KEBOCORAN PADA PENGEBORAN MINYAK BUMI

      Berdasarkan teori, minyak bumi terbentuk dari proses pelapukan jasad renik (mikroorganisme) yang terkubur di bawah tanah sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Dimana dua ratus juta yang lalu bumi lebih panas dibandingkan sekarang. Laut yang didiami jasad renik berkulit keras sangat banyak jumlahnya jika jasad renik itu mati, kemudian membusuk sehingga jumlahnya makin lama makin menumpuk, kemudian tertutup oleh sedimen, endapan dari sungai, atau batuan-batuan yang berasal dari pergeseran bumi. Di sini kemudian terjadi pembusukan oleh bakteri anaerob, dan akibat pada tekanan tinggi sedimen, maka setelah berjuta-juta tahun terbentuklah minyak bumi dan gas alam tersebut.Karena proses pembentukan minyak bumi memerlukan waktu yang lama, maka minyak bumi digunakan pada sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable). (Menurut Fatihan,2006).

      Hasil pengolahan minyak bumi  dapat dimanfaatkan di bidang industri untuk memproduksi beberapa produk kimia seperti cat minyak, cat dinding, cat mobil dan cat kayu. Minyak bumi juga dimanfaatkan untuk menghasilkan polimer yang digunakan di industri plastik. Manusia sangat bergantung dengan plastik  dalam kehidupan sehari-hari sebagai tempat untuk meletakkan benda.

      Dilansir dari berita www.BBC.com, sejak tahun 1850 kita telah memanfaatkan lebih dari 135 milyar ton minyak bumi, dan akan terus bertambah di kemudian hari. Di sisi lain, persediaan minyak bumi semakin lama semakin berkurang. Hal tersebut mencerminkan seberapa penting minyak bumi berperan dalam kehidupan kita. Sumber minyak bumi dapat ditemukan di bawah permukaan yang berbentuk kubah biasanya di darat (yang dulunya lautan) atau di lepas pantai, setelah itu dilakukan pengeboran dengan cara menanam jalur pipa di dasar laut dan memompa minyak tersebut ke daratan atau dengan cara lainnya yakni membuat anjungan di minyak bumi dan selanjutnya dibawa oleh kapal tanker menuju daratan.

    Namun, pada praktiknya, saat dilakukan pengeboran pada  tempat pengeboran dan kilang minyak sangat rawan terjadinya kebocoran sehingga dapat menyebabkan ledakan dan menimbulkan kebakaran besar. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kebocoran seperti :

  1. Pengeboran yang tidak sesuai dengan prosedur (illegal)

Prosedur yang baik tentu memiliki kriteria tertentu dengan standarnya masing-masing. Namun pada kenyataannya,ada beberapa pihak tidak mengikuti kriteria tersebut. Dilansir dari  www.ekonomi.bisnis.com  , banyak yang menggunakan peralatan yang tidak sesuai standar, penggunaan peralatan advance di luar persetujuan Pertamina EP, menambah koordinat pengeboran, penyimpangan delivery order, dan penyerahan minyak ke pihak selain negara.

  1. Pipa terhantam benda keras dan bencana alam

Gangguan dari luar ataupun terjadinya bencana alam dapat mempengaruhi tanah yang ada di bawah permukaan. Maka dari itu, pipa yang digunakan untuk pengeboran minyak bumi haruslah sesuai dengan standar yang ada, sehingga ketika terjadi gangguan dari luar terhadap pipa diharapkan pipa tersebut dapat tahan terhadap kebocoran ataupun kerusakan lainnya.

  1. Kesalahan manusia (human error)

Teknisi yang ada harus paham dengan mekanisme pengeboran. Terutama dalam menentukan titik pengeboran yang tepat sehingga tidak merusak struktur di bawah permukaan tanah dimana ada tidaknya bahan yang berbahaya.

     Berkaitan dengan hal tersebut, kita dapat mengetahui bahwa pengeboran minyak bumi sangat rentan akan terjadinya kebocoran. Maka dari itu, agar  berjalan dengan lancar tanpa mencemari lingkungan dan merugikan orang banyak, ada beberapa aspek yang harus dilakukan terhadap pengeboran minyak bumi yaitu :

  1. Memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada para pekerja

Penyuluhan sangatlah penting diberikan kepada para pekerja, terutama yang baru mengenal bidang yang bersangkutan. Sehingga para pekerja tersebut mendapatkan bekal berupa teori yang berhubungan dengan pengeboran minyak bumi tersebut. Selanjutnya praktiknya dilakukan pada pelatihan dasar, hal ini diharapkan agar para peserta tidak gugup ketika melakukan pekerjaan tersebut dan dapat terbiasa dengan hal yang bersangkutan.

  1. Meningkatkan peraturan sesuai dengan SOP yang ada dan ketentuan yang berlaku.

SOP atau Standard Operating Procedure menjadi suatu petunjuk dan acuan untuk setiap pekerjaan yang ada. Logikanya, pekerjaan akan maksimal jika mengikuti SOP tersebut. Maka dari itu, SOP wajib dipatuhi. Namun, kenyataan di lapangan, banyak SOP yang diturunkan standarnya atau bahkan sengaja di lewatkan, sehingga pengeboran pada pipa minyak bumi sangat rentan terjadi. Selain itu, pipa yang digunakan untuk pengeboran juga harus sesuai dengan standar yang ada, yakni menggunakan standar American Petroleum Institute (API). Seperti besi yang digunakan tidak boleh berkarat, dan lain sebagainya. Hal ini tentu sangat disayangkan. Memang tujuannya untuk menghemat ataupun ada unsur korupsi, tetapi pada akhirnya akan sangat merugikan bila terjadi kebocoran di pipa tersebut.

  1. Terlibatnya pemerintah dalam pengawasan dan pemeriksaan terkait pengeboran yang ada.

Sesuai dengan aturan yang berlaku, pemeriksaan operasional pipa dilakukan setiap lima tahun sekali. Tentunya pemerintah dan pihak yang memegang aset minyak bumi tersebut haruslah saling berkoordinasi, baik itu pihak yang memegang aset minyak bumi rutin dalam melapor kepada pemerintah dan juga sebaliknya, pemerintah rutin mengecek kenyataan di lapangan. Jangan sampai tidak ada sinkronisasi di dalamnya, sehingga pada akhirnya kebocoran pipa dapat dicegah dan diminimalisir.

     Manusia pada dasarnya sangat bergantung pada penggunaan minyak bumi. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari yakni, pada saat kita memasak dengan LPG sebagai bahan bakar untuk kompor. Adapun contoh lainnya pada saat kita berpergian menuju suatu tempat menggunakan transportasi, dengan minyak bumi sebagai bahan bakar transportasi tersebut dan bahkan aspal, tempat dimana transportasi tersebut berjalan, juga merupakan hasil residu dari pengolahan minyak bumi juga. Dengan kata lain, minyak bumi sangat susah untuk dipisahkan dari kehidupan manusia. Maka dari itu, sangat disayangkan apabila terjadi kebocoran pipa terhadap minyak bumi. Tentunya, jika kita bersama-sama mengingat pentingnya minyak bumi, maka pasti tidak akan ada pelanggaran yang terjadi dan kebocoran minyak bumi akan dapat diminimalisir atau bahkan diatasi.

Profil Penulis
Anita Zulhadj Damayanti
Author: Anita Zulhadj Damayanti
Mengenai Penulis