Green Energy Bahan Bakar Renewable Resources Untuk Generasi Masa Depan

Oleh Silvia Ramadhanty

03031181722027

(foto: Dok ekpor sawit PTPN VI)

              Indonesia menjadi surga dari berbagai macam plasma nutfa . Lagu koep plus era 70an yang berjudul “Kolam Susu” menggambarkan bahwa tanah air Indonesia memiliki sumber daya alam hayati dan non hayati yang melimpah. Dengan jumlah yang banyak sampai tak terhitung lagi besarnya kekayaan alam di Indonesia dari sabang sampai merauke. Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas lautan yang luas menjadi sumber aktivitas masyarakat Indonesia untuk bertahan hidup. Agar tidak sia-sia maka sumber daya yang melimpah tersebut harus diolah menjadi barang yang bernilai tinggi. Salah satu hasil olahan yaitu dalam bentuk energi untuk kehidupan manusia.

Dari kekayaan tersebut banyak yang bisa dijadikan energi  yang layak dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia. Energi ini terdiri dari energi terbarukan dan energi tak terbarukan. Menurut Wikipedia energi terbarukan merupakan energi yang berasal dari "proses alam yang berkelanjutan", seperti tenaga suryatenaga anginarus air proses biologi, dan panas bumi, sedangkan energi tak terbarukan adalah  energi yang diperoleh dari sumber daya alam yang waktu pembentukannya sampai jutaan tahun (dikutip dari Wikipedia, 2018).

Dikatakan tak terbarukan karena, apabila sejumlah sumbernya dieksploitasikan, maka untuk mengganti sumber sejenis dengan jumlah sama, baru mungkin atau belum pasti akan terjadi jutaan tahun yang akan datang. Hal ini karena, disamping waktu terbentuknya yang sangat lama, cara terbentuknya lingkungan tempat terkumpulkan bahan dasar sumber energi inipun tergantung dari proses dan keadaan geologi saat itu.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi energi terbarukan (renewable energi) yang sangat melimpah. Sayangnya sumber-sumber energi terbarukan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Namun sejak tahun 2000-an mulai banyak penemuan yang berkaitan dengan energi hijau. Menurut Soemarno (2012) Energi hijau merupakan energi yang bertumpu pada energi yang terbarukan untuk menggantikan minyak fosil (batubara, minyak dan gas alam) serta konservasi energi menuju penggunaan energi yang efisien. Salah satu bentuk hasil dari energi hijau seperti biofuel (Heyko, E, 2016) . Pemerintah juga telah mendukung untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak. Selain itu telah banyak perusahaan pertambangan dan energi berlomba-lomba untuk menciptakan inovasi energi hijau ini.

Salah satu perusahaan pertambangan nasional Indonesia, Pertamina RU 3 Plaju misalnya menciptakan inovasi green energi berupa mengolah minyak kelapa sawit CPO (crude palm oil) menjadi bahan bakar minyak (BBM). Prosesnya dengan mencampurkan residu  kelapa sawit atau bagian lain dari ke bahan bakar yaitu VGO (vaccum gas oil) dari reisidual minyak bumi. Inovasi ini tentu akan membawa dampak yang positif bagi lingkungan. Hal ini juga merupakan sebuah jawaban tantangan dunia agar bisnis migas mulai bepindah dari sumber energi fosil menuju ke green energi. Dengan adanya green energi ini, Indonesia dapat menghemat kas Negara hingga 2,3 trilliun dan mengurangi konsumsi impor minyak bumi hingga 7,36 ribu barel per hari (Pertamina, 2018). Selain itu penggunaan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar dapat mengurangi polusi. Indonesia menjadi Negara pertama yang memperkenalkan dan mengimplementasikan Co-Processing CPO menjadi green gasoline dan green LPG. Serangkaian uji coba dilakukan dan hasilnya cukup menggembirakan karena bisa memproduksi bahan bakar ramah lingkungan dengan octane number yang cukup tinggi Untuk kebutuhan CPO yang banyak untuk memproduksi biofuel Pertamina Plaju telah bekerja sama dengan perusahaan PTPN III dan RNI (Indrawan,Rio, 2019).

