Biogas Sebagai Penggerak Turbin Rakyat Miskin

Indonesia merupakan negara yang kaya akan suber daya alamnya. Selain itu Indonesia juga memiliki tanah yang subur dan kekayaan hutan yang berlimpah serta iklim tropis yang membuatnya sangat cocok  untuk berbagai macam hewan ternak. Tanah yang luas dan subur, serta iklim tropis, membuat  kebanyakan  masyarakat Indonesia mencari nafkah sebagai petani dan juga peternak. Indonesia juga memiliki sumber daya energi yang sangat melimpah seperti minhnyak bumi, batu bara, dan gas alam. Sumber daya ini sangat penting bagi Indonesia sebagai sumber energi utama. Dalam penggunaannya sumber energi ini dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, bahan bakar industry, transportasi, bahan baku industri seperti industri petrokimia, dan bahkan diekspor sebagai pendapatan negara. Indonesia sangat bergantung terhadap energi konvensional ini, bahkan terlalu bergantung padanya. Jumlah warga negara yang tinggi juga merupakan salah satu sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia.

Tetapi dibalik semua itu masih banyak kekurangan pada negeri ini seperti, jumlah warga negara yang tinggi menyebabkan pemerataan yang sulit dicapai sehingga warga desa banyak yang terbelakang karena kurangnya pendidikan dan banyak juga warga yang miskin karena kurangnya lapangan pekerjaan. Kebutuhan  masyarakat juga sulit terpenuhi salah satunya kebutuhan energi. Berdasarkan data kementrian ESDM tahun 2018 konsumsi energi Indonesia pada 2017 mencapai 1,23 miliar Barrels Oil Equivalent (BOE) naik 9% dari tahun sebelumnya. Dengan kebutuhan energi yang besar ekonomi Indonesia jadi semakin terpuruk akibat dari naiknya harga minyak mentah jenis Brent hingga ke US$ 85/barel. Apalagi kerena sifatnya yang tidak dapat diperbaharui energi konvensional yang kita gunakan sebagai sumber energi utama dapat habis dalam waktu dekat.

Maka dari itu kita perlu mencari alternatif energi yang baru seperti energi terbarukan yang memanfaatkan proses alam yang berkelanjutan untuk kedepannya. Biogas merupakan energi yang sangat potensial untuk mendukung penggunaan energi di Indonesia sendiri. Dengan banyaknya peternak yang ada di Indonesia, maka limbah kotoran yang  dihasilkan juga melimpah. Kotoran ini merupakan sumber dari bahan baku untuk menghasilkan biogas. Sehingga selain menciptakan energi baru biogas juga dapat menjadi solusi dari pencemaran limbah kotoran ternak seperti ungkapan membunuh dua burung dengan satu batu. Oleh karena itu disini penulis membuat sistem yang akan sangat bermanfaat bagi Indonesia kedepannya sehingga dapat mengatasi masalah-masalah diatas.

Sistem yang akan dibuat merupakan kerja sama antara peternak, pemerintah, dan pertamina. Pertama pemerintah akan memberikan alat digester kepada para peternak untuk memproduksi biogas. Biogas yang diproduksi akan di diambil oleh pertamina yang nantinya dimurnikan dan diproses sebagai bahan bakar penggerak turbin gas untuk membangkitkan generator. Listrik yang diproleh dari turbin ini akan didistribusikan kemasyarakat miskin sebagai bentuk subsidi.

Sistem ini akan dilakukan di daerah Jawa Timur karena berdasarkan data yang diproleh dari Databoks bahwa jumlah sapi potong terbanyak terdapat di Jawa Timur yaitu dengan jumlah 4,5 juta inilah alasan penulis memilih Jawa Timur sebagai tempat dilaksanakannya sistem ini.

Biogas merupakan energi yang dihasilkan dari gas hasil fermentasi bahan organik yang diproses oleh bakteri metanogen. Proses fermentasi berlangsung di dalam reaktor biodigester secara alami sehingga proses yang dilakukan tidak terlalu rumit dan tidak membutuhkan biaya yang tinggi. Mikroba (bakteri) yang berfungsi untuk menguraikan bahan organik juga dapat terbentuk secara alami asalkan kondisi biodigester terpenuhi untuk tumbuhnya bakteri tersebut baktri yang dibutuhkan merupakan bakteri metanogen yang berasal dari rumen sapi.

