5 Jurus Jitu Tuntaskan Permasalahan Bahan Bakar Minyak di Indonesia

Erika Sisilia

Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

E-mail: erika.sisilia@yahoo.com

 

             Permasalahan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia seperti menipisnya cadangan minyak bumi dan kenaikan harga BBM  merupakan penyakit kronis yang telah menggerogoti Indonesia dan belum ditemukan obatnya sampai saat ini.

            Pemerintah seperti sudah kehabisan akal dalam menyelesaikan permasalahan pelik BBM ini dengan memutuskan untuk menaikkan harga BBM dan mengurangi subsidi secara besar-besaran. Padahal jika ditinjau kembali, menaikkan harga BBM dan mengurangi subsidi tidak menyelesaikan permasalahan ini sama sekali, malah menambah beban rakyat karena kenaikan ini berimbas terhadap semua sektor perekonomian Indonesia. Dan parahnya lagi, ketika harga BBM naik, pemerintah tidak dapat mengontrol sektor perekonomian lain seperti harga sembako, biaya transportasi kendaraan umum, dan lain sebagainya. Pemerintah seakan membiarkan rakyat tercekik dengan kenaikan harga BBM sambil tenggelam di dalam banyaknya kenaikan sektor perekonomian lain.

            Langkah penghematan BBM juga sering digalakkan oleh pemerintah dalam menuntaskan permasalahan ini padahal penghematan bukanlah solusi yang tepat karena penghematan tidak akan menambah pasokan BBM, hanya bisa memperlambat habisnya pasokan BBM. Dampak dari penghematan ini juga hampir sebanding dengan biaya yang dihemat oleh pemerintah. Sehingga penghematan, menaikkan harga, dan mengurangi subsidi BBM bukan merupakan solusi tepat dalam menyelesaikan masalah ini. Rakyat butuh kepastian, kepedulian, dan keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan yang telah mengakar sangat dalam ini. Pemerintah seharusnya lebih serius lagi melihat akar permasalahan BBM ini karena jumlah kebutuhan BBM yang sangat tinggi dan ini merupakan masalah yang benar-benar ‘urgent ‘.

            Terdapat beberapa jurus jitu dalam menuntaskan permasalahan BBM di Indonesia yang dapat dijadikan pertimbangan oleh Pemerintah dan solusi tepat bagi rakyat.

            Pertama, menggalakkan naik kendaraan umum seperti bis. Berdasarkan data statistik banyak kendaraan bermotor yang menggunakan BBM karena fasilitas pelayanan publik yang sangat sedikit dan kurang nyaman.

            Kedua, menurunkan ongkos produksi BBM dengan memaksimalkan fungsi Pertamina  untuk memproduksi BBM serta memutus mata rantai pembelian BBM melalui pasar sekunder.

            Ketiga, meninjau ulang subsidi BBM kepada rakyat yang kurang mampu karena sebenarnya subsidi BBM merupakan langkah bantuan yang tidak tepat sasaran. Hampir 92% subsidi BBM dirasakan oleh masyarakat yang tidak layak menerima subsidi, sedangkan 8% lagi baru dirasakan oleh masyarakat yang kurang mampu. Sebaiknya, pemerintah lebih cermat lagi dalam pemberian subsidi ini, subsidi BBM seharusnya diganti dengan subsidi berobat, sekolah, melahirkan, atau dibebaskan dari pajak dan tetap diawasi jalannya subsidi agar subsidi benar – benar membantu masyarakat kurang mampu dan tepat sasaran.

            Keempat, meluruskan kembali paradigma bahwa seluruh sumber daya alam yang ada di wilayah Indonesia hanya boleh dikuasai oleh negara, bukan asing atau swasta. Salah satunya minyak bumi. Serta meninjau kembali dan memperbaiki tata kelola energi yang ada di Indonesia.

            Kelima, menekankan konversi energi BBM ke gas alam dan energi baru terbarukan. Pemerintah seharusnya lebih berorientasi kepada mencari energi baru yang dapat diperbarui dengan mudah dan memanfaatkan energi yang benar-benar melimpah di Indonesia seperti gas bumi. Pemerintah seharusnya menggenjot pembangunan pabrik biodiesel, bioetanol, infrastrutur penerima gas, dan jaringan transmisi gas, bukannya sibuk mengimpor BBM. Kita dapat megambil contoh biodiesel, biodiesel merupakan BBM yang dapat digunakan pada kendaraan bermotor tanpa pengubahan spesifikasi mesin. Kita dapat menjadikan biodiesel sebagai produk unggulan karena Indonesia salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Selain kelapa sawit, pemeritah juga dapat mengembangkan bioetanol sebagai bahan bakar pengganti bensin. Pemerintah dapat memanfaatkan jutaan hektar hutan yang terbakar menjadi lahan produksi aren, ubi kayu, tebu, dan bahan baku etanol lainnya.

            Pemerintah juga harus memfokuskan diri terhadap penelitian anak bangsa mengenai bioenergi ini demi kelangsungan BBM di Indonesia. Indonesia seharusnya mulai bergerak dalam langkah konversi energi BBM ke gas alam dan bioenergi agar Indonesia mampu mengikis harga BBM dengan tidak tergantung harga BBM dunia karena diproduksi sendiri, mengurangi penggunaan energi konvensional yang akan habis dalam waktu dekat, dan bahkan menjadi raksasa bioenergi di dunia dengan mengekspor bioenergi karena yang seperti yang kita ketahui bahwa sumber daya alam sebagai bahan baku bioenergi sangat melimpah di Inonesia.

            Saya berharap jurus-jurus diatas dapat membantu menuntaskan permasalah pelik BBM di Indonesia karena menaikkan harga dan penghematan BBM bukan merupakan solusi yang tepat guna. Harapan seluruh rakyat Indonesia kepada Pemerintah Indonesia adalah keterbukaan terhadap permasalahan yang dihadapi Bangsa Indonesia  sehingga dengan keterbukaan tersebut rakyat Indonesia akan sama-sama berusaha serta bersinergi membangun Indonesia yang lebih baik.

Profil Penulis
Erika Sisilia
Author: Erika Sisilia
Mengenai Penulis