Biodiesel atau biosolar merupakan bahan bakar alternatif yang menjanjikan yang dapat diperoleh dari minyak tumbuhan, lemak binatang atau minyak bekas melalui esterifikasi dengan alkohol (Özgul dan Türkay 1993; Pamuji, dkk. 2004; Gerpen 2004). The American Society for Testing and Materials (ASTM) (1998) mendefinisikan biodiesel sebagai mono-alkil ester yang terdiri dari asam lemak rantai panjang, didapat dari lemak terbarukan, seperti minyak nabati atau lemak hewani. Mono-alkil ester dapat berupa metil ester atau etil ester, tergantung dari sumber alkohol yang digunakan. Metil ester atau etil ester adalah senyawa yang relatif stabil, berwujud cairan pada suhu ruang (titik leleh antara 4°-18°C), nonkorosif, dan titik didihnya rendah (Swern, 1982). Beberapa contoh jenis biji-bijian yang terbukti bisa diproses menjadi biodiesel adalah kemiri, biji jarak pagar, nyamplung, kacang tanah, biji kapuk dan masih banyak lagi.

Sampai saat ini telah banyak penelitian tentang biodiesel dikarenakan menurut prediksi bahan bakar fosil akan segera habis dalam kurun waktu 40 sampai 70 tahun ke depan. Bahkan Indonesia yang sejak dulu terkenal sebagai negara pengekspor minyak bumi telah menjadi salah satu negara pengimpor minyak bumi. Namun pemerintah saat ini telah membuat program yang mewajibkan bahan bakar minyak jenis solar dicampur dengan minyak kelapa sawit.

Berdasarkan rangkuman dari Okezone Finance, berikut adalah fakta – fakta tentang biodiesel di Indonesia:

  1. Indonesia Bisa Hemat Devisa Hingga Rp79,2 Triliun jika Menggunakan Biodiesel

Penggunaan solar dengan kandungan minyak kelapa sawit sebesar 20% atau B20 diklaim bisa menghemat devisa negara hingga USD21 juta per hari setara Rp302,4 miliar (kurs Rp14.400 per USD). Sebab, dengan penggunaan B20 pemerintah bisa menekan impor solar sekaligus meningkatkan konsumsi minyak kelapa sawit dalam negeri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menuturkan, jika dihitung dalam satu tahun, maka penghematan cadangan devisa sebagai imbas penggunaan B20 sebagai bahan bakar setara dengan USD5,5 miliar setara Rp79,2 triliun (kurs Rp14.400 per USD). Dengan syarat, penggunaan B20 sudah dilakukan sepenuhnya oleh sektor kewajiban pelayanan publik atau public service obligation (PSO) dan non PSO.

  1. Pemerintah Menambah Target Biodiesel Jadi 3,5 juta per Tahun

Pemerintah untuk tahun ini menambah target penggunaan biodiesel dari 2,5 juta per tahun menjadi 3,5 juta per tahun. Namun, setelah ditambah dengan pertambangan ini maka proyeksi realisasi akan mencapai 3,35 juta kilo liter per tahun. Maka untuk mencapai target maka pihaknya akan memperluas penggunaan biodiesel.

  1. Biodiesel Sasar KAI dan Sektor Tambang

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, setelah memperluas penggunaan ke sektor transportasi yakni ke KAI, kali ini pihaknya akan menyasar sektor pertambangan. 

  1. Pencampuran Biodiesel Akan Diperluas dari Industri hingga Pertambangan

Pemerintah terus mendorong pencampuran bahan bakar nabati (BBN) dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sebesar 15%. Mandatori penggunaan biodiesel akan diperluas untuk seluruh sektor, yakni industri, transportasi, dan pertambangan. Menurut  Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridha Mulyana, total konsumsi solar pada seluruh sektor mencapai 33-35 juta kiloliter (kl). Sedangkan total realisasi pencampuran biodiesel 15% baru mencapai 2,86 juta kiloliter untuk sektor transportasi dan per tambangan. Biodiesel juga nantinya akan menyasar ke sektor industri semen, besi dan baja dan akan segera ditindak lanjuti.