CPO merupakan biomassa yang mengandung lignoselulosa yang bisa dikonversi menjadi bahan bakar cair melalui proses co-prosessing pirolisis cepat. Konversi CPO menjadi gasoline juga lebih besar dibandingkan HDO. Namun pada proses co-prosessing, CPO sedikit sulit untuk di proses karena kurangnya reaktif selama masa cracking. Berdasarkan sumber penelitian Thegarid , untuk mencampurkan CPO dengan VGO ada syaratnya yaitu CPO bisa di co-prosseing dengan VGO di dalam FCC unit dengan tanpa adanya upgrading tambahan dalam proses jika jumlah bio-oil yang ditambahkan persen berat nya sekitar 20 wt% , menggunakan FCC katalis, operasi pada temperature tinggi sekitar 500℃ (Thegarid,N.,dkk.2013).

Berdasarkan sumber dari Badan Pusat Statistik hingga tahun 2017 Indonesia merupakan Negara produsen CPO terbesar di dunia. Dibuktikan dengan peningkatan nilai ekspor hingga 15.385,3 ton/tahun (BPS, 2017). Dengan adanya sumber energi bahan bakar CPO ini diharapkan Indonesia nantinya dapat terbebas dari berbagai dampak polusi lingkungan, menghemat kas Negara, mengurangi impor minyak bumi, dan bahan bakar yang dijual tetap terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

Sebagai seorang mahasiswa sudah seharusnya kita berpikir kritis untuk menciptakan inovasi dan pembaharuan energi alternatif terbarukan berkelanjutan untuk masa depan yang berfokus pada ketahanan lingkungan seperti meminimalkan pencemaran udara, pemanasan global, serta degradasi lingkungan, dan tidak mengimpor bahan bakar namun justru melakukan ekspor bahan bakar.

 

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. 2017. “Ekspor Minyak Kelapa Sawit Menurut Negara Tujuan Utama 2000-2015”. Http://www.bps.go.id/statictable/2014/09/08/1026/ekspor-minyak-kelapa-sawit-menurut-negara-tujuan-utama-200-2015.html. (Diakses pada tanggal 15 April 2019).

Heyko, E.,dkk.2016. “Strategi Pemanfaatan Energi Terbarukan Dalam Rangka Kemandirian Energi Daerah Provinsi Kalimantan Timur”. Inovasi: Jurnal Ekonomi Keuangan, dan Manajemen, Volume 12, (1), 2016. ISSN online: 2528-1097.

Indrawan,Rio.2019. ”Green Refinery Plaju dan Dumai Akan Serap 15 Juta Ton CPO Per Tahun”. http://www.dunia.energi.com/green-refinery-plaju-dan-dumai-akan serap-15-juta-ton-cpo-per-tahun/. (Diakses pada tanggal 15 April 2019).

Pertamina.2018. ”Pertamina Olah CPO Menjadi Green Gasoline dan Green LPG, Hemat Devisa USD 160 Juta/Tahun”. http://www.pertamina.com/id/news-room/news-release/pertamina-olah-cpo-menjadi-green-gasoline-dan-green-lpg-hemat-devisa-usd-160-juta-tahun. (Diakses pada tanggal 15 April 2019).

Thegarid,N.,dkk.2013.”Second-Generation Biofuels By CO-Processing Catalytic Pyrolysis Oil In FCC Units”. Applied Catalysis: B: Environtmental.

Wikipedia.2018. ”Energi Ramah Lingkungan”. http://id.m.wikipedia.org/wiki/Energi_ramah_lingkungan. (Diakses pada tanggal 15 April 2019).

Profil Penulis
Silvia Ramadhanty
Author: Silvia Ramadhanty
Mengenai Penulis