Indonesia dikenal sebagai negara agraris sejak dulu. Hasil pertanian dan perkebunan menjadi salah satu roda penggerak ekonomi negara. Selain itu ada juga hasil tambang, minyak bumi dan mineral yang tersembunyi dibagian bawah permukaan tanah dan laut Indonesia. Itulah yang menjadi alasan mengapa Indonesia menjadi salah satu negara yang dijajah oleh negara lain. Hasil hasil alam inilah yang biasa menjadi bahan baku utama dalam produksi-produksi kebutuhan sandang, pangan, papan dunia dan kebutuhan lainnya. Dari tahun ke tahun, angka kebutuhan masyarakat akan minyak dan gas menunjukan peningkatan, sehingga perintah dan perusahaan minyak di Indonesia harus bekerja ekstra untuk mensuplai kebutuhan minyak dan gas didalam maupun luar negeri.

Namun seperti yang kita ketahui persediaan minyak yang ada dibawah permukaan bumi itu terbatas dan tidak dapat diperbarui. Ketersediaan hasil tambang seperti batubara juga kian menipis. Di tahun 1991 Indonesia memiliki 5,9 miliar barel cadangan minyak namun jumlah ini telah menurun menjadi 3,7 miliar barel pada akhir 2014. Persedian ini akan terus menurun bila Indonesia belum menemukan cadangan minyak yang baru, dimana yang tadinya 800.000 barel per hari (bph) menjadi 700.000 bph ditahun-tahun selanjutnya. Dengan data-data tadi seharusnya kita sudah bisa mulai menggunakan energi baru yang lebih ramah lingkungan dan murah demi menyelematkan kehidupan dan mengurangi ketergantungan terhadap hasil bumi yang tidak dapat diperbarui. Ditahun-tahun seperti sekarang ini ada bahkan banyak yang lebih dulu menemukan pengganti minyak bumi sebegai bahan bakar yang kita sebut sebagai Energi Baru dan Terbarukan diantaranya matahari, air, angin, biofuel dan biomassa.

Sebagai orang-orang yang berada dalam lingkup teknik kimia kita semua dituntut untuk melakukan seluruh pekerjaan seefisien mungkin. Naah, dari energi baru dan terbarukan inilah seharusnya kita mulai, bahan yang diperlukan pun mudah di dapat. Contohnya membuat biomassa. Dimana Biomassa, dalam industri produksi energi, merujuk pada bahan biologis yang hidup atau baru mati yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar atau untuk produksi industrial. Umumnya biomassa merujuk pada materi tumbuhan yang dipelihara untuk digunakan sebagai biofuel, tetapi dapat juga mencakup materi tumbuhan atau hewan yang digunakan untuk produksi serat, bahan kimia, atau panas. Biomassa dapat pula meliputi limbah terbiodegradasi yang dapat dibakar sebagai bahan bakar. Biomassa tidak mencakup materi organik yang telah tertransformasi oleh proses geologis menjadi zat seperti batu bara atau minyak bumi. Ingat Indonesai adalah negara agraris dan bahan yang digunakan berarti bisa dari sampah makanan dan kegiatan kita sehari-hari.

Dari biomassa inilah kita bisa mendapatkan biofuel untuk menggantikan fungsi minyak pada transportasi yang digunakan. Yang menarik dari biomassa adalah kebersihannya. Pengelolaan migas dan batu bara biasanya masih menyisakan residu yang menyebabkan fenomena efek rumah kaca. Sementara, pengelolaan biomassa tidak menyisakan apapun. Bahkan, gas buangan pengelolaan bisa dimanfaatkan sebagai biogas. Sejauh ini, pemanfaatan biomassa berhasil mengurangi sebanyak 4,49 juta ton CO2 gas rumah kaca. Tetapi sungguh miris ketika sampah-sampah itu malah dibakar dan mengakibatkan kadar CO2 di udara meningkat, belum lagi zat-zat kimia lainnya yang terkandung di dalam sampah tersebut. Semua itu  dapat menyebabkan pencemaran udara, bahkan sampah yang dibiiarkan dilingkungan kita akhirnya terserat air dan menyebabkan pencemaran di sungai dan laut. Alangkah baiknya sampah-sampah itu mulai kita olah menjadi biomassa, sekaligus untuk  mengurangi sampah di lingkungan sekitar. Selain sampah, bisa juga menggunakan kelapa sawit. Lahan perkebunan kelapa sawit sendiri cukup besar di Indonesia dan merupakan hasil kebun yang paling banyak dan bisa digunakan untuk membuat biofuel. Tercatat bahwa kelapa sawit dapat memberikan energi sebesar 12,6 GW. Tidak perlu menunggu pemerintah untuk mensosialisasikannya. Jika kita mencintai bumi dan lingkungan sekitar kita, kita harus mulai untuk mempersiapkan diri jika nantinya minyak bumi mulai langka. Paling tidak kita membantu pemerintah untuk mendapatkan minyak baru dengan kualitas terbaik. Mari mulai dengan sampah yang tadinya tidak berguna menjadi bermanfaat. Mari sediakan lahan untuk menanam kelapa sawit lebih banyak. Lebih baik siapkan lahan untuk menanam lebih banyak, daripada terus menggali untuk hasil yang tidak dapat diperbarui. Jangan sampai kita semua tidak siap, jangan sampai menggali untuk mati.

Profil Penulis
Dyra Prabaswara
Author: Dyra Prabaswara
Mengenai Penulis