Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya alam yang berlimpah. Berdasarkan sifatnya, sumber daya alam dapat dibagi menjadi tiga, yaitu sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable), sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable), dan sumber daya alam yang tidak habis (Pratiwi dkk,2000). Salah satu contoh dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable) yaitu hasil tambang berupa minyak bumi. Minyak bumi dan kehidupan sosial kita layaknya gula dan semut yang tak terpisahkan. Hal ini dikarenakan produk dari hasil pengolahan minyak bumi itu sendiri sangatlah beragam dan pemanfaatannya yang cukup luas yang sangat dibutuhkan untuk menunjang keseharian hidup umat manusia, contohnya bensin. Bensin merupakan salah satu produk hasil pengolahan minyak bumi yang dibutuhkan sebagai bahan bakar kendaraan Di jaman sekarang hampir setiap keluarga mempunyai kendaraan yang tentu saja membutuhkan bahan bakar seperti bensin, maka tak heran jika permintaan akan bensin ini meningkat setiap tahunnya yang berarti bahwa permintaan akan minyak bumi juga melonjak naik. Namun karena sifatnya yang tidak dapat diperbaharui menyebabkan ketersediaan minyak bumi semakin menipis. Menurut data dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), cadangan terbukti minyak bumi Indonesia (per tahun 2018) hanya sebesar 3,1 miliar barel dan semakin menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat para ilmuwan tergerak untuk menemukan sumber daya lain yang dapat menggantikan minyak bumi sebagai bahan baku utama bensin sehingga dibuatlah bioetanol. Dinilai dari karakteristiknya, bioetanol dapat digunakan sebagai alternative lain dari bensin karena memilliki karakteristik yang sama dengan bensin. Namun, karena beberapa faktor, perkembangan dari produksi serta pemanfaatannya sebagai bahan bakar masih  terbilang sedikit.

Tabel Data Cadangan Minyak Bumi (Menurut Kementerian ESDM)

http://statistik.migas.esdm.go.id/index.php?r=cadanganMinyakBumi/index
http://statistik.migas.esdm.go.id/index.php?r=cadanganMinyakBumi/index

 

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa bensin merupakan salah satu produk hasil pengolahan minyak bumi yang tersusun dari hidrokarbon rantai lurus dengan komponen utamanya berupa oktana dan n-heptana. Komposisi kimia bensin terdiri dari senyawa hidrokarbon tak jenuh (olefin), hidrokarbon jenuh (parafin) dan hidrokarbon siklik atau hidrokarbon aromatic (Permana,2010) Bensin di dapat dari hasil destilasi minyak mentah pada temperatur 35-75oC. Semua bahan bakar yang disebut dengan bensin umumnya terdiri dari hidrokarbon, dengan atom karbon berjumlah antara 4 (disebut C4) sampai 12 ( disebut  C12). Bensin digunakan sebagai bahan bakar pada pembakaran di dalam mesin kendaraan karena  memiliki kemampuan untuk menguap pada suhu yang rendah. Ketika bensin dibakar di dalam mesin kendaraan seharusnya hanya dihasilkan CO2 dan H2O sebagai hasil dari pembakaran sempurna, namun kenyataanya  pembakaran bensin juga melepaskan berbagai zat yang dapat mengakibatkan pencemaran berupa CO2, CO, NOx, dan lain-lain. Zat-zat ini dapat menyebabkan berbagai masalah seperti pencemaran udara, ozon, gas rumah kaca yang menyebabkan global warming. Ketersediaannya di bumi semakin sedikit karena jumlah bahan bakunya yang semakin menipis dan belum ditemukannya sumur migas yang baru.

