki kalori sebesar 5.000 hingga 6.000 per gramnya. Sehingga, jika dilihat dari jumlah kalorinya, pelet dan batu bara tidak berbeda jauh. Selain memiliki kalori yang hampir mendekati kalori batu bara, sorghum dapat menghasilkan bioetanol sebesar 17,7 kiloliter per hektare per tahun. Tanaman ini juga bisa menghasilkan 29,8 ton per hektare per tahun high fructose corn syrup (HFCS), sebanyak 38.3 ton per hektare per tahun pakan hewan, pembangkit listrik dari biomassa hingga pembuatan papan property. Selain itu, kelebihan dari sorghum ini ialah tingkat pertumbuhan yang sangat cepat dibandingkan dengan tanaman lainnya, misalnya tumbuhan tebu yang hanya dapat panen selama satu tahun sekali. Sedangkan sorghum dapat panen selama setahun tiga kali. Umur yang tepat untuk bisa memanen tumbuhan ini adalah sekitar tiga hingga empat bulan. Hal ini mempermudah dalam ketersediaan bahan baku sehingga bahan bakar biomassa tidak akan habis, karena dapat terus berulang-ulang diproduksi dan tidak menyebakan kerusakan maupun polusi lingkungan. Dalam pengembangannya tanaman sorgum merupakan tanaman asli dari wilayah-wilayah tropis dan subtropis di bagian Pasifik tenggara dan Australasia sehingga tidak sulit untuk ditanam dan dikembangkan di Indonesia yang memiliki iklim tropis.

      Biomassa yang kemudian menghasilkan bioenergi yang menjadi salah satu potensi terbesar untuk menjadi sumber energi alternatif dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Tidak hanya itu, penggunaan biomassa mampu mengurangi berbagai permasalahan manajemen polusi dan pembuangan, menghemat dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, serta mengurangi emisi gas rumah kaca. Tidak diragukan lagi dengan mengoptimalkan penggunaan biomassa adalah solusi yang tepat dengan potensi yang dimiliki Indonesia dan keadaan saat ini. Dari banyaknya keuntungan dari pengolahan biomassa dari tanaman sorgum ini, maka hal ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam untuk menghemat dan menghentikan ketergantungan kepada energi fosil. Melihat dari pertumbuhan hingga manfaat yang dihasilkan maka pemerintah dapat mengembangkan dan memanfaatkan tanaman sorgum menjadi untuk dijadikan sebagai alternatif bioenergi di Indonesia.  

Profil Penulis
Nurdiana Febriyanti
Author: Nurdiana Febriyanti
Mengenai Penulis