  1. Mencampur Solar dengan Minyak Kelapa Sawit dapat Menghilangkan Garansi Mesin Pabrik

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldy Dalimi mengungkapkan bahwa ada keluhan yang berasal dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) serta industri pertambangan. Mereka mengeluhkan bahwa tidak semua mesin lama memiliki kualifikasi untuk menggunakan B20 sebagai bahan bakar. Pasalnya, komponen mesin lama tidak dirancang untuk B20. Ia juga mengatakan beberapa mesin lama pada perusahaan manufaktur bahkan dapat kehilangan garansinya apabila menggunakan B20.

  1. Gugat AS, Biodiesel Dikenai Pajak Lebih Tinggi

Departemen Perdagangan AS resmi mengerek tarif bea masuk biodiesel asal Indonesia dari 92,52% menjadi 276,65%. Kenaikan tarif bea masuk secara signifikan itu merupakan bagian dari tindakan pengamanan perdagangan yang dilakukan pemerintah AS terkait antidumping dan antisubsidi.

Berdasarkan fakta – fakta tersebut dapat dilihat bahwa biodiesel merupakan jawaban yang tepat untuk mengatasi kepunahan bahan bakar fossil di masa yang akan datang bahkan dapat menggantikan bahan bakar fossil jika telah habis. Lalu mengapa biodiesel? Hal ini karena biodiesel memiliki beberapa keunggulan seperti ramah lingkungan, karena biodiesel memberi polusi yang lebih rendah dibandingkan solar dari minyak bumi, biodiesel juga tidak beracun, tidak mengandung sulfur dan senyawa aromatik dan bisa diuraikan oleh lingkungan. Studi menunjukkan bahwa emisi karbon dioksida biodiesel 78,5% lebih rendah dibandingkan solar. Lalu karena biodiesel merupakan energy terbarukan, jadi bahan bakunya akan selalu tersedia tidak seperti bahan bakar fossil. Selain sebagai bahan bakar kendaraan, biodiesel juga bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk pemanas rumah, bahan bakar pembangkit listrik, serta sebagai pelarut. Produksi biodiesel membutuhkan energi 70-90% lebih sedikit dibandingkan energi yang dibutuhkan untuk membuat solar. Dan masih banyak lagi keuntungan dari biodiesel,

Namun, biodiesel juga memiliki beberapa kekurangan seperti sama dengan solar, jika mencemari perairan biodiesel tetap akan membahayakan ekosistem air karena sifatnya sebagai minyak. Selain itu dibutuhkan lahan yang luas untuk menanam tumbuhan yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Dan walaupun sudah bisa digunakan dalam bentuk murni, biodiesel kebanyakan masih dipergunakan sebagai bahan campuran. Alasannya karena mesin – mesin dari kendaraan saat ini dan juga mesin – mesin lainnya belum mampu (atau disesuaikan) dengan karakter bahan bakar nabati itu. Apalagi bahan bakar masa depan ini memiliki titik beku yang lebih rendah daripada bahan bakar minyak. Ia akan lebih cepat membeku. Hal ini akan menyulitkan bagi negara – negara yang memiliki empat musim dimana bisa saja bahan bakar di tangki akan membeku saat temperatur udara turun. Tetapi apapun kelemahan biodiesel, saat ini kita masih belum memiliki banyak pilihan sementara persediaan bahan bakar minyak bumi semakin menipis, karena itu lah biodiesel tetap bisa menjadi pilihan untuk menghindari masalah di masa yang akan datang.

 

Referensi:

1. https://economy.okezone.com/read/2018/07/28/320/1928599/6-fakta-dari-biodiesel-solar-yang-dicampur-dengan-minyak-kelapa-sawit?page=2

2. https://warstek.com/2015/06/02/biodiesel/

3. http://www.lingkungan.lovelybogor.com/biodiesel-biosolar-bahan-bakar-nabati/

Profil Penulis
Ade Ummul Kamilah
Author: Ade Ummul Kamilah
Mengenai Penulis