Oleh karena alasan-alasan inilah, para ilmuwan sekarang sedang berusaha untuk mengganti bahan bakar bensin dengan bahan bakar yang dapat diperbaharui dan yang lebih ramah lingkungan. Contohnya adalah penggunaan bahan baku alami berupa gula (glukosa), pati, dan selulosa yang dapat menghasilkan produk berupa bioetanol. Dalam perkembangannya, produksi bioethanol yang paling banyak digunakan adalah metode fermentasi dan destilasi (Rahmawati,2010). Fermentasi dimaksudkan  untuk menghasilkan alkohol dengan kadar rendah. Untuk meningkatkan kadar etanol hingga mencapai Fuel Grade Ethanol (FGE) 99.5% dibutuhkan proses penyulingan (distillation) dan dehidrasi (dehydration). Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan bermotor bervariasi antara blend hingga bioetanol murni. Pertamina telah menjual biopremium (E5) yang mengandung bioetanol 5% dan premium 95% sedangkan E100 untuk bioetanol 100% atau tanpa campuran. Bio ethanol disebut- sebut sebagai pengganti bensin dikarenakan mempunyai nilai kalor atau panas yang lebih rendah dibandingkan premium. “Tulisan ini juga dimuat di website https://theatmojo.com/energi/bioetanol-bahan-bakar-nabati/ “

Sejatinya, baik bioetanol maupun bensin merupakan bahan bakar yang baik bagi kendaraan. Tapi jika ditinjau dari beberapa aspek, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Bioetanol sendiri mampu mengurangi emisi gas beracun (CO dan HC) yang umum ditemukan pada pembakaran bensin Namun sayangnya justru emisi NOx lebih tinggi dibandingkan pembakaran bahan bakar premium. Dalam bentuk persentase, pembakaran bioetanol (E100) mengurangi sekitar 45% emisi karbon dioksida dibandingkan pembakaran oktana. Bioetanol dengan kandungan 100% memiliki nilai oktan (octane) RON 116 – 129, yang relatif lebih tinggi dibandingkan bahan bakar premium dengan nilai oktan RON 88. Karena nilai oktan yang tinggi, bioetanol dapat digunakan sebagai pendongkrak oktan (octane booster) untuk bahan bakar beroktan rendah. Nilai oktan yang lebih tinggi pada bioetanol juga berpengaruh positif terhadap efisiensi dan daya mesin. Bioetanol juga merupakan sumber energi terbarukan yang berarti bahwa persediaan bioetanol ini tidak terbatas seperti bahan bakar fossil. Tetapi karena proses yang terbilang sulit dan hasil yang sangat murni membuat bioetanol sulit dipasarkan dengan harga rendah. Bahan bakunya yang dapat berupa singkong ini juga menjadi penghalang dari perkembangan bioetanol itu sendiri. Hal ini disebabkan karena produksi bioetanol dari singkong meliputi proses yang panjang dan juga penggunaan enzim sebagai bahan tambahan yang ketersediaannya terbatas dan harganya yang terbilang mahal. Selain itu, jika dibandingkan dengan pabrik tepung tapioka yang bahan bakunya sama-sama menggunakan singkong tetapi prosesnya jauh lebih sederhana dan harga jualnya tinggi membuat pabrik bioetanol tidak dapat bersaing dengan pabrik tepung tapioka.

Perkembangan bioetanol di Indonesia masih terkendala karena beberapa faktor seperti  yang telah disebutkan di atas. Tapi, meskipun pada masa ini bioetanol belum dapat sepenuhnya mengatasi masalah ketergantungan umat manusia akan bahan bakar fossil, saya yakin bahwa kelak dimasa yang akan datang minat akan bioethanol sebagai energi terbarukan pengganti bahan bakar bensin dapat semakin meningkat. Bukan hanya karena ketersediaan bahan baku pembuatan bahan bakar bensin yang semakin terbatas tetapi juga demi masa depan anak cucu kita yang bebas dari pencemaran udara dan efek gas rumah kaca. Untuk itu, masih diperlukan banyak penelitian untuk menciptakan produksi bioetanol dengan proses yang sederhana dan biaya produksi yang rendah sehingga akhirnya harga jual dari bioetanol juga akan rendah dan cukup untuk menarik minat dari masyarakat umum. Dukungan dari pemerintah dan industri terkait juga sangat diharapkan.

Profil Penulis
Marettauli Situmorang
Author: Marettauli Situmorang
Mengenai Penulis