Proses pembentukan biogas

Pertama peternak akan mengumpulkan kotoran sapi yang ditampung di reservoir dan dicampur dengan air dengan rasio 50:50 reservoir akan dilengkapi dengan pengaduk sederhana. Setelah kotoran tercampur rata dengan air kotoran akan masuk ke digester. Pada digester akan terjadi fermentasi oleh bakteri yang akan menghasilkan gas metan 50-70% dan CO2 yang akan terbentuk setelah 10 hari dan pembentukan metan ini akan terus berlangsung hingga bakteri yang ada pada digester mati kehabisan makanan. Digester ini dapat dibuat continue, batch ataupun semibatch dengan mengatur kotoran sapi yang masuk dan lama waktu didalam digester, karena bakteri yang ada didalam digester tidak akan mati bila tidak kekurangan makanan (C,N,O,H). digester akan dilengkapi dengan preassure gauge untuk mengukur berapa banyak methan yang sudah terbentuk. Setelah methan terbentuk akan dipurifikasi sederhana dengan air untuk penghilangan CO2 dan H2S yang terkandung didalam biogas.Purifikasi ini dilakukan untuk memudahkan pembawaan metan ke unit pengolahan pertamina, karena bila tidak dipurifikasi terlebih dahulu kandungan asam H2S dan CO2 akan menyebabkan korosif pada tangki. Selanjutnya slurry sisa proses akan ditampung yang nantinya akan dimanfaatkan untuk membuat pupuk sehingga proses ini tidak akan menghasilkan limbah sedikitpun pada pengolahannya.

Gambar ini menunjukan lokasi peternakan yang ada di Jawa Timur, peternakan yang akan diambil memiliki jarak yang tidak terlalu jauh satu sama lain untuk mempermudah pengumpulan gas metan oleh pertamina. Pertamina akan mengumpulkan metan yang dijadikan liquid terlebih dahulu dengan meggunakan tekanan tinggi menjadi LNG agar tangki yang dibutuhkan lebih sedikit. Mobil tangki akan digunakan untuk membawa hasil metan yang diproleh dari peternakan.

Sistem ini akan membantu konsumsi energi di Indonesia untuk mengatasi cadangan minyak Indonesia yang semakin menipis. Penggunaan biogas di Indonesia sendiri masih terbatas pada bahan bakar kompor saja dan masih belum maksimal. Padahal satu 1 ekor sapi menghasilkan kotoran 25 kg/ekor maka dari 411 ekor sapi dapat menghasilkan 10.275 kg dengan kandungan bahan kering sebesar 2.055 kg. maka akan menghasilkan biogas 82,2 m3/hari. Sedangkan setiap 1 m3 biogas menghasilkan 4,7 kWh. Oleh karena itu dari kotoran dari 441 ekor sapi berpotensi menghasilkan energi listrik sebesar 386,6 kWh/ hari. Menurut Hardianto dkk (2000). Dan dengan jumlah sapi sebanyak 4,5 juta maka kita bisa menghasilkan biogas sebannyak 838.775,51 m3/hari dan energi listrik sebesar 3.944.897,959 kWh/hari.

Berdasarkan data yang saya peroleh dari Databoks penggunaan listrik perkapita pada tahun 2017 mencapai 1.012 kWh/tahun atau 2,81 kWh/hari dan selalu meningkat dari tahun tahun sebelumnya. Dengan jumlah masyarakat Indonesia yang banyak maka energi minyak bumi, gas alam dan, batu bara yang ad di Indonesia akan semakin menipis karena terbebani tetapi dengan menggunakan energi biogas dari peternakan di JawaTimur maka kita dapat menghidupkan listrik 1.403.878 rumah di Jawa Tengah dan pemerintah dapat memberikan jumlah ini sebagai subsidi kepada keluarga kurang mampu didarerah Jawa Tengah. Kedepannya semoga kita dapat menerapkan sistem ini di seluruh daerah di Indonesia untuk Indonesia yang lebih baik lagi dan dapat digunakan untuk di pedesaan yang masih kekurangan listrik dan sumber energi.


DAFTAR PUSTAKA

Suyitno, dkk.2010. Teknologi Biogas. Graha Ilmu: Yogyakarta.

Hardianto ,dkk.2000. Pengkajian Teknologi Usaha tani Terpadu Tanam – Ternak di Lahan Kering. Prosiding Seminar dan Ekspose Hasil Penelitian/Pengkajian BPTP Jawa Timur, ISBN: 979-8094-86.7.hal 244-256.

Oktavia, Indri. 2016. Pemanfaatan Teknologi Biogas sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif di Sekitar Wilayah Operasional PT. Pertamina EP Asset 2 Prabumulih Field. ISSN: 2528-0848. Vol. 1 (1): 32-36.

Sanjaya, Denta, dkk. 2015. PRODUKSI BIOGAS DARI CAMPURAN KOTORAN SAPI DENGAN KOTORAN AYAM. Jurnal Teknik Pertanian LampungVol. 4No. 2: 127-136.

Dkatadata.2018. Berapa Konsumsi Energi Nasional?. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/10/10/berapa-konsumsi-energi-nasional. (Diakses pada 5 april 2019).

Dkatadata.2018. Inilah Konsumsi Listrik Nasional Inilah Konsumsi Listrik Nasiona.https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/01/11/inilah-konsumsi-listrik-nasional.( diakses pada 19 april 2019).

 

 

Profil Penulis
M Hafiz Ridho
Author: M Hafiz Ridho
Mengenai Penulis